
Sejak saat itu, Ramli pun menjalani hidupnya sebagai orang bisu. Dia tak mampu mengeluarkan suara meski sudah mati-matian berusaha. Hari pertama ketika dia sadar, dia menangis tanpa suara. Menyesali dirinya yang sangat ceroboh sehingga membuat dirinya celaka dan cacat permanen seperti ini.
Jika tidak bisa berbicara, lantas bagaimana caranya bekerja? Terpaksa di dipindahkan ke bagian lain yang tidak memerlukan banyak tindakan berbicara. Hanya berpacu pada komputer saja, sedangkan untuk berinteraksi dengan orang lain, dia harus menggunakan alat canggih yang diberikan Adit.
Meskipun begitu, Ramli tetap tidak bersemangat melanjutkan hidup. Perlahan semua teman dekatnya menjauhinya karena tak bisa diajak bicara. Begitu juga dengan teman kantor yang seolah tak ingin berlama-lama jika ada dirinya.
Kini Ramli merasakan bagaimana dianggap sebagai orang yang tak berguna. Apapun yang dilakukannya seolah tak berarti di mata orang lain. Sama halnya seperti yang dilakukannya pada Anisa dulu. Dia selalu menganggap Anisa adalah anak yang tak berguna. Hanya sebuah benalu yang semua perjuangannya tak terlihat sedikitpun.
Ramli baru saja melaksanakan sholat subuh. Dia berdoa memohon ampun pada sang pencipta. Kini dirinya sadar bahwa setiap perbuatan ada balasannya. Sebagai orang tua, dia telah merasa gagal karena membuat kedua anaknya menderita.
'Ya Allah, ampuni hamba. Maafkan semua kesalahan hamba. Sungguh hamba telah bersalah pada anak hamba selama ini. Terima kasih telah menyadarkan hamba, Ya Allah,' batinnya sambil menangis tersedu-sedu.
Anisa yang menderita karena sikapnya yang pernah pilih kasih dan terkesan menganaktirikan. Sedangkan Salsa yang tumbuh menjadi gadis pembangkang dan pemalas akibat terlalu dimanjakan.
__ADS_1
Setelah Ramli selesai sholat, dia pun bergegas keluar kamar untuk membantu istrinya mengerjakan pekerjaan rumah. Mereka memutuskan untuk tidak memakai jasa Devi lagi karena ingin menjadi orang yang mandiri dan bisa diandalkan.
"Yah, ngapain nyuci piring. Biar Ibu aja." Dewi datang dan merebut pekerjaan Ramli.
Ramli pun memberi isyarat agar Dewi membiarkannya membantunya. Dewi hanya tersenyum dan mengangguk. Dia pun kembali memasak sarapan pagi itu.
"Buk, ini pakaian Ibuk dijemur di dalam atau diluar?" tanya Salsa yang baru saja selesai mencuci.
"Di dalem aja, deh, Sa. Ibuk nggak mau dimaling lagi. Kapok deh jemur pakaian pemberian Adit di luar," ujar Dewi.
"Ya udah, Buk. Oh ya, pagar bagian belakang kayaknya harus dibersihkan deh, Buk. Salsa minta uang dong, buat beli pestisida."
Ramli yang mendengarnya langsung mengeluarkan merogoh kantongnya dan memberikan uang pada Salsa. Dia juga memberi isyarat agar menunggunya pulang bekerja agar bisa membantu Salsa.
__ADS_1
"Ayah kan capek, harusnya Ayah istirahat aja nanti. Lagian nanti sore Kak Anisa dateng sama Mas Adit. Nggak keburu kalau nunggu Ayah." Salsa mencoba memberi pengertian pada sang ayah.
Sejak Ramli meminta maaf pada Anisa, dia pun sudah memaafkan sang ayah. Mereka memilih untuk membuat suasana rumah yang nyaman dan tenteram.
Hingga sore harinya, Anisa pun datang bersama Adit. Mereka banyak membawa oleh-oleh untuk keluarga kecil itu.
Salsa sudah menyediakan jamuan di belakang rumah yang sudah dia rubah menjadi taman kecil. Hal ini karena mereka ingin merayakan kehamilan Anisa yang baru ketahui beberapa waktu lalu.
"Ayah, gimana keadaannya sekarang?" tanya Anisa.
"Sudah lebih baik, Nak." Itulah isyarat yang diberikan Ramli. Serta senyuman hangat dan tatapan mata penuh cinta.
Ya, meskipun kini Ramli harus kehilangan suaranya, namun keluarga itu tetap bahagia. Memang beginilah kehidupan yang mereka inginkan. Hidup rukun meski memiliki kekurangan. Ramli telah mendapatkan pelajaran berharga dalam hidupnya. Karena itu, sebagai orang tua, kita tak boleh membeda-bedakan anak. Karena anak adalah anugerah terindah dalam hidup kita.
__ADS_1
TAMAT