Jangan Bedakan Aku

Jangan Bedakan Aku
Menjelekkan


__ADS_3

"Sa, kenapa muka lu kayak gitu?" tanya Stevi yang merupakan teman Salsa. Saat ini mereka sedang berada di tempat tongkrongan seperti biasa karena ini adalah weekend. Di sebuah cafe yang memiliki menu lumayan mahal.


"Kesel gue sama Dea. Gara-gara dia unggah video gue dugem ke medsos, sekarang gue malu banget di komplek perumahan tempat tinggal gue. Emak gue juga marah banget, hampir aja gue kena gaplok." Salsa menghembuskan nafas kasar. Dia masih benar-benar jengkel pada Dea.


Apalagi saat dia menghubungi Dea dan menanyakan mengapa Dea merekam dan menyebarkan video itu. Dea mengatakan bahwa dia ingin memberikan kenangan sebelum dia pindah.


Ya, saat ini Dea sudah pindah ke kota lain karena ayahnya dimutasi.


"Lagian kenapa sih Dea kok kejam banget ngasih gue kenangan kayak gini!" Salsa memukul-mukul makanannya dengan sendok. Betapa kesalnya dia saat ini, bahkan sampai tak berselera makan.


"Tapi lu inget nggak sih waktu dulu lu permalukan dia di cafe ini?"


"Yang mana? Yang waktu gue teriak bilang kalo ketiaknya bolong? Ya kan gue nggak sengaja. Lagian dia sendiri ceroboh baju udah nggak layak malah dipakai. Ya gue refleks dong." Seolah tak mau disalahkan, Salsa masih membela dirinya.


"Ya kalo gue jadi dia gue pun malu, Sa. Dia sampe diputusin pacarnya gara-gara dia ikutan malu. Terus, lu inget nggak waktu lu nyebarin foto Dea yang baru bangun tidur ke sosmed. Disitu puncak kekesalan dia. Sampe berapa minggu dia nggak berani keluar karena malu. Ya kali lu tega ngambil foto dia baru bangun tidur tanpa dikasih filter. Rambutnya kayak singa, masih ileran, mukanya kusam banget. Gebetannya langsung menghilang tanpa kabar sejak hari itu. Dia juga sering jadi bahan ledekan dan fotonya dijadiin meme yang makin bikin dia tambah malu." Stevi menjelaskan panjang lebar.

__ADS_1


"Dea cerita sama lu, ya?"


"Iya, tadi malem gue telepon dia dan nanyain soal tindakan dia yang nyebarin video lu dugem. Ya, dia bilang itu ke gue sambil nangis."


"Ya udahlah, berarti kan impas. Lagian dia baperan banget kayak gitu aja dimasukin ke hati. Bagus deh kalau dia pergi." Salsa melengos tak peduli. Dia masih tetap membela dirinya yang nyatanya bersalah atas kejadian memalukan yang Dea alami beberapa kali karenanya.


"Eh, ngomong-ngomong Angel sama Winda mana? Kok mereka nggak dateng?"


"Angel dan Winda kerja lembur, makanya nggak bisa dataeng."


"Ya mungkin lu bisa bilang gitu karena emak bapak lu kerja. Mereka kan anak pertama yang harus bantu biayain sekolah adek-adeknya. Tau sendiri orang tua mereka cuma karyawan pabrik. Nggak kayak elu yang bapak lu PNS, emak lu punya toko baju."


"Itu kan rezeki gue. Makanya gue nggak mau kerja. Gue tinggal nunggu orang kaya ngelamar gue aja. Terus gue nikah deh."


"Emang lu mau ngelangkahin kakak lu?"

__ADS_1


"Ya biarin aja. Mana ada yang mau sama dia. Penampilannya biasa aja, nggak ada cantik-cantiknya kayak gue. Udah gitu cuma tamat SMA." Salsa mencibir.


"Eh, tapi Kakak lu cantik lho, Sa walaupun nggak pake make up. Dia juga baik banget dan ramah. Gue denger jualannya laris, ya, di pasar."


"Halah, palingan orang-orang yang beli kasian sama dia. Lu jangan mau ketipu sama covernya doang. Dia itu munafik tau!"


"Hah? Munafik gimana?"


"Di rumah itu dia males, suka marah-marah sama gue karena ayah lebih sayang gue. Makanya gue sering keluar karena eneg denger omelan dia."


"Hah? Masa sih? Kok gue nggak yakin, ya." Stevi mengernyitkan dahinya.


"Ya karena dia keliatan baik di depan makanya lu nggak percaya. Coba deh ke rumah gue. Sekarang gue udah punya pembantu. Alasannya ya karena kakak gue males. Dia sering nyuruh-nyuruh gue, makanya ayah gue kasian terus nyariin gue pembantu."


Stevi hanya ber-oh saja. Antara percaya dan tidak percaya dengan yang Salsa katakan.

__ADS_1


__ADS_2