Jangan Bedakan Aku

Jangan Bedakan Aku
Bos


__ADS_3

"A-Adit?" tanya Bagas saya melihat orang yang keluar dari mobil itu rupanya Adit, suami Anisa.


"Kamu ngapain naik mobil bosku? Kamu udah jadi sopirnya?" tanyanya lagi.


"Mau aku jadi sopir ataupun bukan, itu sama sekali nggak penting. Sekarang lepaskan kedua mertuaku!" ucap Adit sambil menunjuk ke arah kedua mertuanya masih dipegangi oleh para anak buah Bagas.


"Enggak! Mereka ini udah berhutang banyak sama aku! Sekarang aku berhak atas rumah ini."


"Berapa hutang mereka?" tanya Adit sambil mengambil sesuatu dari dalam mobil itu.


"Kenapa? Kamu mau bayarin? Kayak mampu aja," ujar Bagas sambil tertawa kecil.


Adit langsung melemparkan satu koper uang pada Bagas hingga pria itu menangkapnya dengan refleks. Dia pun membuka koper itu dan terkejut melihat nominal uang yang sangat banyak


"Apa-apaan ini? Kamu dapat uang sebanyak ini darimana? Nyolong, ya?" tanya Bagas hampir tak percaya.


"Udah, ambil aja. Itu uang sejumlah lima ratus juta. Ditambah lima puluh juta buat kamu."

__ADS_1


"Nggak, Kamu pasti udah mencuri ini. Darimana kamu mendapatkan uang sebanyak ini?" Bagas masih tak percaya dengan uang Adit. Dia bahkan mengira jika mungkin saja uang itu adalah uang palsu.


Bagas menggelengkan kepalanya dan mencampakkan uang itu kembali ke Adit.


Namun, sebelum koper uang itu mendarat ke tubuh Adit, beberapa orang berlari ke arahnya dan menangkap koper itu duluan.


Bagas syok karena orang-orang yang menangkap koper itu adalah ajudan yang berpakaian resmi. Pakaian yang mereka pakai adalah pakaian khas ajudan ADW.


"Kamu siapa?" Bagas kembali bertanya.


Mendengar ucapan Adit, Bagas pun langsung tertawa. Dia bahkan ketawa terpingkal-pingkal sangking tak percayanya dengan ucapan Bagas.


Tak hanya Bagas, kedua orang tua Anisa pun terkejut mendengarnya. Bahkan Ramli menggelengkan kepalanya karena dia tidak yakin anak seperti Anisa memiliki suami kaya seperti dia.


Namun, saat Adit melempar selembar surat pemecatan padanya, barulah dia diam dan berwajah pias. Ini adalah surat asli dari perusahaan itu. Jadi, tidak mungkin jika Adit yang menirunya.


"Ini surat pemecatan untukmu karena kamu sudah melakukan pelanggaran di perusahaan dengan memotong bonus para karyawan demi kepentingan pribadimu sendiri. Masih untung akan memberikan uang pesangon lima puluh juta itu."

__ADS_1


"Lho, apa-apaan ini? Anda nggak bisa memecat anak saya secara sepihak karena anda nggak punya cukup bukti untuk itu. Mana mungkin anak saya melakukan tindakan korupsi di perusahaan itu? Jangan sembarangan nuduh atau anda akan saya tuntut!" Giska berjalan ke hadapan Adit dan menunjuk-nunjuk wajahnya.


"Ya udah, kalau anda nggak percaya, saya akan menyebarluaskan berita korupsi ini ke media massa dan sosial media. Biar semua orang bisa melihatnya dengan jelas."


Mendengar ancaman Adit, Bagas pun langsung ciut. Dia langsung membawa pergi ibunya dari sana setelah sebelumnya mengambil koper yang masih di tangan ajudan Adit.


Namun, sebelum cover itu benar-benar bersamanya, Adit menyampaikan sebuah pesan yang cukup membuat bingung.


"Jamu lah tamumu."


Hingga saat dia sampai di rumah, dia terkejut karena tak melihat salsa di sana. Padahal, kepulangannya ini sangat dinantikannya karena ingin melampiaskan kemarahan pada Salsa. Rasanya memukuli tubuh wanita itu adalah hal yang paling bisa membuat hatinya lega.


"Kemana dia?" Bagas kelimpungan mencari sosok Salsa yang sebelumnya dia tinggalkan dalam keadaan pingsan karena sebelum pergi, Salsa yang merengek ingin ikut pun mendapatkan pukulan bertubi-tubi darinya hingga jatuh pingsan.


Dan tak berselang lama, beberapa orang polisi pun datang ke rumah itu dan menangkap Bagas atas tuduhan penganiayaan juga investasi bodong yang selama ini telah dilakukannya. Makanya dia selalu memiliki banyak uang.


Bahkan uang Adit yang baru diterimanya pun turut diambil polisi guna menjadikannya sebagai barang bukti.

__ADS_1


__ADS_2