Jangan Bedakan Aku

Jangan Bedakan Aku
Tidak Penting


__ADS_3

"Nisa? Udah tutup?" tanya Dewi ketika melihat sang anak datang ke tokonya.


"Udah, Buk." Anisa duduk di samping sang ibu yang sedang merapikan pakaian. Seperti kebiasaan orang-orang yang sering memilih-milih pakaian, mereka terpaksa membongkarnya dari plastik dan setelah pelanggan menentukan pilihan lalu pergi, barulah mereka memasukkan kembali pakaian yang lain ke dalam plastik. Anisa mencoba untuk ikut membantu sang ibu karena rasanya tangannya akan gatal jika melihat pekerjaan di depan matanya.


"Udah nggak usah, kamu pasti capek berdiri sampai berjam-jam. Tangan kamu pegel, kan?" Dewi memegangi pergelangan tangan Anisa dan memijatnya. Namun, Anisa langsung menarik tangannya dan berusaha menahan sakit karena area yang dipijat ibunya adalah bekas luka goresan batu tadi.


"Udah, Buk, nggak usah, Nisa nggak apa-apa, kok."


"Bu Dewi ini beruntung banget ya punya anak yang rajin dan tekun kayak Anisa. Andai saja anak saya itu kayak Anisa, pasti saya nggak perlu capek-capek banting tulang kerja buat makan," ucap seorang pedagang kain yang ada di sebelah toko Dewi.


"Memangnya si Restu nggak mau kerja, Bu? Bukannya dia udah lulus kuliah, ya?"


"Iya, Bu, tapi taulah anak zaman sekarang. Dia berharap ada kerjaan yang datang karena berpikir kalau ijazahnya akan membuatnya dicari orang. Kerjaannya di rumah cuma main game sama nongkrong nggak jelas."

__ADS_1


"Sama dong, Bu, kayak anak kedua saya si Salsa. Di kasih pendidikan tinggi-tinggi eh taunya malah jadi pengangguran di rumah dan suka menghamburkan uang ayahnya."


"Tapi seenggaknya Ibu punya satu lagi anak yang bisa dibanggakan. Lagian saya kurang sreg sama si Salsa. Apalagi waktu dia datang kemari nggak ada sopan santunnya sama sekali. Masa waktu saya minta tolong liatin jam berapa katanya nggak boleh merintah orang sembarangan."


"Iya, Bu, dia itu memang…."


"Buk, udah." Anisa mencoba menahan ibunya agar tidak menjelek-jelekkan Salsa lagi. Dia sudah cukup dianggap sebagai provokator karena semua orang tidak menyukainya.


Dewi pun kembali terdiam karena kasihan melihat raut wajah Anisa. Dia hanya tidak tahu kejadian tadi siang yang membuat Anisa semakin patah hati.


"Nis, kok rasanya sepeda motor kamu beda. Kamu habis jatuh, ya?" tanya Dewi.


"Enggak, Bu." Anisa berusaha menutupi kejadian tadi agar sang Ibu tidak khawatir. Akan sangat panjang ceritanya jika sang Ibu mengetahuinya menyerempet sebuah mobil hingga lecet.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, terlihat Ramli sedang duduk di teras rumah. Dia tengah asyik memainkan ponselnya. Melihat-lihat barang-barang yang ingin dibelinya untuk Salsa. Gadis itu tadi merengek ingin dibelikan sebuah earphone mahal karena teman-temannya sudah memilikinya.


"Assalamualaikum," sapa Dewi sambil mencium punggung tangan suaminya. Begitu juga dengan Anisa. Dia berusaha untuk melupakan kejadian tadi siang dan bersikap seadanya.


Namun, tiba-tiba saja mata Ramli tertuju pada bagian kenalpot sepeda motor Anisa yang ternyata retak serta memiliki goresan kecil. Pasti itu adalah bekas goresan karena tabrakan tadi siang. Namun, Anisa tidak mengetahuinya.


"Ini kenapa? Kamu jatoh?" tanya Ramli sambil mendekati sepeda motor Anisa guna melihat kerusakannya lebih dekat.


"Iya, Nis, tadi pun rasanya pas dinaikin nggak enak. Kamu jatoh?" Dewi kembali menatap Anisa dengan khawatir.


"Iya, Buk, maaf, ya, tadi Bisa nggak sengaja nyerempet mobil orang."


"Apa? Jadi kamu gimana? Ada yang luka nggak?" tanya Dewi sambil memeriksa bagian tangan dan kaki Anisa. Dia pun menemukan sebuah luka di pergelangan tangan Anisa. "Aduh, ini lukanya udah bengkak."

__ADS_1


"Kamu gimana sih, Nis? Kok nggak hati-hati. Motornya kan jadi rusak. Biarpun kamu ada uang buat benerin, tapi kan harusnya kamu nggak ngerusakin barang yang ayah beli," ucap Ramli sambil menatap kesal Anisa.


Dewi hampir tak percaya dengan apa yang dia dengar. Bahkan disaat seperti ini, suaminya masih memikirkan sepeda motor yang hanya mengalami kerusakan kecil.


__ADS_2