
Beberapa hari kemudian, Salsa pun sudah diperbolehkan pulang. Dia dinyatakan sudah pulih meski belum seutuhnya. Seluruh keluarga ikut menjemput kepulangannya. Adit tidak bisa ikut karena sedang mempersiapkan pesta untuk perusahaan.
Sedangkan Anisa datang bersama sopir dan pengawal pribadinya untuk ikut menjemput Salsa.
Mereka berada dalam satu mobil, sementara pengawal berada di mobil lain tepat di depan mobilnya.
Namun, baru saja mereka sampai di rumah, tiba-tiba saja sudah banyak orang yang membawa kamera datang mengerubungi mereka.
Salsa tampak ketakutan karena dialah orang yang dituju. Mereka mengerubunginya dan memberondong banyak pertanyaan.
"Mbak, apa benar Mbak menjadi korban KDRT Pak Bagas?" tanya salah seorang wartawan yang menyadarkan mic perekamnya pada Salsa.
"Mbak, jadi, apakah Mbak akan menggugat cerai?"
"Mbak, kapan peristiwa itu terjadi?"
"Mbak, apa benar kalau Mbak dijadikan pembantu di rumah Pak Bagas?"
"Mbak, apakah Mbak tetap bertahan karena cinta?"
__ADS_1
"Mbak, bagian mana yang sering mendapatkan pukulan?"
Pertanyaan itu langsung membuat Salsa kebingungan sekaligus ketakutan. Dia memang suka popularitas dan dikenal oleh media, namun bukan seperti ini caranya.
Anisa pun memerintahkan pengawalnya untuk menghalau para wartawan itu agar Salsa bisa segera masuk.
Para wartawan itu tampak kecewa karena tidak bisa mendengar sepatah kata pun dari Salsa.
Namun, tiba-tiba saja Ramli menghampiri mereka sambil merapikan rambut serta kemejanya.
"Biar saya aja yang jawab," ujarnya sambil tersenyum ramah. "Gimana? Saya udah rapi, kan? Kalau wawancara gini saya dibayar, nggak?"
"Enggak, kok, saya cuma bercanda, hahaha." Ramli tertawa lebar. Sebenarnya dia tidak bercanda. Namun, karena melihat tatapan para wartawan itu, dia pun tahu bahwa pertanyaannya itu sangat aneh.
"Tapi Bapak udah ganteng, kok," ucap salah seorang wartawan pria sambil memainkan matanya pada Ramli.
Ramli bergidik ngeri. Rupanya wartawan itu seorang penyuka sesama jenis. 'Hi, amit-amit,' batinnya.
"Pak, gimana tanggapan Bapak mengenai peristiwa ini?" tanya salah seorang di antara mereka.
__ADS_1
"Jujur saya sangat sedih karena Salsa itu anak kesayangan saya. Saya menyesal telah menikahkannya dengan Bagas," ucap Ramli dengan wajah sedih.
"Seperti apa penyiksaan yang dialami oleh anak Bapak?"
"Banyak sekali. Dia dipukul, disuruh bekerja dua puluh empat jam. Bangun paling cepat dan tidur paling lama. Dia juga sering menjadi pelampiasan suaminya jika Bagas sedang tidak enak hati."
"Lalu, apakah mereka akan bercerai?"
"Kalau itu sudah jelas, hati ayah mana yang nggak sakit melihat anaknya disakiti oleh pria asing. Padahal selama hidupnya, Salsa itu selalu saya manjakan. Melakukan pekerjaan saja dia nggak pernah. Ini, udah ketemu pas udah besar, eh malah disiksa," ujar Ramli dengan tatapan lirih.
"Tapi, kami juga dengar bahwa Pak Bagas mengeluarkan begitu banyak uang untuk keluarga Bapak, apa itu benar?"
"Benar, tapi kan dia memberi sama kami. Ya kami nggak tau kalau dia malah menjadikannya sebagai hutang. Tapi, semua hutang itu sudah dilunasi oleh menanti saya yang satunya. Abang iparnya Salsa."
"Memangnya siapa menantu bapak yang satu lagi?"
"Oh, dia itu pengusaha kaya, namanya...."
"Yah, udah, Yah," ucap Dewi sambil menghampiri mereka. Dia mendesis pada Ramli, lalu menarik tangannya ke dalam rumah.
__ADS_1
Para wartawan yang belum mendapatkan jawaban dari Ramli pun menghela nafas kecewa. Mereka juga sangat penasaran, siapa sebenarnya sosok suami Anisa yang katanya kaya raya itu. Sayangnya mobil mewah yang terparkir di sana tidak terdapat logo perusahaan sehingga mereka tidak tahu bahwa menantu yang dimaksud Ramli adalah Aditya Wijaya, CEO PT ADW.