
Seminggu kemudian.
"Nisa, jaga diri kamu baik-baik bersama suamimu, ya. Sering-sering main ke rumah ayah dan ibu." Dewi mengusap kepala putrinya yang ditutupi hijab sambil menangis. Anisa adalah Putri kesayangannya dan hari ini dia harus berpisah tempat tinggal darinya.
"Iya, Bu, Nisa akan baik-baik aja di sini. Ibu jaga kesehatan dan jangan terlalu capek, ya."
"Nisa, kamu baik-baik di sini, ya, jangan menyusahkan suamimu. Jangan menyurutkan rezekinya, ya."
Ucapan Ramli sontak membuat Dewi terkejut dan menatap ke arahnya dengan tatapan tajam.
"Enggak, maksud Ayah hidup Adit kan susah, jadi jangan sampai dia lebih menyusahkan lagi."
"Maaf, Ayah, Insya Allah saya akan mencukupi kebutuhan Anisa. Ayah jangan khawatir, saya tidak akan membuatnya kekurangan." Tidak tersinggung sama sekali, Adit malah merespon positif perkataan sang ayah mertua.
Mereka pun segera pulang karena Dewi tidak ingin Ramli mengeluarkan kata-kata yang lebih menyakitkan lagi untuk mereka. Sebagai seorang ayah, dia tidak bisa menyaring kata-katanya bahkan di hari pertama anaknya pindah ke rumah suaminya.
Adit pun membawakan koper Anisa ke dalam kamarnya. Rumah yang berukuran sedang itu terlihat sangat nyaman dan asri. Entah bagaimana Adit merawatnya hingga rumah itu terlihat sangat rapi dan bersih. Anisa hanya tidak tahu jika sebelum subuh, rumah itu akan didatangi oleh beberapa wanita yang diutus oleh neneknya untuk membersihkan rumah tersebut sebelum matahari terbit. Mereka juga memaksakan sarapan untuk Adit agar pria itu tidak telat makan.
Anisa yang telah selesai membereskan pakaiannya ke lemari kosong yang Adit sediakan langsung pergi ke dapur untuk meracik bahan masakan yang ada di dalam kulkas. Sebagai seorang istri, tentu saja dia memiliki kewajiban untuk menyediakan makanan bagi sang suami.
Setelah makanan siap, makan siang bersama di meja makan yang berada di tengah-tengah dapur. Untuk ukuran rumah kontrak, fasilitas di rumah ini termasuk lumayan lengkap dengan negara berbagai macam perabot dan juga fasilitas lainnya.
"Nis, Abang mau ngomong sama kamu," ucap Adit sambil menatap ragu.
"Ya, Bang, kenapa?"
"Sekarang tempat kamu jualan kan udah dikelola sama Mbak Indah dan temannya. Apa nggak sebaiknya kamu berhenti aja."
Anisa menghentikan aktivitas mengunyahnya dan menatap Adit dengan tatapan serius.
__ADS_1
"Kenapa, Bang? Abang takut kalau Nisa nggak bisa melakukan tugas Nisa sebagai istri di rumah ini karena bekerja di luar?" tanyanya heran.
"Nggak gitu, Nis, Abang cuma nggak mau kamu capek. Belum lagi omongan orang-orang yang akan mengatakan bahwa Abang nggak bisa memenuhi kebutuhan kamu sehingga kamu harus bekerja."
"Ya ampun, ngapain abang dengerin ucapan orang-orang?" Anisa tertawa sambil menggelengkan kepalanya perlahan.
"Bukan itu aja, Nis. Abang juga nggak suka jika kamu mendapatkan tatapan dari banyak pria yang makan di warungmu." Akhirnya Adit mengatakan uneg-unegnya yang sedari tadi ditahannya. Dia memang sering memperhatikan tatapan semua lelaki yang mampir di warungnya. Mereka memandang tubuh Anisa sambil saling berbisik. Aneh, bahkan tubuh wanita yang sudah terbungkus pakaian panjang dan jilbab pun masih menjadi objek liar mereka.
Anisa mencoba berpikir sejenak. Dia memang membenarkan ucapan Adit karena beberapa kali ada pria yang mencoba menggodanya. Bahkan ada yang mengatakan bahwa Anisa akan lebih cantik jika melepas jilbab dan memakai pakaian seksi.
"Tapi Nisa nggak mau menjadi beban Abang." Anisa menghela nafas berat.
"Nisa, kamu itu udah menjadi istri Abang dan akan menjadi tanggung jawab Abang selamanya. Kamu nggak usah pikirin tentang nafkah dan kebutuhan kamu. Abang akan berusaha untuk memenuhi semua itu. Karena Abang cinta sama kamu." Adit memberanikan diri memegang tangan Anisa. Dia tersenyum semang karena Anisa tak melepas tangannya seperti sebelumnya.
"Maafkan Nisa, ya, Bang karena Nisa belum bisa jadi istri yang Abang inginkan. Nisa belum sepenuhnya mencintai Abang."
"Nggak apa-apa, Sayang. Abang ngerti. Abang akan menunggu sampai Nisa mau menerima dan mencintai Abang sepenuh hati."
"Boleh, Sayang. Kalau di rumah kamu boleh menyalurkan hobimu. Tapi, jangan sampai kamu sakit, ya."
"Iya, makasih, Bang." Anisa mengangguk sambil tersenyum. Ya, setidaknya dia masih bisa menyalurkan hobinya dan memanfaatkannya sebagai ladang bisnis.
***
"Wah, ini rumah kamu, Mas?" tanya Salsa saat Bagas membawanya ke rumah. Rumah itu sangat besar dan lumayan mewah untuk ukuran orang seperti Salsa.
"Iya, Sa, ini rumah aku. Kamu suka?"
"Suka banget, Mas," ujar Salsa dengan tatapan mata berbinar-binar.
__ADS_1
"Eh, ada Salsa, sini, masuk, Nak," ucap seorang wanita separuh baya yang bergaya modis.
"Makasih, Ma. Mama lagi apa?" Mama memanglah sebutan untuk Salsa kepada mamanya Bagas karena itu adalah permintaan sang calon mama mertua. Namanya adalah Giska.
"Mama tadi habis masak buat kalian, ayo," ujar Giska sambil berjalan menuju ke ruang makan.
Mereka pun makan siang bersama sambil mengobrol ringan.
"Sa, kamu bisa masak, kan?" tanya Giska tiba-tiba. Membuat Salsa gugup karena dia tidak pintar memasak. Apakah pertemuan pertamanya dengan Bagas waktu itu masih terekam jelas di ingatan pria itu?
"Eh, i-iya, Ma, kenapa?" jawabnya gugup.
"Mama ingin menantu yang bisa memasak dan rapi. Kata Bagas, kamu itu kerjaannya rapi."
Seketika wajah Salsa memucat. Apa maksudnya ini? Jadi sang calon ibu mertua menerimanya hanya karena mendengar cerita Bagas bahwa dia adalah wanita yang rajin dan pintar memasak? Bagaimana caranya mempertanggungjawabkan semua itu? Apakah dia harus ikut les memasak dulu?
"Iya, Ma, tapi, bukannya di sini ada pembantu, ya. Mereka nggak masak?"
Seketika Giska dan Bagas saling bertatapan. Hingga saat Giska ingin menjawab, Bagas langsung memotong kata-katanya dan menjawab duluan.
"Nggak gitu, Sa, kan rasanya lebih afdol jika seorang istri memasak untuk suaminya."
"Oh iya, hehe, kirain. Terus ini kok kayaknya pembantunya nggak ada, ya, Mas? Apa mereka lagi kerja di belakang?"
"Enggak, mereka udah pulang."
Giska terkejut mendengar ucapan Bagas. Pembantu? Memangnya sejak kapan mereka memiliki pembantu? Sayang rasanya jika mereka mengeluarkan uang untuk menggaji pembantu.
Dan selama ini, yang membersihkan rumah dan masak adalah Giska sendiri. Dia enggan menyewa jasa pembantu karena tidak ingin uangnya keluar cuma-cuma. Makanya, dia ingin mencari menantu yang pintar memasak dan rajin bekerja di rumah agar tidak perlu membayar pembantu untuk membersihkan rumahnya dan mengenyangkan perutnya.
__ADS_1
Sayangnya, Salsa tidak tahu akan hal ini dan menganggap bahwa setelah menikah dengan Bagas, maka dia akan menjadi nyonya rumah ini.