
Keesokan harinya.
Anisa yang sudah bangun bingung harus melakukan apa karena ibunya tidak memperbolehkannya membersihkan rumah. Dia baru saja selesai menunaikan salat subuh. Dirinya yang sudah terbiasa melakukan aktivitas pagi pun memilih untuk membersihkan kamarnya saja. Merapikan kembali isi lemarinya, hingga menyusun buku-buku cerita miliknya berdasarkan warna.
Hingga saat matahari semakin terlihat, dia pun keluar dari kamarnya untuk melihat apa yang sedang ibunya lakukan. Ternyata Dewi sedang memasak di. Anisa terlihat sangat gemes melihat pakaian yang berantakan di dalam keranjang pakaian. Keadaan ruang tamu yang masih berantakan dan juga lantai yang masih menyisakan sedikit debu. Belum lagi keadaan dapur yang lumayan berantakan dengan banyak piring kotor yang belum dicuci.
"Bu, lagi masak apa?" Anisa memberanikan diri menghampiri sang ibu. Tangannya sudah gelisah karena ingin memegang seluruh pekerjaan di rumah ini.
"Cuma nasi goreng aja. Kamu mandi sana, Nak, biar kita sarapan sama-sama."
"Bu, rumah sama dapur masih berantakan ya? Boleh nggak kalau Nisa..."
"Enggak! Apa kamu dengar perkataan Ibu kemarin? Kamu nggak boleh kerjain pekerjaan rumah ini selain kebutuhanmu sendiri!" ketus Dewi. Dia merasa kesal jika Anisa menyinggung soal pekerjaan rumah yang sebenarnya sudah tak boleh dilakukannya lagi.
"Terus yang ngerjain siapa, Bu?"
"Kamu jangan khawatir. Rumah ini nggak akan dikerjain adikmu. Bisa-bisa makin berantakan. Tadi ayah bilang kalau dia udah nyari orang yang akan bantu-bantu di sini."
"Hah? Siapa, Bu?"
"Mbak Devi, yang rumahnya di ujung depan itu."
"Tapi, Bu, kan Bu Devi itu..."
"Iya, dia suka ngegosip. Tapi kita nggak punya pilihan lain karena cuma dia yang mau kerja di rumah ini."
__ADS_1
Anisa mengernyitkan dahinya mendengar ucapan sang ibu. Mengapa hanya Devi yang mau? Padahal di komplek itu banyak orang-orang yang membutuhkan pekerjaan ini.
"Tadi malam Bapak langsung nyari orang yang akan membersihkan rumah kita. Dia bilang kalau semua orang yang dia tawarin menolak kecuali Devi. Ayah nggak bilang sebabnya apa. Tapi, Ibu pernah dengar dari ibu-ibu di warung kalau mereka nggak suka sama Salsa yang kurang sopan. Jadi, bisa disimpulkan kalau mereka kerja di sini, maka Salsa akan bersikap semena-mena."
Anisa hanya mengangguk saja. Dia sudah tidak mau lagi menawarkan dirinya karena sang Ibu pasti akan marah.
Dia pun segera mandi dan mencuci pakaiannya serta menjemurnya. Dia pun datang ke ruang makan dengan pakaian yang sudah lengkap.
Sepanjang sarapan, Anisa berkali-kali melirik piring kotor dan keadaan dapur yang berantakan.
"Udah, deh, jangan diliatin terus! Mau kamu memohon kayak manapun Ibu nggak akan biarin kamu membersihkan rumah ini!"
"Kenapa, sih, Bu? Orang Anisanya mau, kok."
Dewi langsung menoleh dan menatap tajam Ramli. "Aku nggak mau membahas ini lagi, ya."
"Nggak perlu! Kan kamu udah bawa tukang bersih-bersih."
"Tapi sayang uangnya. Bayarannya harusnya cukup buat..."
"Buat apa? Jajan Salsa, foya-foya dia? Kenapa nggak kamu pakai aja uang hasil malak anak sendiri," tatap Dewi sinis.
"Bu, ayah nggak pernah malak Nisa." Nisa menepis tuduhan ibunya.
"Udah, diem! Sekarang mending kalian makan dan pergi kerja. Jangan ada lagi yang membahas perihal ini."
__ADS_1
Mereka berdua mengangguk dan kembali fokus pada makanannya. Ramli masih terlihat kesal karena obrolannya dengan beberapa ibu-ibu yang dia temui tadi malam.
"Enggak, ah, Pak, Salsa judes, nanti ngomel mulu."
"Aduh, kalo itu saya nggak mau deh, Pak. Soalnya Salsa itu kalo ngomong suka pedes."
"Saya nggak bisa, Pak. Saya takut sakit hati sama Salsa."
Itulah jawaban dari ibu-ibu yang dia temui. Semuanya menyerahkan Salsa padahal anak itu sedang dalam masa-masa muda. Memang sifatnya masih labil, namun harusnya mereka bisa memakluminya.
Sedangkan saat dirinya bertemu dengan Devi. Wanita beranak satu itu mengatakan dia bersedia bekerja di rumah Ramli karena sudah kebal dengan omelan mantan majikannya dulu.
"Pak, memangnya kenapa kok ngebutuhin ART?" tanya Devi.
"Anisa nggak mau megang kerjaan rumah lagi."
"Oh bagus, deh."
"Kok bagus?"
"Soalnya saya kasian dia selalu dijadiin babunya Salsa. Apalagi sekarang dia udah kerja. Mana sempet ngurusin rumah."
"Kok kamu bicara gitu?"
"Saya pernah liat Anisa dibentak Salsa waktu dia lagi jemur pakaian. Disitu Salsa nyuruh Anisa cepet karena mau disuruh buatin makanan. Aduh, saya gemes banget sama Salsa. Anisa kok sabar banget punya adek kayak gitu."
__ADS_1
"Udahlah, mungkin aja waktu itu Anisa lagi buat kesalahan sama Salsa makanya dia marah. Pokoknya besok pagi kamu datang dan boleh pulang kalau kerjaan udah selesai."
Ramli menatap Anisa yang sedang menikmati sarapannya. 'Andai aja kamu bukan sumber kemerosotan rezeki Ayah, pasti saat ini Ayah nggak akan gini sama kamu. Cuma Salsa yang menjadi sumber rezeki Ayah. Sedangkan kamu waktu masih kecil aja sudah bikin ayah dan ibu sengsara,' batinnya hingga membuat para pembaca emosi.