Jangan Bedakan Aku

Jangan Bedakan Aku
Geram


__ADS_3

Dewi tidak bisa berkata apapun lagi. Dia hanya bisa menahan geram karena suaminya benar-benar egois.


"Iya, nih, Ibuk sama aja kayak yang lain. Nyalahin ayah terus. Ya wajar dong kalo ayah sayang sama Salsa. Kak Nisa kan memang yang dulu bikin rezeki keluarga kita seret," bela Salsa.


"Udahlah, Ibu pusing. Pokoknya, mulai sekarang, Anisa nggak akan ngerjain kerjaan rumah ini lagi!"


"Lho, kenapa, Buk? Jadi yang beresin rumah siapa dong?" tanya Salsa terkejut.


"Buk, jangan gitu, dong, Nisa.."


"Diem kamu, Nis. Awas aja kalau mulai besok kamu ngerjain pekerjaan rumah, Ibu nggak akan maafin kamu!" Dewi membentak Anisa hingga membuat gadis belia itu terdiam.


"Sekarang kamu mandi sana! Cuci bajumu sendiri! Bersihkan kamarmu sendiri! Jangan taunya nyuruh aja, nggak ada pembantu di sini!" desis Dewi sambil menatap Salsa.


Salsa hanya melengos dan pergi meninggalkan kamar itu. Anisa juga pergi di tengah tatapan ayahnya yang terlihat semakin tidak suka padanya. Aneh, Baru kali ini ada Ayah yang tidak menyukai anaknya sendiri hanya karena pepatah kuno.


"Duh, mana, ya, surat tanahnya."


"Bu, udah, jangan dicari, Ayah nggak minta dibalikin, kok," ucap Ramli pelan.


"Ya tapi aku juga harus tahu di mana surat itu berada? Aku masih ingat kok kalau surat itu ada di sini beberapa bulan yang lalu. Kok sekarang nggak ada ya."

__ADS_1


"Mungkin Ibu lupa. Udah, jangan dicari, sekarang mending Ibu istirahat saja."


"Gimana aku bisa istirahat kalau surat itu nggak ketemu?"


"Lain waktu kita akan cari. Surat tanah itu pasti ada kok. Mungkin aja Ibu lupa taruh."


"Ya udahlah, Ibu mau masak. Habis itu nyapu, ngepel, cuci piring."


"Lho, kok jadi Ibu yang ngerjain?"


"Lalu siapa? Anisa? Kamu kira anakku itu pembantu?" tanya Dewi sengit.


"Ya nggak gitu. Tapi kan kasian kalau Ibu yang ngerjain semuanya."


"Iya, iya, nanti Ayah cari ART aja. Kasian juga Salsa kalau harus kerja di rumah."


Dewi menatap sengit Ramli. Rupanya pria itu masih belum bisa mendisiplinkan anaknya.


Mereka pun berusaha untuk melupakan hari itu.


Di sisi lain.

__ADS_1


"Ini surat tanah si Ramli, kan?" tanya Pak Imron, beliau adalah rentenir yang terkenal di daerah itu. Umurnya sudah mencapai lima puluh tahun.


"Benar, Juragan. Dia menggadaikan surat tanah ini beberapa bulan yang lalu. Katanya lagi kepepet karena baru aja ditipu sama investasi bodong dan harus balikin yang yang dia pinjam dari saudaranya." Seorang pria bertubuh besar memberikan sebuah surat yang merupakan daftar orang-orang yang menggadaikan sertifikat pada Imron. Ada tanggal penggadaian, persenannya, hingga tanggal jatuh temponya.


"Hah? Investasi bodong? Kok bisa?"


"Iya, Juragan. Soalnya dia ikut-ikutan investasi saham di PT abal-abal. Yang pakai data itu, Juragan."


"Oh, yang member get member, ya."


"Iya, Juragan. Katanya dia kena sama temen anaknya yang ngajakin."


"Siapa? Si Nisa?"


"Bukan, Juragan, si Salsa, anak nomor duanya. Begitu sih yang waktu itu dia bilang waktu nemuin saya sebelum ketemu Juragan."


"Oh. Kalau dilihat, tanggal jatuh temponya bulan ini, kan? Dia janji bakalan balikin semuanya bulan ini beserta bunganya dua puluh persen, ya?"


"Iya, Juragan, hutangnya delapan puluh juta dan bunganya enam belas juta. Jadi, total yang harus dibalikin adalah sembilan puluh enam juta."


"Ya udah, siapin semuanya, Minggu depan kita ke rumahnya. Dan kalau dia nggak bisa bayar, di harus ngasih si Nisa buat jadi istri keempat saya atau tanah ini jadi milik saya."

__ADS_1


"Baik, Juragan. Akan saya siapkan semua dokumennya."


Imron tersenyum licik. Sudah lama sekali dia menginginkan Anisa menjadi istrinya dan inilah waktu yang tepat.


__ADS_2