Jangan Bedakan Aku

Jangan Bedakan Aku
Rencana


__ADS_3

Hembusan angin bisa membawa kesegaran dan kesejukan bagi siapapun yang tersentuh olehnya. Tak hanya memberikan kesegaran, angin pagi datang dan mulai mengaduk-aduk pepohonan, sedikit saja, seperti bisikan. Itu damai seperti lagu pengantar tidur. Membuat seseorang yang berusaha untuk membuka matanya dan bangun, seolah kembali terhipnotis untuk merebahkan tubuhnya kembali ke atas ranjang dan menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.


Namun, baru beberapa detik dia memajangkan mata, tiba-tiba tubuhnya bergerak sendiri dan memaksanya untuk bangun. Dia mengucek matanya dan menampar-nampar pipinya pelan agar mendapatkan kesadaran sepenuhnya.


Dengan tubuh yang masih lemas, dia pun berusaha untuk berjalan keluar dari kamarnya. Menguap berkali-kali seolah menegur dirinya bahwa dia belum cukup tidur. Suasana pagi yang masih gelap mengharuskannya untuk menghidupkan lampu tengah dan juga dapur yang biasa dimatikan ketika tidur.


"Lho, Sa? Kamu mau ngapain pagi-pagi begini udah bangun?" tanya Dewi heran. Dia sedang memasak sarapan untuk pagi ini. Sedangkan Anisa duduk di bangku menunggu ibunya selesai masak karena dia tidak diperbolehkan membantu.


"Aku hoaammm, mau hantu ibu," ucapnya sambil menguap lagi.


"Hah? Membantu?" Dewi kembali mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Salsa. Sejak kapan gadis itu memiliki inisiatif untuk membantu ibunya?


"Iya, Buk, kasihan kan Kak Anisa. Aku juga pengen ngerasain gimana rasanya jadi Kak Anisa yang dulu."


"Kok tiba-tiba gini, Sa? Memangnya apa yang membuat kamu berubah seperti ini?"


"Aku kemarin sadar kalau selama ini Kak Anisa selalu mendapatkan ketidakadilan dari ayah. Puncaknya, ketika Kak Anisa akan dijual sama ayah, di situ aku merasakan kekecewaan. Aku nggak nyangka kalau Ayah tega melakukan itu pada Kak Anisa. Makanya, Aku mau minta maaf sama kalian karena selama ini seperti manfaatkan kasih sayang ayah sama aku." Salsa menatap Kakak dan ibunya secara bergantian. Dia memasang wajah sedih yang belum pernah dia tunjukkan kepada siapapun.


"Sa, kamu serius? Kamu mau berubah?" tanya Anisa yang tersenyum senang melihat tekad sang adik. Namun, tidak bagi Dewi yang masih menaruh rasa curiga pada anak bungsunya itu.


"Ya, Kak, aku sadar kalau selama ini ayah bersikap nggak adil pada Kakak. Makanya, sekarang aku ingin menebus semuanya dan berbuat baik pada Ibu dan Kakak." Salsa tersenyum sambil memegangi tangan Anisa.


Anisa juga membalas senyuman Salsa dan mengangguk senang. Dan mereka lalui dengan canda dan tawa. Sebenarnya Dewi senang melihat kedua anaknya akrab. Namun, dia masih belum yakin Salsa berubah secepat ini.

__ADS_1


Ramli yang baru saja bangun terkejut melihat Salsa yang sedang membantu Anisa menata makanan di atas meja. Dia tersenyum melihat sang anak yang akhirnya melakukan pekerjaan rumah tangga tanpa disuruh. Meskipun dirinya merasa kasihan melihat anak kesayangannya bekerja seperti itu.


Selesai semua, mereka pun berangkat ke tempat kerja masing-masing. Salsa hanya berdiam diri kamar dan membiarkan Devi mengerjakan semua pekerjaan di rumah itu.


Salsa asyik menscroll sosial media dan mencari nama Bagas. Akhirnya, dia pun menemukan akun sosial media Bagas.


"Oh namanya Bagaskara Prasetyo? Wah, ganteng banget. Rumahnya mewah, mobilnya banyak. Aku harus mendapatkan dia."


Salsa memfollow akun sosial media Bagas dan mengirimkan pesan.


"Hai, Mas Bagas, salam kenal, aku Salsa, adiknya Kak Anisa."


Begitulah pesan Salsa pada pria itu. Lama menunggu, akhirnya Bagas mengirimkan pesan balasan.


[Salam kenal, Sa.]


[Lagi istirahat, habis meeting dengan klien.]


"Heheh, berarti Salsa nggak ganggu dong."


[Nggak kok. Oh ya, kamu punya akun sosial media Anisa nggak?]


Wajah Salsa berubah ketika mendengar nama Anisa disebut oleh Bagas.

__ADS_1


"Kenapa sih kok malah nanyain dia!" gumamnya kesal.


"Nggak ada, Mas. Kak Anisa nggak punya sosmed. Dia memang agak kuper, temennya aja anak-anak pasar semua."


[Sayang sekali, ya. Kalau gitu, sampaikan salam ku untuknya, ya.]


"Ih, kenapa sih kok Mas Bagas malah titip salam sama." Salsa semakin kesal membaca pesan balasan Bagas. Padahal mereka berkirim pesan secara pribadi, namun malah orang lain yang ditanyakan olehnya.


"Kak Anisa sudah punya pacar, Mas. Bentar lagi tunangan."


Terpaksa Salsa berbohong agar Bagas berhenti menanyakan sang kakak.


[Masa sih? Tapi dia bilang sama aku belum punya pacar, lho.]


"Ya, namanya juga lagi berantem sama pacar, pasti nggak diakui lah. Kak Anisa itu memang pacaran diam-diam sih sehingga orang tua kami nggak ada yang tau karena dia masih malu buat ngenalin. Tapi aku tau, kok. Kak Anisa udah punya pacar dan mungkin sebentar lagi akan tunangan."


[Sayang banget, ya. Tapi, kalau janur kuning belum melengkung, artinya masih ada kesempatan, kan?]


"Sebaiknya jangan, Mas. Soalnya Kak Anisa bucin parah sama pacarnya. Yang ada nanti Mas Bagas sakit hati."


[Iya, Sa, nggak apa-apa. Mau sesulit apapun rintangan, kalau kita berusaha, pasti kita akan berhasil.]


Salsa semakin kesal membaca pesan balasan Bagas yang ternyata masih berusaha mengajar kakaknya.

__ADS_1


Dia pun memutuskan untuk tidak lagi membalas pesan itu daripada berakhir sakit hati. Dia mencoba untuk memikirkan suatu cara agar bisa mendapatkan Bagas tanpa harus melakukan terlihat jahat.


Dan dia pun berhasil menemukan suatu ide yang dia yakin pasti akan membuat sang kakak mengalah. Dia tersenyum menyeringai membayangkan yang akan bahagia bersama Bagas.


__ADS_2