Jangan Bedakan Aku

Jangan Bedakan Aku
Setelah Menikah


__ADS_3

Pagi menjelang, Anisa bangun saat adzan Subuh sudah berkumandang. Dia pun membangunkan suaminya untuk melaksanakan salat subuh berjamaah. Mereka tidak melakukan mandi wajib terlebih dahulu karena tidak terjadi apa-apa tadi malam.


Anisa mengatakan pada Adit bahwa dia belum siap untuk hal itu. Dia masih butuh waktu untuk benar-benar menerima Adit sebagai suaminya. Adit tidak marah, dia hanya tersenyum dan mengangguk meski di dalam hatinya terasa sangat sakit. Dia mengira Anisa telah mencintainya. Namun, setelah Anisa menceritakan semuanya, barulah dia mengerti bahwa wanita itu sedang menghindari Bagas agar pria itu mau menjadi pendamping hidup Salsa.


Adit pun bangun dan mengambil wudhu, lalu salat berjamaah dengan Anisa. Sesuai salat, Anisa pun pergi ke dapur untuk membuatkan sarapan dan juga teh untuk Adit.


Di rumahnya, rupanya sudah ada beberapa tetangga yang datang untuk membantu membereskan barang-barang sewaan yang akan dikembalikan hari ini.


"Wah, pengantin baru udah bangun? Kok rambutnya nggak basah? Mandinya tadi malam, ya?" goda Bu Asih sambil membantu Dewi membereskan piring-piring yang ada di dapur.


Anisa hanya cengengesan tanpa bisa berkata apapun. Mana mungkin dia mengatakan bahwa mereka tidak melakukan apapun tadi malam?

__ADS_1


Dia pun langsung menuju kompor untuk memasak sarapan pagi ini. Nasi goreng pilihan yang tepat karena masih banyak ayam dan daging yang tersisa bekas hajatan kemarin.


Selesai memasak, Anisa pun menghampiri Adit dan memberikan sarapan itu. Adit menikmati sarapan yang dibuat oleh sang istri dengan penuh kenikmatan. Masakan Anisa memang enak, dan itu sebuah fakta yang semua orang mengetahuinya.


Selesai sarapan, Adit pun ikut membantu orang-orang untuk membereskan barang-barang yang ada di depan rumah. Ada beberapa bapak-bapak yang turut membantu petugasnya.


"Ini suaminya Anisa, Pak?" tanya salah seorang pekerja pada Ramli.


"Iya, dia ini menantu saya."


"Oh iya, saya tau. Adit kan bukan dari keluarga yang kaya. Jadi, Anisa memang harus mempersiapkan mental untuk hidup susah."

__ADS_1


Ucapan yang begitu saja keluar dari mulut Ramli. Berhasil mengoyak hati Adit yang baru saja resmi menjadi menantunya. Bagaimana bisa ada ayah mertua yang menghina menantunya secara langsung tepat di depannya?


"Eh, bukan itu maksud saya, Pak. Adit ini adalah satu-satunya sopir angkutan umum yang paling digemari penumpang. Angkotnya aja selalu dekat-desakan karena orang berebut mau naik di angkotnya. Kebanyakan sih ibu-ibu dan anak sekolah atau mahasiswi. Dan penyebabnya karena Adit ganteng. Kalau soal ekonomi. Aduh, Bapak nggak usah meragukan dia. Kalau dihitung-hitung, dalam satu bulan, penghasilannya itu setara dengan penghasilan Bapak."


Ramli pun sedikit merasa tak enak hati karena tadi sudah menghina Adit. Karena menurut pandangannya, seorang sopir angkot tidak mungkin memiliki uang yang banyak. Namun, berdasarkan cerita dari pria tadi, sepertinya wajah Adit adalah salah satu penarik minat penumpang hingga membuatnya tak pernah kekurangan penumpang sekalipun.


"Maaf, ya, Dit, bukan maksud saya kayak gitu."


"Nggak apa-apa, Yah." Adit hanya tersenyum sambil mengangguk. Sebenarnya, tanpa perlu bekerja, dia pun sudah bisa memberikan Anisa kehidupan yang layak.


Namun, dia masih belum mau pulang ke rumah orang tuanya karena masih marah pada mereka. Dulu, dia pernah dipaksa menikah dengan salah satu anak rekan bisnis mereka. Adit pun menolak dan hal itu membuat orang tuanya marah. Mereka mengusir Adit dan mengatakan padanya bahwa dia tidak boleh kembali ke rumah kecuali menyetujui pernikahan itu.

__ADS_1


Jika dihitung, Adit sudah pergi dari rumah sekitar dua tahun. Namun, dia tidak hidup sendirian di kota besar ini karena sang nenek yang sangat mencintainya telah mengirimkan beberapa pengawal yang akan menjaganya. Namun, kalau untuk yang, Adit tidak pernah mau menerimanya dan memilih untuk bekerja saja.


Karena yang dia bisa lakukan hanyalah menyetir, maka dia pun menjadi sopir angkot fans semua penumpang.


__ADS_2