Jangan Bedakan Aku

Jangan Bedakan Aku
Jenguk


__ADS_3

Salsa sedang duduk di sofa sambil menikmati teh serta cemilan buatan ibunya. Sedangkan Anisa sudah pulang setelah dijemput oleh Adit.


Sebelumnya Adit sudah melihat kondisi Salsa terlebih dahulu dan tak lupa memberikan semangat padanya agar tidak trauma dalam kejadian ini.


"Assalamualaikum," ucap dua orang ibu-ibu yang datang ke rumah itu sambil membawa plastik berisi oleh-oleh. Mereka adalah Bu Lena dan juga Bu Asih.


"Waalaikumsalam, ayo, Bu, masuk," ucap Dewi sambil mempersilakan mereka masuk.


"Makasih, ya, Bu Dewi. Kita ke sini mau menjenguk Salsa. Katanya dia habis pulang dari rumah sakit, ya," ucap Bu Lena sambil memberikan sebungkus plastik berisi buah-buahan dan juga roti.


"Iya, Bu, maaf ya kami nggak sempat jenguk ke rumah sakit," sambung Bu Asih.


"Mau ngapain, Buk? Mau videoin saya terus disebarkan gitu?" tanya Salsa sambil menatap sinis pada Bu Asih.


"Salsa, nggak boleh ngomong kayak gitu. Mereka ini tujuannya baik ke sini mau menjenguk kamu." Dewi menegur Salsa agar bersikap lebih sopan kepada tamunya.


"Iya, Sa, dengerin tuh ibu kamu. Lagian saya ke sini nggak bawa HP, kok." Bu Asih menimpali.

__ADS_1


"Sa, gimana rasanya mendapatkan KDRT dari suami?" Tiba-tiba saja pertanyaan itu terlontar dari mulut Bu Lena.


"Kenapa, Buk? Ibu senang karena saya mengalami nasib seperti ibu?" tatap Salsa sengit. Dia masih ingat jelas pertengkarannya dengan Bu Lena beberapa bulan yang lalu. Dia juga masih ingat sumpah Bu Lena yang mengatakan bahwa dia pasti akan mengalami nasib seperti Bu Lena.


"Salsa." Dewi kembali menegur Salsa dengan tatapan mata tajam.


Namun Salsa tak mengindahkan karena dirinya kesal terhadap dua tamunya itu.


"Ya ampun, Sa, udah kena karma pun kamu masih tetap aja kayak gini. Sadar, dong, Sa, semua yang kamu alami ini adalah buah dari sikapmu selama ini. Kamu sering bersikap nggak sopan pada orang yang lebih tua dari kamu. Kamu juga sering memanfaatkan kakakmu untuk melakukan pekerjaan rumah sedangkan kamu bersantai seperti seorang ratu." Bu Lena mengingatkan. Mungkin saja Salsa masih belum menyadari bahwa semua yang terjadi padanya adalah buah dari kesalahannya sendiri.


"Bu, maaf, kalau soal itu, saya mewakili anak saya meminta maaf pada kalian jika Salsa bersikap tidak sopan. Dan mengenai Anisa, Salsa sudah berbaikan dengan kakaknya. Jadi, sepertinya nggak ada yang perlu diungkit lagi sekarang." Dewi mencoba menengahi perdebatan mereka.


"Apaan sih, Yah, udah sana masuk," ujar Dewi selembut mungkin meski saat ini hatinya sedang dongkol. Kan tidak mungkin dia memarahi suaminya di depan para tetangganya ini.


"Nggak bisa, Buk! Untuk apa Salsa meminta maaf sama mereka? Salsa nggak salah! Kalau ada orang yang tidak menyenangkan hati kita memang pantas untuk dilawan. Dan mengenai Anisa, Salsa nggak pernah memanfaatkan dia kok. Anisa kan melakukan apa yang harusnya dilakukan seorang anak yang berbakti pada orang tua." Ramli malah ikutan duduk dan berdebat dengan dua tamunya itu.


"Oh, maaf ya saya lupa kalau sama-sama miliki Ayah yang seperti ini. Pantesan aja anaknya egois, wong ayahnya sendiri pun egois. Nggak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang benar." Bu Lena tersenyum sinis pada Ramli.

__ADS_1


"Saya nggak butuh pendapat kalian! Udah pergi sana!" Ramli pun dengan tegas langsung mengusir kedua tamunya.


Mereka pun langsung pulang meskipun Dewi berusaha untuk menahan mereka dan meminta maaf.


Pintu pun ditutup oleh Ramli dengan hentakan kuat. "Sa, udah, kamu jangan dengerin omongan mereka. Di mata ayah, kamu itu tetap benar, kok. Jangan mau ditindas."


Salsa tak banyak bicara. Dia hanya menatap sang ayah dengan tatapan berbeda. Hingga dirinya pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar.


Ramli juga bermaksud pergi ke dalam kamarnya. Namun, ketika hendak membuka pintu, ternyata pintu itu sudah dikunci oleh Dewi dari dalam.


"Buk, buka dong." Ramli mengetuk pintu tersebut berkali-kali.


"Enggak, tidur aja kamu di luar. Kamu itu udah bikin aku malu, Mas! Awas aja kalo sampe kamu berani masuk ke sini, langsung aku sate sosis kamu!"


Terdengar teriakan dari dalam di mana hal itu langsung membuat Ramli memilih mundur saja.


"Lain kali, kalau kamu berbuat kayak gitu sama tetangga kita, aku akan langsung ngambil air cabe di belakang terus aku siram ke muka kamu!"

__ADS_1


Nyali Ramli semakin ciut. Dia pun langsung pergi ke kamar belakang untuk tidur di sana. Rumah itu memang memiliki empat kamar tidur. Tiga kamar dipakai oleh anggota keluarga itu. Sedangkan satu kamar lagi digunakan jika ada tamu yang datang menginap.


Sedangkan Salsa menangis tersedu-sedu di dalam kamarnya. Entah menyesal atau malu, mungkin itulah yang dia rasakan sekarang.


__ADS_2