Jangan Bedakan Aku

Jangan Bedakan Aku
Aku Benci Ayah


__ADS_3

Salsa baru saja pulang dari minimarket untuk membeli keperluannya hari itu. Dia menaiki sepeda motornya dan menempuh jarak beberapa ratus meter.


Namun, dia pun memutuskan berhenti di warung bakso karena ingin membelikan ibunya bakso itu. Kebetulan sang ibu tidak ke toko hari ini karena sedang tidak enak badan.


"Mang, bungkusin bakso dua, ya. Yang satu pake mie, yang satu lagi enggak," ucap Salsa pada sang penjual bakso yang langsung mendapatkan sahutan.


"Siap, neng cantik. Kok sendirian aja, sih? Pacarnya mana? Sayang banget cantik-cantik nggak punya pacar." Si tukang bakso yang berusia sekitar empat puluhan itu sepertinya tertarik dengan kecantikan Salsa. Apalagi sekarang Salsa kemana-mana selalu mengenakan hijab. Meski di dalam rumah dia membuka hijabnya, namu. kalau keluar dia selalu menggunakan jilbab tersebut.


Sepertinya dia ingin seperti kakaknya yang dihormati semua orang. Namun, apakah orang-orang itu akan menghormati masa lalunya?


"Dih, si Abang mau-mau aja godain dia. Emangnya Abang nggak tahu kalau dia itu pernah viral. Dia ini kan yang dijadikan pembantu di rumah suaminya sendiri karena dia sama ayahnya matre," ucap salah seorang ibu yang sedang makan di sana.


Salsa terkejut karena bisa-bisanya ada orang yang langsung memojokkan dirinya tepat di hadapannya.

__ADS_1


"Mang, yang pake mie sambelnya dipisah, ya," ucap Salsa yang berusaha mengalihkan pembicaraan agar topik mengenai dirinya tidak terus-menerus dibicarakan.


"Iya, Neng."


"Oh, jadi ini cewek yang viral itu? Kalau saya sih mendukung suaminya. Soalnya saya tahu gimana nggak enaknya punya menantu dan besan matre," cibir ibu yang duduk di samping ibu tadi.


"Iya, ini cewek viral yang diceritakan sama Bu Lena dan Bu Asih itu. Yang katanya suka melawan orang tua dan ngatain suami Bu Lena tukang selingkuh dan KDRT. Terus disumpahin Bu Lena, jadinya dia kena karma deh."


Hingga saat sampai di rumah, Salsa pun Tak tahan Lagi Dan langsung menangis tersedu-sedu di kamarnya. Bakso dia letakkan saja di meja ruang tamu.


Dewi yang mendengar Salsa menangis pun langsung menghampirinya di kamar.


"Sa, kamu kenapa, Sayang?" tanya Dewi khawatir.

__ADS_1


Salsa tak menjawab, masih menangis tersedu-sedu. Setiap ucapan yang mereka lontarkan padanya tadi telah melukai hatinya yang sedang berusaha untuk sembuh.


Ramli yang juga mendengar keributan pun langsung masuk ke kamar Salsa.


"Kamu kenapa, Sa? Siapa yang jahatin kamu? Bilang sama Ayah biar Ayah hajar orang itu!"


"Udahlah, Mas, jangan menyelesaikan masalah dengan emosi."


"Ya tapi nggak ada yang boleh melukai hati Salsa hingga membuatnya menangis seperti ini. Dia harus diberi pelajaran agar mulutnya tidak sembarangan berucap!"


Mendengar hal itu, Salsa pun langsung bangkit dari tempat tidurnya dan menatap sang ayah dengan tatapan tajam.


"Udahlah, Yah! Ayah bisa diem, nggak? Ayah sadar nggak sih nasib yang aku alami sekarang ini adalah karena Ayah. Sejak dulu Ayah selalu mengajarkanku bahwa aku adalah pemenangnya sehingga aku menjadi orang yang egois. Aku bahkan nggak memiliki sifat baik di mata orang lain. Ini semua karena Ayah! Aku benci sama Ayah!"

__ADS_1


__ADS_2