Jangan Bedakan Aku

Jangan Bedakan Aku
Bekerja


__ADS_3

Anisa memacu sepeda motornya bersama sang ibu pagi itu. Ya, hari ini dia sudah resmi berjualan di pasar. Dia berangkat pagi-pagi sekali agar bisa buka secepatnya. Dia dimudahkan dengan bahan-bahan mentah makanan yang bisa dibelinya di pasar itu.


"Nisa, Ibu buka toko dulu, ya. Nanti siang Ibu kesini nemenin kamu. Nggak apa-apa, kan? Soalnya Ibu ada tamu penting. Ada yang mau beli baju buat anak-anak panti asuhan katanya." Dewi menyerahkan helm yang dipakainya pada Nisa.


"Iya, Bu, nggak apa-apa, kok. Nanti Ibu sekalian makan di sini, ya."


"Iya, Nak." Dewi pun buru-buru pergi ke tokonya yang tak seberapa jauh dari warung tempat Nisa berjualan.


Anisa mulai membuka warungnya setelah selesai berbelanja untuk kebutuhan warungnya. Untungnya segala perlengkapan untuk berjualan sudah disediakannya kemarin. Dia pun segera menyusun perkakas yang ada di dalam warung itu.


"Eh, Nisa? Kamu yang jualan di sini?" tanya pedagang sepatu yang juga baru membuka lapaknya. Namanya adalah Bu Ratna, teman dekat ibunya Anisa.


"Iya, Bu, daripada warungnya, sayang kalau nggak dipakai jualan, hehe."


"Wah, kalau gitu Ibu pesen teh manis hangat sama mie goreng, ya, soalnya Ibu belum sempet beli sarapan."


"Alhamdulillah, iya, Bu, saya buatin dulu." Nisa pun senang menerima orderan pertamanya. Dia langsung meracik semua bumbu dan masak mie goreng. Tak sampai sepuluh menit, mie goreng dan teh manis hangat pun tersaji. Bu Ratna terlihat sangat lahap memakan sarapannya. Untung dia membawa bekal nasi putih dari rumah sehingga merasa puas. Karena tidak afdol rasanya jika makan mie tanpa nasi.


"Bu, wangi banget makanannya? Beli dimana?" tanya seorang pedagang aksesoris yang baru saja datang. Namanya adalah Bu Sania.


"Itu, anaknya Bu Dewi baru buka warung. Enak, lho, Bu, soalnya Bu Dewi pernah cerita kalau anak pertamanya itu memang pandai memasak." Bu Ratna menunjuk warung Anisa yang berada dekat dengan tokonya.

__ADS_1


"Wah, kalau begitu saya pesan, ah."


"Lho, memangnya Bu Sania belum sarapan?"


"Udah, tapi gitu mencium wangi makanan ibu, saya jadi lapar lagi. Apalagi tadi pagi saya hanya makan sedikit."


"Ya udah, pesen, gih."


Bu Sania langsung menemui Anisa dan memesan menu sama seperti Bu Ratna. Dan tak hanya mereka, satu persatu para pelanggan yang berstatus penjual maupun pembeli datang ke warung Anisa. Maklum saja, warung makanan di situ jaraknya lumayan jauh. Apalagi, warung lain hanya menyediakan sarapan pagi saja seperti nasi lemak, nasi dan lauk seperti rumah makan, dan mereka hanya buka sampai tengah hari.


Banyak sekali pembeli pagi itu hingga Anisa kewalahan.


"Eh, nggak usah, Bang, Nisa nggak mau ngerepotin."


"Nggak ngerepotin, kok. Abang kasian sama Nisa yang kerepotan kayak gini. Kalau untuk buat teh atau kopi Abang bisa, kok."


"Beneran nggak bikin repot, Bang?" tanya Nisa lagi, ragu.


"Cepetan dong, Mbak, anak saya udah laper nih," gerutu seorang ibu muda bersama anak yang berusia kurang lebih enam tahun.


"Eh, iya, Bu, maaf. Ya udah, deh, Bang, bantuin Nisa, ya. Buatin teh hangat lima, kopi item tiga, terus kopi susu dua."

__ADS_1


"Oke, siap, Bos." Adit langsung membuat beberapa minuman pesanan pelanggan Anisa. Untung saja ada dirinya sehingga pekerjaan Anisa saat itu bisa diselesaikan dengan cepat.


"Makasih, ya, Bang. Nanti Nisa kasih feenya deh buat Abang."


"Eh, nggak usah, Abang ikhlas, kok. Bayarnya cukup balas chat Abang tepat waktu aja kalo lagi nggak sibuk. Jangan balasnya tiga hari sekali, hehe." Adit menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Dia merasa sangat malu mengatakan keinginannya itu. Tapi, rasa tidak bisa ditahan karena Anisa adalah wanita yang sangat disukainya. Semua tipe wanita yang disukainya ada pada diri Anisa. Sholehah, ramah, lemah lembut, dan suka menolong. Benar-benar seperti malaikat.


"Hah? Abang ada-ada aja deh." Anisa tertawa kecil mendengar permintaan konyol Adit. Namun, dia berjanji dalam hati untuk mengabulkan permintaan itu. Selama ini, dia memang jarang membalas pesan dari Adit karena sibuk mengerjakan pekerjaan rumah dan tidak begitu memperdulikan ponselnya.


"Nisa, kayaknya kamu harus pekerjakan satu orang lagi deh. Abang yakin besok warung kamu akan lebih ramai lagi."


"Iya, Bang, rencananya kayak gitu sih, tapi Nisa bingung mau rekrut siapa." Anisa mencoba berpikir keras. Dia tidak begitu banyak meminta syarat. Hanya cukup orang yang rajin dan jujur saja.


"Eh, gimana kalau Mbak Indah. Dia itu kan rajin banget. Kasian kan jadi kuli angkut."


"Oh iya, Mbak Indah kan rajin banget orangnya. Dia juga jujur waktu balikin duit kembalian yang kelebihan di toko Ibu. Ya udah, Bang, entar Nisa temui Mbak Indah supaya dia ikut kerja sama Nisa."


Adit pun mengangguk setuju. Namun, baru saja dia ingin mengobrol lagi bersama Anisa, tiba-tiba saja seorang pria bertubuh tambun memanggilnya dan menyuruhnya untuk membawa penumpang.


Dengan kesal, Adit pun pergi setelah berpamitan pada Anisa. Tak lupa Anisa yang tadi sudah memasakkan makan siang untuk Adit memberikannya sebungkus di dalam plastik bersama airnya.


Adit tersenyum senang. Dia merasa seperti seorang suami yang diberikan bekal oleh sang istri ketika hendak bekerja.

__ADS_1


__ADS_2