Jangan Bedakan Aku

Jangan Bedakan Aku
Menagih


__ADS_3

Beberapa minggu kemudian.


Pagi itu disambut dengan sinar mentari yang menerangi bumi ini. Begitu juga dengan Ramli serta Dewi yang mendadak kedatangan besan mereka, yaitu Giska serta Bagas.


"Lho, Bu, Salsa mana, kok nggak ikut?" tanya Dewi heran karena sang anak malah tak terlihat.


"Tadi Salsa bilang badannya capek karena tadi malam bergadang main ponsel," ucap Giska berbohong.


"Oh, maafkan anak kami, ya, Bu," ujar Dewi yang merasa sungkan. Tak berselang lama, datanglah Devi membawakan minuman dan cemilan untuk mereka.


"Nggak apa-apa, Bu. Oh ya, kedatangan kami ke sini adalah untuk menagih janji Pak Ramli yang tempo hari meminta uang pada Bagas sebanyak tujuh puluh juta," ucap Giska yang langsung membuat Dewi maupun Ramli kaget.


Dewi terkejut karena Ramli meminjam tanpa sepengetahuannya, sedangkan Ramli terkejut karena seingatnya yang diberikan Bagas adalah secara cuma-cuma.


"Ayah minjam sebanyak itu buat apa?" tanya Dewi dengan tatapan tajam.


"Anu, Bu, buat...."


"Kata Ayah, dia meminjam untuk membeli tanah di kampung."

__ADS_1


"Tanah di kampung? Bukannya tanah itu udah dibeli Pak Rahmat? Ayah hanya perantara aja? Jadi uangnya buat apa?" Dewi semakin menajamkan tatapannya.


"Maaf, Bu, teman ayah meminjam uang koperasi sekolah atas nama ayah. Tapi dia kabur dan ayah disuruh ngelunasin hutangnya atau Ayah akan dilaporkan polisi," ucap Ramli ragu.


"Ya ampun Ramli, Ramli, kamu itu bego atau gimana sih? Bisa-bisanya kamu minjemin temen kamu sebanyak itu pake atas namamu. Ternyata bukan Salsa aja yang membuat ekonomi keluarga kita merosot. Tetapi kamu juga! Emang dasar aki-aki, mau aja dibegoin orang!" Dewi habis memakai Ramli di depan besannya dan menantunya. Rasanya emosinya tak mampu lagi meredam karena kesekian kalinya Ramli mengalami kerugian karena kebodohannya sendiri.


"Tapi, Buk, waktu itu Bagas bilang kalau dia ngasih, bukan minjemin, kok. Ini Ayah ada bukti ucapan dia." Ramli memperdengarkan suara rekaman mereka saat dirinya meminjam uang. Bagas sedikit tertegun karena rupanya Ramli tak sebodoh yang dia pikirkan.


"Ya, aku bilang ngasih, tapi kan Ayah udah nandatanganin surat gadai rumah ini." Bagas memberikan salinan surat gadai yang tempo hari telah ditandatangani oleh Ramli.


Ramli dan Dewi sama-sama terkejut melihat surat gadai itu.


"Ya, saya nggak tau. Pokoknya waktu itu saya menyerahkan surat gadai ini untuk ayah tanda tangani." Bagas tersenyum penuh kemenangan.


"Kamu kok tega sama mertua kamu sendiri?"


"Siapa yang tega? Salah kalian sendiri kenapa terlalu matre jadi orang. Kalian memanfaatkan kami dengan menyerahkan anak kalian yang nggak berguna itu. Kerjaan rumah dan masak aja dia harus belajar dulu. Kalau saya tau dia nggak ada gunanya kayak gitu, lebih baik saya nggak jadi nikah sama dia."


"Heh, Gas, kamu nggak boleh ngomong gitu dong. Salsa itu kan istri kamu. Kamu itu nyari istri atau pembantu?"

__ADS_1


"Udahlah, saya nggak ada waktu untuk mendengarkan ceramah kalian. Sekarang saya minta kalian mengembalikan uang saya atau rumah ini saya sita. Oh ya, termasuk uang saat penebusan surat tanah ke pak Imron, dan juga uang mahar yang saya berikan untuk Salsa."


"Gila kamu, Gas? Uang mahar pun mau kamu minta juga?"


"Ya iyalah, asal kalian tau, Salsa itu ternyata bekas orang. Ya rugi saya ngasih dia segitu banyak kalau dapat yang bekas!"


Dewi dan Ramli sama-sama syok mendengar semua ini.


"Udahlah, sekarang kalian keluar dari rumah ini!" Bagas memanggil orang-orang yang tadi telah disuruhnya untuk ikut guna melancarkan rencana pengusiran hari ini.


"Eh, apa-apaan ini, Gas! Jangan!" Dewi memberontak saat dirinya dan Ramli diseret paksa keluar oleh orang-orang berbadan kekar itu. Keributan itu pun lucu para tetangga dan orang-orang yang lewat datang menyaksikan. Tak sedikit dari mereka yang menceritakan kejelekan Ramli, dan tak jarang juga yang mengatakan bahwa Bagas menantu yang keterlaluan.


Namun, baru saja Bagas keluar dari rumah itu, dia terkejut melihat sebuah mobil mewah yang berhenti tepat di depan rumah itu.


Dia meneliti mobil itu dan terdapat logi perusahaan ADW. Sudah dipastikan, pemilik mobil itu adalah bosnya.


Dengan tangan gemetaran, Bagas masih berdiri mematung sambil menanti siapa yang kira-kira keluar dari mobil itu.


Hingga saat seseorang keluar, dia pun terkejut setengah mati dengan wajah pucat pasi seperti melihat hantu.

__ADS_1


__ADS_2