
Pesta pernikahan mewah telah usai. Semua tamu undangan dan sanak saudara telah pulang. Begitu juga dengan Salsa yang saat ini dibawa oleh Bagas pulang ke rumahnya bersama sang ibu.
Salsa merasa senang karena pada akhirnya dia akan tinggal di rumah mewah ini dan menjadi nyonya besar. Begitu memasuki rumah, Salsa sedikit tertegun karena tak melihat satu orang pembantu di dalamnya. Selain itu, dia melihat kondisi lantai yang masih berdebu dan juga perabot yang agak berantakan.
"Maaf, ya, Sa, saudara kami menginap di sini selama tiga hari, jadi rumahnya agak berantakan." Giska menerangkan.
"Iya, Ma, nggak papa, kan ada pembantu yang akan membersihkannya," ucap Salsa pelan.
Giska dan Bagas pun saling bertatapan hingga terdapat anggukan dari Bagas yang artinya ibunya harus menjelaskan pada Salsa.
"Sa, begini, kami nggak pernah mempekerjakan pembantu karena dulu, uang kami sering dicuri sehingga kami trauma mempekerjakan mereka lagi."
Salsa masih mendengarkan sambil mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Jadi yang bersihin rumah ini siapa, Ma?"
"Tadinya Mama sendiri. Tapi, sekarang kan ada kamu. Apalagi kata Bagas kamu ini rajin banget bersihin rumah. Bahkan kamu nggak tahan ngeliat rumah berantakan. Makanya, mulai sekarang, kebersihan rumah ini menjadi tanggung jawab kamu, ya. Begitu juga dengan memasak. Sementara uang gajinya Bagas tetap Mama yang pegang. Setiap hari Mama akan memberikan semua bahan-bahan untuk memasak dan juga keperluan lainnya. Kamu hanya tinggal mengerjakannya saja." Giska tersenyum kecil.
"Hah? Jadi, semua pekerjaan rumah Ini harus Salsa yang ngerjain, Ma?" tanya Salsa sedikit syok. Bagaimana bisa kebohongannya malah menjadi bumerang untuknya?
"Iya, Nak, lalu siapa lagi? Mama kan udah tua. Jadi udah sepantasnya Mama beristirahat."
"Kamu itu kan udah menjadi istri aku, harusnya kamu mau dong berbakti pada suami dan mertua kamu. Lagian aku udah ngabisin duit banyak buat kamu, termasuk duit untuk menebus sertifikat tanah kalian. Jadi, udah sepantasnya kamu mengembalikan semua itu dengan tenagamu. Bukankah itu mudah?"
"Tapi, Mas, aku mana bisa melakukan semua itu. Rumahku kecil, sedangkan rumah ini sangat besar dan luas." Salsa mencoba bernegosiasi dengan sang suami.
"Ya, kalau masalah itu aku nggak mau tahu. Pokoknya mulai sekarang aku mau rumah ini bersih 24 jam dan makanan harus tersedia tepat waktu. Mama juga harus diperhatikan dan jangan sampai sakit gara-gara kamu." Bagas menatap tajam pada Salsa.
__ADS_1
Ini sangat mengejutkan Salsa. Sang suami yang dulunya sangat perhatian dan baik padanya mengapa menjadi seperti ini?
"Tapi, Mas, aku nggak mau! Aku kan nikah sama kamu supaya bisa mendapatkan kehidupan yang mewah, bukan jadi istri rasa pembantu!"
Plakkk! Sebuah tamparan keras pun mendarat di pipi Salsa. Membuat wanita itu meringis kesakitan karena pipinya terasah sangat perih. Dia menitihkan air mata karena untuk pertama kalinya dia ditampar oleh orang lain.
Sedangkan Giska, dia sama sekali tidak peduli dan hanya tersenyum melihat perlakuan anaknya yang sangat kasar itu.
"Mas, kenapa kamu tega sama aku?"
"Aku nggak tega sama kamu. Justru aku mempermudah kamu membayar semua hutang hutangmu. Sejak kejadian surat tanah itu sampai sekarang, aku sudah menghitung semua biaya yang aku keluarkan untukmu. Aku menghabiskan biaya yang sangat besar dan kamu harus menggantinya! Tadinya aku ingin mengincar Anisa karena dia sangat pintar memasak dan juga tekun bekerja. Tapi, ternyata ada orang yang lebih dulu menyerahkan dirinya padaku. Aku nggak mau tau, ya! Sebelum rumah ini rapi, kamu nggak boleh tidur!" Bagas pun pergi meninggalkan Salsa setelah mengatakan kalimat ancaman tadi.
"Rasakan! Memang begitulah yang harusnya kamu rasakan. Biar kamu tau bagaimana rasanya menjadi saya!" Giska pun ikut pergi meninggalkan Salsa. Oh, ternyata Ini semua adalah balas dendam Giska pada sang menantu. Dia ingin selesai merasakan apa yang dulu dirasakannya saat menjadi menantu di keluarga suaminya.
__ADS_1
Dia menjadi pembantu di keluarga suaminya sendiri dan menderita selama puluhan tahun sampai sang suami meninggal. Kini, dia tidak ingin merasakan penderitaan itu sendiri. Salsa harus merasakan apa yang dulu dia rasakan agar semua orang tahu bagaimana sakitnya menjadi dirinya. Untung saja dia bisa menyetir Bagas sejak dulu, sehingga pria itu tumbuh dengan sifat yang keras namun tetap menjunjung tinggi ibunya.