
Hari berganti minggu, dan minggu berganti bulan. Hari ini, tepat tiga bulan setelah Anisa berdagang.
Malam ini, setelah memastikan ibunya pergi ke tetangga sebelah, dia pun menghampiri ayahnya yang sedang membaca koran.
"Yah, Nisa mau ngomong," ucapnya sambil duduk di samping sang ayah.
"Ngomong apa, Nis? Ngomong aja langsung," ucap Ramli tanpa menoleh.
"Yah, Salsa pergi nongkrong dulu ya sama teman-teman." Tiba-tiba Salsa datang dan berpamitan pada sang ayah.
Ramli langsung menutup korannya dan menatap wajah putri kesayangannya itu. Membuat hati Nisa semakin terluka karena sang ayah masih menunjukkan sikap berbeda bahkan di hadapannya langsung.
"Mau nongkrong? Ada duit nggak?"
__ADS_1
"Nggak ada, Yah. Tapi Salsa tau diri kok. Salsa kan udah buat ayah rugi banyak karena kecelakaan waktu itu." Salsa menundukkan kepalanya. Namun Anisa tahu bahwa itu hanyalah akting saja.
"Ini uang jajan buat kamu." Ramli mengeluarkan dompetnya dan memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu pada Salsa.
"Wah, makasih, Yah. Salsa pergi dulu, ya." Salsa pun berjingkrak kegirangan sambil berlalu keluar dan membawa sepeda motor barunya itu.
Ramli masih tersenyum menatap kepergian anaknya bahkan sudah hilang dari pandangan.
"Yah, Nisa mau ngomong." Anisa kembali menegur ayahnya yang seolah tidak memperdulikan keberadaannya.
Anisa mengeluarkan uang dari dalam plastik yang sedari tadi digenggamnya.
Mata Ramli membola sempurna melihat begitu banyak uang yang ada di dalam kantong kresek milik Anisa.
__ADS_1
"Ini apa, Nisa? Banyak banget."
"Ini hasil jualan Nisa, Yah. Per hari, Nisa bisa nabung lumayan, jadi, dalam tiga bulan ini, Nisa bisa ngumpulin lima belas juta. Ayah terima, ya." Anisa menyodorkan semua uang itu pada Ramli.
Selama berdagang, dia jarang menggunakan uangnya untuk kepentingan pribadi. Untuk bensin, dia dibantu oleh sang ibu. Sedangkan untuk makan, dia hanya perlu memasaknya saja. Pegawai yang membantunya hanya satu orang, yaitu Indah, seorang single parents yang memiliki seorang anak berusia lima tahun. Indah beruntung sekali bisa bekerja dengan Anisa sehingga hidupnya bisa berubah. Dia bisa mencicil semua hutangnya serta membayar biaya sekolah anaknya yang sudah masuk di taman kanak-kanak.
"Jadi, berapa lagi uang yang harus Nisa bayarkan, Yah? Nisa akan bekerja lebih giat lagi."
Ramli merasa tak enak hati. Dalam hati kecilnya, dia tidak tega meminta uang biaya operasi sang anak yang harusnya memang menjadi tanggung jawabnya. Namun, karena dirinya yang tidak memiliki tabungan dan pekerjaan sampingan, jadi uang gajinya setiap bulan lewat begitu saja. Untuk jajan Salsa, kebutuhan dapur, apalagi dia juga harus memperbaiki mobilnya serta kendaraan yang ditabrak oleh Salsa.
"Yah, kok bengong. Berapa lagi yang harus Nisa bayar?"
"Udahlah, nanti kalau uangnya udah cukup, Ayah bakalan bilang sama kamu. Makasih, ya, Nis, Ayah sedikit lega karena bulan ini nggak perlu pusing memikirkan uang belanja." Ramli pun membawa plastik berisi uang ke dalam kamar.
__ADS_1
Sedangkan Anisa hanya menatapnya dengan tatapan sendu. "Gimana Ayah bisa nabung? Dan gimana Ayah nggak pusing kalau begitu gampangnya Ayah mengeluarkan uang untuk Salsa. Bahkan ketika ayah tidak ada uang, Ayah selalu berusaha demi melihat kebahagiaannya. Kapan Ayah sadar kalau selama ini tanggapan Ayah itu salah? Tidak ada anak pembawa sial dan tidak ada anak ajaib yang membuat Ayah mendapatkan rezeki yang banyak. Itu semua karena ikhtiar dan doa kalian."