
"Sa, ngomong-ngomong, gimana soal uang investasi yang dibawa lari si Novi? Lu kok kayaknya santai aja." Stevi kembali membuka pembicaraan setelah makanan mereka habis.
"Ya terus gue harus gimana? Nangis? Apa itu bisa balikin duit bokap gue?" Salsa menyandarkan tubuhnya ke badan kursi sambil menghela nafas panjang. Sejujurnya dia tidak ingin mengingatnya lagi.
"Iya sih, lagian bokap lu kan banyak duit. Lu aja sering dikasih jajan."
"Nah itu lu tau."
"Tapi serius bokap lu nggak marah karena ketipu? Duit itu bisa buat jalan-jalan ke luar negeri, lho." Stevi masih penasaran.
"Nggak, bokap gue bilang nggak papa, ini ujian. Yang penting ke depannya lebih hati-hati aja milih bisnis. Jangan ketipu meski sama teman sendiri."
"Nyokap lu tau nggak soal ini?"
"Nggak tau. Yang tau itu gue sama bokap. Kalau nyokap tau, bakalan berabe urusannya."
"Syukurlah kalo nyokap lu nggak tau."
"Udahlah, bahas yang lain aja. Nggak mood gue gara-gara keinget duit yang dibawa lari Novi." Salsa menatap kesal Stevi yang memang memiliki sifat selalu ingin tahu urusan orang.
"Hai, kalian berdua aja?" Dua orang pria datang dan menyapa mereka.
"Iya, kenapa, Mas?" tanya Salsa yang berpura-pura membenarkan rambutnya yang terurai panjang.
Kedua pria terlihat sangat tampan dan bergaya elit.
"Kita boleh gabung, nggak? Soalnya nggak ada meja kosong."
"Boleh, duduk aja."
"Makasih." Dua pria itu pun duduk bersama mereka dan menunggu pesanan datang.
"Kenalin, gue Doni. Dan ini temen gue Aldo."
"Gue Salsa, dan ini Stevi."
"Kalian kok berdua aja? Pacar kalian mana?" tanya Doni.
__ADS_1
"Nggak ada, kita jomblo," sahut Salsa asal. Stevi masih memiliki pacar, namun sedang dalam masa LDR. Sedangkan Salsa baru putus dengan pacarnya dua minggu yang lalu.
"Wah, sayang banget cantik-cantik malah jomblo. Mending sama kita aja," ujar Aldo sambil tersenyum nakal.
"Lu kerja apa?" tanya Stevi yang memang selalu ceplas-ceplos.
"Kita kerja di PT Ambyar sebagai manager."
"Hah? Manager? Serius?"
"Iya, serius."
"Wah, sempurna banget. Udah ganteng, kerjanya mapan, lagi." Salsa berdecak kagum pada kedua pria itu.
Makanan yang kedua pria itu pesan pun sudah datang. Makanan terlihat sangat enak karena mereka memesan menu termahal dengan jumlah yang banyak.
Selesai makan, Aldo pun pergi ke toilet karena sakit perut. Sedangkan Doni masih menunggu bersama mereka.
"Kalian cantik-cantik gini kerja apa sih? Jadi brand ambassador kosmetik, ya?"
"Enggak, ah. Gue nggak kerja. Kalo si Stevi ini kerja di kantor camat."
"Ah lu bisa aja." Salsa tersipu malu.
"Eh, Aldo kok lama, ya. Padahal kita mau pergi ke pesta kantor. Bentar, ya, gue mau susulin ke toilet. Tapi aku bayarin makanan ini dulu ya. Nanti kalau kasirnya tanya, bilang aja iya." Doni pun beranjak pergi ke kasir sebelum menyusul temannya ke toilet. Dia berbicara dengan kasir.
Tak lama kemudian, kasir itu menoleh ke mereka dan seperti memberikan pertanyaan dengan isyarat tangan yang diputar-putar. Seolah mengatakan apakah semua makanan yang ada di meja mereka dibayar jadi satu oleh Doni?
Mereka langsung menganggukkan kepala. Doni pun segera pergi ke toilet. Namun, setengah jam menunggu, kedua pria itu tak kunjung datang. Hingga seorang waiter datang dan memberikan tagihan, mereka terkejut karena makanan Aldo dan Doni masuk ke tagihan mereka. Belum lagi banyak makanan yang dibungkus dan dibawa pulang oleh dua pria itu.
"Mbak, bukannya tadi udah dibayar?" tanya Salsa kaget.
"Maaf, Mbak, tapi kata Mas nya tadi, semua makanan yang ada di meja dan juga makanan yang masnya tadi bawa pulang dibayar oleh Mbak. Makanya tadi saya tanya apakah semua makanan yang ada di meja Mbak yang bayar? Terus Mbak mengangguk, makanya saya datang ke sini membawa tagihan."
"Duh, kayaknya kita dikibulin sama dua orang itu deh." Stevi menepuk dahinya.
"Terus gimana dong. Tagihannya banyak banget. Mereka mesen makanan buat dibawa pulang kayak ngasih makan orang sekampung. Lihat nih, tagihannya satu juta lebih!" Salsa mendengkus kesal.
__ADS_1
"Ya udah, pakai duit lu aja. Duit gue cuma dua ratus ribu, nih." Stevi mengeluarkan uang senilai dua ratus ribu pada Salsa.
"Ih, lu gimana sih, nggak modal banget." Salsa menyambar uang itu dan mengeluarkan dompetnya. Ini adalah uang jajannya selama satu minggu karena sejak ada yang kerja di rumahnya, terlebih lagi dirinya yang viral, ibunya memaksa ayahnya untuk memotong uang jajannya.
Salsa menyodorkan sejumlah uang pada waiter untuk membayar tagihan mereka. "Kalau gini gue mana bisa jajan lagi!"
"Ya lu sih main iya iya aja. Rupanya dua cowok itu cuma mau numpang makan. Ganteng doang, bayar makanan sulit!"
"Udah, ah, gue makin bete. Pulang aja yuk!" Salsa mengajak Stevi pulang karena perasaannya semakin kesal. Bisa-bisanya dia tertipu oleh pria tadi. Tampaknya penampilan dan tampang tidak menjamin kualitas seseorang.
Dia melanjukan sepeda motornya melintasi jalanan menuju ke rumahnya. Sesampainya di rumah, terlihat beberapa tetangga yang dia lewati sedang berbisik tentangnya.
"Eh, itu anaknya Pak Ramli yang dugem di club malam, kan? Ya ampun, kelakuannya udah mencoreng keluarganya sendiri."
"Iya, kalau saya punya anak kayak gitu pasti saya malu banget. Pake baju seksi, mabuk-mabukan, pasti udah nggak itu lagi."
"Iya, pastilah, kan dia udah terjerumus ke pergaulan bebas."
"Beda banget sama kakaknya yang solehah. Bagai langit dan bumi."
"Kasian banget Bu Dewi punya anak kayak dia."
"Heh, Ibu-ibu! Kalian nggak punya kerjaan, ya, makanya ngegosip di sini!" Salsa turun dari sepeda motornya dan hampir ibu-ibu tadi.
"Kenapa? Marah? Yang kami katakan benar kok."
"Mau benar atau enggak, semua itu nggak ada hubungannya sama kalian! Kalian rugi apa? Nggak ada kan? Ya beginilah kalau orang miskin. Kerjaannya pasti ngegosip," ucap Salsa sambil menatap sinis.
"Pantas saja nggak ada yang suka sama kamu. Wong mulut kamu aja nggak bisa dijaga. Nggak ada sopan santunnya sama orang tua!"
"Gue nggak peduli! Jaga bacot lo semua agar nggak ngejelekin gue!"
"Dasar anak nggak punya sopan santun. Udah males, bikin susah orang tua, huuuu!!!"
Salsa pun pergi ditengah seruan para ibu-ibu tadi. Dia mengeram kesal dan melangkah cepat agar masuk ke dalam rumah.
Di dalam, dia melihat Anisa yang sedang berdiskusi dengan ibunya soal resep baru. Sedangkan ayahnya sepertinya masih di warung kopi.
__ADS_1
Mengapa dia tidak suka melihat pemandangan akrab seperti ini? Ibunya terlihat sangat bahagia ketika bersama Anisa. Mengapa bukan dia saja yang ada di posisi itu? Mengapa ayah dan ibunya tidak sayang pada dirinya saja? Mengapa harus ada Anisa yang membuatnya sering dicela oleh orang-orang sekitar? Membuatnya dibanding-bandingkan dengan Anisa yang katanya jauh lebih baik daripada dirinya.