Jangan Bedakan Aku

Jangan Bedakan Aku
Viral


__ADS_3

Dewi tergesa-gesa pulang ke rumah. Dia melajukan sepeda motornya dengan sangat kencang. Wajah masam membuatnya tak bisa menyapa orang-orang yang dikenalnya sepanjang jalan pulang ke rumah.


Di sisi lain, Anisa tengah sibuk melayani pelanggan di warungnya karena saat ini adalah jam makan siang. Tidak hanya orang-orang yang berdagang di pasar, orang-orang dari luar pun berdatangan hanya untuk menikmati cita rasa masakan yang sangat lezat.


Sekarang dia sudah tidak kerepotan lagi karena memiliki satu orang lagi yang membantunya. Namanya adalah Sela. Jika Indah memiliki fisik yang kuat, maka Sela memiliki tangan yang telaten. Dia bertugas untuk mencatat pesanan pelanggan Dan juga mencuci piring bekas makanan dan minuman mereka. Sedangkan yang memasak tetaplah Indah dan Anisa.


Dewi sudah sampai di depan rumahnya saat Devi yang baru saja selesai melakukan pekerjaan rumah dan hendak pulang.


"Bu Dewi, pulang makan siang, Bu? Tadi saya udah masakin..."


"Iya, saya memang mau makan. Makasih, ya, Dev, sekarang kamu boleh pulang," ucap Bu Dewi menahan geram. Wajahnya masih terlihat tidak bersahabat.


Devi yang heran tetap memilih untuk pulang dan tidak bertanya banyak karena sepertinya Dewi sedang tidak enak hati.


Setibanya di dalam rumah, Dewi langsung menuju ke kamar Salsa yang tidak dikunci. Terlihat sang ratu sedang rebahan di atas ranjang sambil memainkan ponselnya dan mendengarkan melalui headset.


Melihat kedatangan sang ibu yang tidak mengantuk terlebih dahulu membuat Salsa marah dan langsung membuka headset serta meletakkan ponselnya ke atas ranjang dengan asal.


"Buk, bisa nggak sih masuk ke kamar orang itu ketuk dulu!" ucap Salsa kesal.


"Diem, kamu! Sekarang kamu jelasin apa maksudnya ini!" Dewi menunjukkan layar ponselnya kepada Salsa.


Mata Salsa membola sempurna saat melihat sebuah video yang saat ini ternyata menjadi perbincangan hangat. Bukan, bukan video yang diambil Bu Asih beberapa waktu lalu. Nyatanya video itu belum juga efyepe karena Bu Asih tak pintar mengedit dan mengupload video polos tanpa backsound ataupun kata-kata. Ada beberapa video yang viral dengan konsep yang polos. Namun, karena kamera ponsel Bu Asih yang kurang jernih membuat netizen enggan melihat sampai selesai.


"Buk, darimana ibu dapat ini?" Salsa berdiri dari ranjang dan menatap khawatir.

__ADS_1


"Jadi ini kelakuan kamu bersama teman-temanmu yang nggak berguna itu, ha?!"


Salsa terlihat ketakutan karena ibunya memang benar-benar sangat marah. Dia merasa ngeri melihat ibunya yang sudah mengepalkan tangannya erat. Dia hanya takut sebuah tamparan melayang di pipinya yang mulus bekas dimasker itu. Dia melirik jam dinding. Jelas ini adalah waktu ayahnya pulang karena di tempat kerja sang ayah sedang ada acara yang tidak memakan waktu lama.


"Sejak kapan kamu suka dugem kayak gini, ha?" Dewi kembali membentak Salsa yang semakin ketakutan. Nyatanya, tanpa ayahnya, dia tidak bisa berbuat apapun.


"Buk, itu Salsa dipaksa temen-temen ke club malam dan mabuk. Salsa sebenarnya nggak mau. Tapi, mereka maksa dan minta Salsa untuk minum yang banyak." Salsa mencoba menjelaskan agar sang Ibu mau mengerti.


"Jangan bohong, Sa. Walaupun Ibu sedikit gaptek, tapi Ibu tahu bagaimana caranya mendengarkan isi video dan membaca kolom komentar. Temanmu yang mengunggah video ini berkali-kali mengatakan padamu untuk berhenti minum. Namun, kamu tetap minum dan mengatakan mereka cemen karena tidak mau minum sebanyak kamu! Terus! Di kolom komentar, banyak sekali orang yang mengenalmu dan mengatakan bahwa kamu adalah ratunya club' malam itu! Terbukti bahwa kamu sering ke sana, kan?"


Salsa tak mampu berkutik lagi karena ibunya tak bisa diperdaya seperti ayahnya. Dia hanya menangis dan menundukkan kepalanya berharap sang Ayah cepat pulang.


"Ada apa, ini?" Tiba-tiba saja terdengar suara Ramli yang berdiri di ambang pintu menyaksikan anak dan istrinya yang sedang dalam suasana tidak baik.


"Ayah." Salsa menghampiri ayahnya sambil menangis.


"Ayah, Salsa tau Salsa salah. Salsa minta maaf."


Dewi menoleh ke arah mereka dengan tatapan tajam. Pintar sekali Salsa pembalikan keadaan dengan meminta maaf duluan kepada sang ayah sebelum Dewi memberitahu yang sebenarnya.


"Anak kamu sering mabuk-mabukan di klub malam. Ini videonya." Dewi langsung menunjukkan video itu daripada berlarut-larut dalam drama ini.


Ramli terkejut melihat tingkah laku anaknya yang di luar batas. "Ini beneran kamu, Sa?" tanya Ramli yang tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Yah, Salsa minta maaf. Salsa janji nggak akan ulangi lagi."

__ADS_1


"Pinter banget kamu, ya. Tadi di depan Ibu kamu membela diri dan nggak mau disalahkan. Tapi, di depan ayahmu kamu malah meminta maaf seperti ini!" Mata Dewi semakin melotot tajam.


"Buk, udah, Salsa udah minta maaf, kan? Kenapa harus diperpanjang?"


"Apa kamu bilang, Mas? Minta maaf? Terus dengan minta maaf masalah sudah selesai? Gimana sama perasaan aku yang malu sama teman-teman ku di pasar! Mereka memperbincangkan perbuatan Salsa. Kenapa sih dia nggak bisa kayak Anisa."


"Buk, udahlah, apakah dengan marah seperti ini video itu akan hilang? Nggak ada gunanya marah, itu hanya akan membuat kamu kena hipertensi."


"Ya, benar, punya anak dan suami seperti kalian memang benar-benar menguji kesabaran. Selalu bikin darah tinggi! Kalian itu memang cocok sebagai ayah dan anak karena memiliki sifat yang egois dan bikin jengkel!"


"Buk, udah dong. Jangan gitu terus, kasian Salsa."


"Terserah kamu, Mas. Palingan juga kamu sendiri yang akan malu di depan teman-temanmu karena ulah anakmu sendiri." Dewi menatap sinis.


"Dan kamu, Sa, sekali lagi kamu bikin kayak gini, Ibu nggak akan mengampuni kamu!"


Dengan perasaan yang masih emosi, Dewi pun pergi ke pasar tanpa makan siang terlebih dahulu karena dia masih benar-benar emosi.


Sesampainya di pasar, Dewi langsung pergi menemui Anisa yang sedang merapikan meja makan pelanggan.


"Buk, darimana? Ibuk udah makan? Anisa bikinin, ya."


Dewi yang melihat betapa perhatian dan lembutnya sang anak seolah bisa meredam kemarahannya saat ini. Dia tersenyum melihat Anisa yang sangat baik dan perhatian seperti ini.


"Gak usah, nanti aja. Liat kamu perhatian sama Ibu aja Ibu udah seneng." Dewi tersenyum sambil mengusap kepala sang anak.

__ADS_1


Ucapan Dewi membuat Anisa heran. Namun, dia berusaha untuk tidak bertanya lebih karena dia tahu jika sang Ibu berkata seperti ini, berarti hatinya sedang kesal dan diselimuti emosi.


__ADS_2