
"Saya terima nikahnya Anisa binti Ramli dengan mas kawin seperangkat alat salat dibayar tunai!" ucap Adit sambil menjabat tangan sang penghulu.
"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya penghulu pada semua saksi yang ada di sana.
"Sah!"
"Alhamdulillah."
Lantunan doa pun terdengar setelah prosesi ijab kabul berhasil dilaksanakan. Kini, Adit dan Anisa resmi menjadi suami istri. Acara selanjutnya yaitu hajatan dengan berbagai macam acara. Mengundang banyak orang untuk menghadiri resepsi pesta pernikahan dua insan tersebut.
"Dit, selamat, ya, nggak nyangka kamu pemenangnya," ucap salah seorang pria yang merupakan tamu undangan di pernikahan itu. Dia adalah teman sesama sopir angkot seperti Adit.
"Makasih, Man. Nggak ada kompetisi di sini. Ini buah kesabaran gue yang hanya menunggu satu wanita, yaitu Anisa." Adit menggenggam tangan Anisa dan mencium punggung tangan wanita yang telah sah menjadi suaminya itu.
__ADS_1
Anisa hanya tersenyum kecil. Dia masih terlalu gugup kalau diperlakukan seperti ini. Apalagi, dia sama sekali belum menaruh rasa pada Adit.
"Selamat, ya, Kak Nisa, Mas Adit," ucap Salsa yang mendatangi mereka sambil menggandeng lengan Bagas. Seperti rencananya, akhirnya dia bisa menaklukkan Bagas yang patah hati setelah ditinggal Anisa menikah.
"Makasih, ya, Sa. Kamu juga selamat, ya, karena bulan depan akan menikah dengan Mas Bagas," ucap Anisa yang berusaha menahan kesedihannya.
"Iya, Kak, jodoh emang nggak kemana, kan." Salsa hanya tertawan kecil tanpa melepaskan pegangannya dari Bagas.
"Nama lengkap kamu Aditya Wijaya, ya? Wah, bagus sekali namanya. Mirip seperti nama pemilik perusahaan tempat saya bekerja. Namanya juga Aditya Wijaya, tapi kata orang tuanya, saat ini beliau sedang mengurus perusahaan di luar negeri," ucap Bagas sambil memperhatikan Aditya lebih seksama.
"Iya, Mas, nama Aditya kan banyak. Lagian mana pantes Mas Adit jadi pemilik perusahaan besar. Mimpi sih boleh, tapi ya jangan terlalu tinggi." Salsa tertawa lebar sambil menenggelamkan wajahnya di lengan Bagas. Tingkah yang sangat berlebihan bagi mata yang memandangnya.
Aditya yang mendapat penghinaan seperti itu hanya tersenyum kecil. Sedangkan Anisa terlihat aneh melihat Salsa yang seakan berubah ke sifat aslinya.
__ADS_1
Salsa yang tidak ingin repot di pernikahan Kakaknya mengajak Bagas untuk makan dan mengobrol bersama.
"Mas, kalau kita nikah, aku mau pesta yang mewah, ya," ucap Salsa sambil menikmati sepiring puding sebagai pencuci mulut.
"Emang kamu mau yang gimana?"
"Yang kayak di aplikasi tiktik itu. Terus aku mau mahar emas dan uang tiga ratus juta. Aku kan sarjana, jadi pantes dong dihargai."
"Iya, entar aku kasih kamu mahar sesuai yang kamu mau. Tapi, setelah nikah kita tinggal sama Mama, ya," ucap Bagas sambil tersenyum tipis.
"Nggak baiknya misah aja, Mas? Aku takut nggak cocok sama mama kamu."
"Jangan, dong. Mama kan janda, kasian dong harus tinggal di rumah sendirian."
__ADS_1
"Iya, Mas, aku mau. Jadi nggak sabar deh nikah sama kamu." Salsa menggenggan tangan Bagas sambil membayangkan betapa indahnya ketika dia menjadi istri orang kaya. Setiap pagi, dia akan bersantai. Lalu siangnya dia akan berbelanja barang-barang mewah. Dan malamnya, dia akan berkumpul dengan teman-teman sosialitanya.
Bagas tersenyum tipis. Dia melihat Salsa yang pasti bisa melakukan yang dia mau selama di rumahnya. Dia pun mengambil ponsel dan mencatat kembali biaya yang telah dikeluarkannya untuk Salsa, termasuk hutang sebanyak seratus lima puluh juta yang tempo hari dia berikan pada Imron. Memangnya apa yang akan dia lakukan? Mengapa dia harus mencatat semuanya dan menganggapnya sebagai hutang?