Jangan Bedakan Aku

Jangan Bedakan Aku
Belum Berubah


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Anisa bangun untuk beberes rumah sebelum pergi berjualan ke pasar. Pertama dia menyapu dan mengepel lantai, mencuci pakaian, mencuci piring. Masih terlalu gelap untuknya menjemur pakaian sehingga tetap membiarkannya di dalam pengering mesin cuci.


Setelah melaksanakan salat subuh, dia membangunkan kedua orang tuanya. Kebetulan sang ibu sudah mengalami PNS sehingga tidak melaksanakan salat subuh. Sedangkan Ramli? Dia jarang ingin melaksanakan salat subuh. Saat dibangunkan dia hanya mengatakan nanti, namun matanya terus terpejam sampai matahari terbit.


Ibunya pun membantu Anisa menyiapkan sarapan pagi itu. Ramli yang harus berangkat bekerja pagi-pagi sekali karena ada urusan penting pun mandi duluan.


Setelah selesai mandi, dia pun pergi ke meja makan dan menikmati sarapan yang selesai dibuat oleh istri dan anaknya.


"Buk, kayaknya ini masih mendung deh. Jangan berpakaiannya di dalam rumah aja, ya," ujar Anisa sejak tadi memperhatikan cuaca di luar.


"Udah nggak usah, yang jemur pakaian biar Salsa aja. Dia kan yang bangun paling terakhir di sini. Paling jam sembilan atau jam sepuluh dia baru bangun," sahur Dewi.


"Kok jadi malah nyuruh-nyuruh Salsa? Kan kasihan dia kecapean," sela Ramli.


"Kecapean gimana, Yah?" tanya Dewi yang tidak mengerti. Dia hanya mengetahui bahwa tadi malam Salsa pulang nongkrong bersama teman-temannya lumayan larut karena memberi kejutan kepada salah satu temannya.

__ADS_1


"Dia kan tadi malam pulang sampai tengah malam. Pasti capek lah karena merayakan ulang tahun temannya. Mempersiapkan kejutan itu kan bukan hal yang mudah."


Anisa menghela nafas panjang. Nyatanya semua usahanya untuk membuat ayahnya tidak membeda-bedakannya dengan Salsa sia-sia saja. Sepertinya pria itu memang sudah terbiasa membeda-bedakan anaknya.


Wajah Dewi terlihat memerah. Itu adalah reaksi emosi yang dipicu oleh kalimat Ramli.


Anisa yang mengetahui ibunya akan meledak-ledak mengisyaratkan mata pada Ramli agar pria separuh baya itu ingat tentang kesepakatan mereka.


"Eh, anu, iya, maksud Ayah itu, maksudnya jangan dibangunkan pagi-pagi begini. Nanti kasih aja dia pesan memo di atas meja makan supaya dia bantu menjemur pakaian."


"Oh, iya, Anisa aja yang menulis catatan untuk Salsa. Lagian kenapa sih anak itu dibiarkan bangun siang-siang? Itu nggak bagus loh buat kesehatan. Apalagi dia itu anak perempuan. Laki-laki mana yang mau mempersunting gadis malas kayak gitu." Dewi menghela nafas panjang sambil menyendokkan nasi dan lauk ke dalam piringnya.


"Biarin ajalah, Bu. Dia kan masih ingin menikmati masa mudanya. Nanti pasti ada saatnya dia menyadari bahwa usianya semakin dewasa. Dan soal laki-laki yang mau mempersunting dia, pasti banyak lah. Dia itu kan sarjana, cantik, ayahnya PNS." Ramli tersenyum sambil membanggakan anaknya serta dirinya.


"Tapi ayah tahu nggak sih, semua ibu-ibu yang ada di komplek ini nggak mau kalau Salsa jadi menantu mereka? Kebanyakan mereka malah menginginkan Anisa menjadi menantu untuk mereka. Karena apa? Karena di komplek ini Salsa itu dicap sebagai anak pemalas. Sedangkan Anisa dicap sebagai anak yang rajin. Heran deh sama ayah yang nggak pernah membanggakan Anisa." Dewi mulai menggerutu mengomentari sikap suaminya yang selama ini tidak pernah membanggakan Anisa.

__ADS_1


Setiap kali Ramli bertemu dengan rekan-rekan kerja sesama PNS, dia pasti membanggakan Salsa. Sedangkan nama Anisa tak pernah sekalipun diucapkannya.


"Buk, udah dong masih pagi loh." Anisa menegur ibunya agar tidak memicu pertengkaran dengan sang ayah. Lagi-lagi dia memberikan isyarat pada Ramli agar tidak membuat sang Ibu semakin emosi.


"Kamu ini selalu aja ngebelain ayahmu. Biar aja nanti, kalau Salsa udah nikah, gimana nasib rumah tangganya kalau punya istri malas kayak dia. Syukur-syukur dia dapat orang kaya," ucap Dewi di tengah kekesalannya.


Ramli yang sudah bersiap berangkat kerja pun langsung mengeluarkan sepeda motornya dan memanaskan mesinnya terlebih dahulu.


Annisa pun datang sambil membawakan helm kepada Ramli karena ayahnya itu memang selalu lupa memakai helm. Meskipun seringkali ditolak karena menurutnya jarak sekolah sangat dekat, namun Anisa hanya ingin rame mematuhi peraturan pemerintah, salah satunya berkendara dengan menggunakan helm.


Ramli menerima helm tersebut. Namun, setelahnya dia pun berbisik kepada Anisa. "Nanti siang kamu usahain buat pulang, ya. Jemurin pakaiannya."


Deg, ternyata sang ayah benar-benar memainkan sandiwaranya di depan sang ibu. Anisa lagi-lagi menelan kekecewaan melihat ayahnya yang tak bisa menepati janjinya.


Setelah ayahnya pergi, dia menyeka sudut matanya yang basah. Salahkah dia jika marah pada ayahnya yang masih bersikap tak adil padanya dan juga adiknya?

__ADS_1


__ADS_2