
Anisa dan Adit sedang bersiap-siap untuk pergi ke acara pernikahan Salsa dan Bagas. Mereka menikah di sebuah gedung yang sangat besar dan mewah di kota ini. Bahkan kamu undangannya pun dibatasi dan hanya bisa masuk jika membawa undangan tersebut.
"Kamu cantik banget, Nis," ucap Adit sambil mendekati Anisa dan hendak memegangi pipinya.
"Jangan sekarang, Bang, Nisa nggak mau dandan lagi," ucap Anisa sambil memegangi tangan Adit agar tidak menyentuh pipinya.
"Jangan sekarang? Berarti nanti boleh?" tanyanya sambil berbisik. Membuat Anisa merinding dengan jantung yang berdegup kencang.
"Abang apaan, sih. Udah deh, ngomong apa sih." Anisa mendorong Adit dengan wajah semerah tomat. Dirinya sangat malu jika menceritakan hal sensitif dengan suaminya.
"Kan Abang cuma tanya. Nggak boleh juga nggak papa, Abang tetap sabar menunggu Anisa siap, kok."
"Maafin Nisa, ya, Bang karena selama ini nggak memberikan hak Abang sebagai suami. Tapi, sekarang Nisa udah siap, kok. Nisa udah menerima Abang di hidup Nisa." Anisa tersenyum malu, bahkan hampir tak sanggup memperlihatkan wajahnya yang merah merona.
"Apa? Jadi Nisa udah menerima Abang sebagai suami? Nisa udah cinta sama Abang?" tanya Adit dengan tatapan tak percaya.
"Iya, Bang. Nisa sadar kalau suami seperti Abang lah yang Nisa inginkan. Suami yang mencintai Nisa sepenuh hati."
"Kok kamu tiba-tiba ngomong kayak gini."
"Tadi pagi, Nisa dengar pembicaraan Abang sama temen Abang di jalan depan waktu kalian sama-sama nungguin sewa ibu-ibu yang lagi senam. Tadi Nisa maksud mau nganterin sarapan buat kalian, tapi, Nisa nggak sengaja denger waktu Abang ngobrol sama Anto."
Adit pun mengingat percakapannya tadi pagi Anto.
"Dit, enak dong sekarang udah punya istri yang cantik dan pintar masak kayak Anisa," ucap Anto.
"Gue suka sama dia bukan karena dia cantik dan pintar masak, tapi karena dia itu adalah wanita yang solehah dan juga berhati mulia. Gue sering lihat dia bersedekah sama orang kurang beruntung di jalan. Gue juga sering liat dia ngasih makanan gratis ke pengemis yang ada di sekitar pasar. Loe kira gue cinta sama dia karena dia cantik? Enggak, lah. Cantik itu relevan. Solelah itu harus, cantik itu bonus. Dia adalah cinta pertama gue dan akan gue jaga seumur hidup gue."
__ADS_1
"Wah, dalem banget loe. Palingan juga bentar lagi loe bosen sama dia."
"Enggak akan pernah. Gue nggak akan pernah bosan sama berlian yang gue punya. Seumur hidup gue, gue hanya akan mencintai dia dan menua bersama dia. Loe nggak pernah ngerasain gimana indahnya cinta pertama, sih. Playboy cap angkot, loe." Adit meninju lengan Anto pelan. Mereka tertawa bersama-sama sambil menceritakan pekerjaan mereka.
Ternyata itulah yang membuat Anisa sadar bahwa Adit sangat mencintainya. Dia pun memutuskan untuk menerima Adit menjadi suaminya. Menjadi istri yang sangat dipuja-puja suaminya adalah hal yang paling membahagiakan bagi setiap wanita.
Adit tersenyum sambil mendekat ke arah Anisa. "Kalau peluk dulu boleh, nggak?"
"Boleh." Anisa mengangguk sambil tersenyum malu. Adit pun langsung meraih Anisa ke dalam pelukannya dan merasakan betapa indahnya saat mendapatkan wanita yang dicintainya. Yang mau menerima kekurangannya dengan ikhlas.
Mereka pun berangkat dengan menggunakan taksi karena Adit tidak ingin Anisa sakit karena bersentuhan langsung dengan udara malam yang dingin. Padahal, taksi yang mereka tumpangi adalah orang yang dikirimkan oleh sang nenek untuknya.
Sesampainya di sana, Anisa begitu takjub melihat gedung yang sangat mewah dan besar itu. Dia tidak tahu berapa biaya yang akan dihabiskan oleh Bagas untuk pesta pernikahan mewah ini.
Setelah mereka masuk, Anisa pun langsung menghampiri ibunya yang sedang duduk di bangku tamu. Ini aneh karena seharusnya ibunya duduk di dekat pelaminan bersama ayahnya.
Dia pun menghampiri ibunya dan memeluknya dengan. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu karena ibunya selalu sibuk di pasar akibat permintaan barang yang terlalu banyak.
"Nis, mana Adit?" tanya Dewi saat melihat ke sekitar Anisa dan tidak menemukan sang menantu.
"Lho, kemana, ya, Bu? Tadi ada kok. Mungkin ke toilet kali, Bu," ucap Anisa sekenanya. Memangnya ke mana lagi Adit pergi kalau bukan ke toilet? Mana mungkin dia mengobrol dan berbaur dengan orang-orang yang ada di sini?
"Eh, Pak Ramli, sana, dong. Kami kan mau foto," ucap seorang wanita sambil mendorong dada Ramli agar menjauh dari mereka yang ingin berfoto dengan pengantin.
"Saya kan ayahnya. Masa saya nggak boleh ikut foto." Ramli protes hingga membuat beberapa orang yang ingin berfoto dengan sang pengantin berdecak kesal.
Salsa yang melihat kelakuan ayahnya merasa malu pada keluarga suaminya. "Yah, udah dong Ayah pergi dulu, jangan bikin malu."
__ADS_1
Ramli terkejut dengan ucapan Salsa yang dengan teganya mengusirnya dari sana demi membela keluarga mertuanya.
"Lho, Ayah kenapa nggak jadi ikut foto?" tanya Dewi yang heran melihat wajah lesu Ramli.
"Ayah nggak boleh ikut foto sama mereka."
"Nah, ketauan kan sekarang gimana sifat asli anak kesayanganmu. Belain terus tuh anak yang kamu banggakan." Dewi mencibir Ramli yang terlihat semakin kesal.
"Buk, jangan gitu, dong." Anisa mencoba menahan ibunya agar tidak bertengkar di tengah pesta anaknya seperti ini.
"Iya, Ayah yakin tadi pasti Salsa salah ngomong. Nggak mungkin dia kayak gitu sama ayahnya sendiri. Dia cuma lagi senang aja dengan pernikahannya makanya salah ngomong," ucap Ramli yang masih terus membela anak kesayangannya meskipun sudah jelas bahwa Salsa bersalah.
"Ramli, Ramli, pengen banget aku jedotin kepala kamu ke dinding biar tahu rasa," gerutu Dewi dalam hati.
"Maaf, permisi." Tiba-tiba seorang wanita separuh baya menghampiri mereka. Wanita itu sangat cantik dan modis, kelihatan sekali bahwa dia adalah seorang wanita terhormat.
"Eh, iya, Bu, kenapa?" tanya Dewi dengan sopan.
"Apakah kalian..."
"Mam...eh, Nyonya, maaf, di sini, Nyonya. Orang yang anda cari di sini." Tiba-tiba saja Adit datang dan membawa wanita separuh baya itu pergi.
Anisa dan kedua orang tuanya hanya bisa saling bertatapan dan heran mengapa Adit bisa mengenal wanita berkelas seperti itu?
"Mungkin langganan angkot Adit, kali, Bu," ucap Ramli menerka-nerka.
"Husss! Sembarangan aja! Mana mungkin orang kaya kayak gitu mau naik angkot."
__ADS_1
"Udahlah, Bu, mungkin aja Ibu tadi itu pemilik usaha tempat angkot Bang Adit." Pemikiran Anisa lah yang paling masuk akal. Mungkin saja wanita itu adalah orang yang memiliki usaha angkutan umum dan Adit adalah salah satu driver angkutan umum itu.