Jangan Bedakan Aku

Jangan Bedakan Aku
Murka


__ADS_3

"Maksud kamu apa ngomong gitu? Kamu marah gara-gara hal kecil ini? Bahkan kamu nggak peduli sama anakmu sendiri? Dia terluk, Mas!" Dewi melotot tajam pada Ramli.


"Iya, itu kan luka kecil, nggak usah berlebihan lah." Ramli melengos. Seperti tak menyukai pertanyaan sang istri.


"Terus gimana sama Salsa? Dia ngerusakin mobil kamu dan motor yang ditabraknya. Kamu habis puluhan juta! Kamu nggak marah sekalipun sama dia! Sedangkan Anisa, kamu sebegitu perhitungan!"


"Ya Salsa kan beda. Dia itu…"


"Dia apa? Pembawa rezeki? Pembawa keberuntungan? Sedangkan Anisa pembawa sial? Heh, Ramli, kalau bukan Anisa, kamu kira Salsa mau nyuci baju kamu? Masakin buat kamu? Bersihkan rumah biar kamu nyaman! Kamu kira Anisa pembantu?" Emosi Dewi tak mampu terbendung lagi. Membuat Anisa semakin panik, apalagi mereka bertengkar di depan rumah. Banyak orang lalu lalang yang menyaksikan pertengkaran mereka. Bahkan tak sedikit yang saling berbisik.


"Bu, udah, dong. Jangan berantem, malu sama tetangga."


"Biarin, Nis! Ibu udah muak sama ayahmu yang selalu pilih kasih cuma karena hal kecil. Sekarang gini aja, Mas. Uang operasi itu seratus empat puluh delapan juta, kan? Oke, aku genapin seratus lima puluh juta biar kamu puas. Aku akan jual semua emas dan tanah peninggalan ayahku buat nebus semuanya. Biar otak kamu nggak mikirin tentang duit terus!"


Dewi pun masuk ke dalam rumah dan mengambil sertifikat tanah serta semua emas miliknya yang dibeli dari hasil berjualan pakaian selama ini.


Anisa mengikuti ibunya untuk membujuk agar sang Ibu tidak melakukan itu. Sedangkan Ramli masih di luar dan melihat kondisi kerusakan sepeda motor Anisa.


"Pak Ramli, kenapa?" tanya Bu Asih, tetangganya yang sedari tadi menyaksikan pertengkaran mereka. Ibu yang satu ini memang suka menonton keributan.


"Biasalah, Bu, Anisa kan ceroboh banget jadi orang. Sepeda motor yang saya beliin dirusakin."

__ADS_1


"Tapi saya denger Salsa ngerusakin mobil Bapak dan nabrak sepeda motor orang sampai habis puluhan juta, lho."


"Salsa kan beda, Bu. Dia nggak sengaja. Dia juga pasti syok."


"Oh, gitu, ya, Pak. Saya kasih tau sedikit, ya, Pak. Saya pernah mergokin Salsa naik mobil Bapak ugal-ugalan. Menciprati pedagang pinggir jalan, memaki orang lewat, sengaja nyerempet ibu-ibu jualan pecel keliling."


Ramli terkejut mendengar penuturan Bu Asih. Dia pun berdiri dan menatap tajam pada janda kaya itu.


"Ibu jangan sembarangan nuduh, ya."


"Saya nggak nuduh. Nih ada buktinya. Cari aja akun tiktik saya @jendesbeauty."


Ramli pun mencari akun tersebut. Dia terkejut melihat video unggahan Bu Asih. Di unggahan itu, terlihat mobilnya yang ugal-ugalan dan bertindak seperti yang Bu Asih katakan tadi.


"Salsa, kok, Pak. Lihat aja tangannya yang keluar pas ngasih jari tengah ke orang-orang yang mereka lewati. Itu gelang dia, kan? Jam tangan dia juga."


"Tapi bisa aja gelang sama jamnya dipinjem temennya. Lagian Ibu dapat video darimana? Pasti dari orang kan? Ini palsu, Bu!" Ramli masih tak terima dengan tuduhan atas putrinya.


"Ini video dari CCTV mobil saya. Emang Bapak kira yang punya mobil cuma Bapak? Saya kan juga punya. Dan ini? Bapak nggak liat dari kaca spion. Itu kan muka anak Bapak." Bu Asih melengos sambil menatap sinis.


"Bu, hapus, dong, kok malah nyebarin kayak gini. Nanti anak saya malu. Kalau viral gimana?"

__ADS_1


"Enak aja. Siapa suruh punya anak nggak tau adab kayak gini. Saya emosi karena saat di jalan, dia berkali-kali maki mobil saya."


"Ya itu pasti ada alasannya."


"Alasannya karena anak Bapak nggak tau adab! Kalau saya pasti malu lah punya anak kayak gitu."


"Bu, jangan sembarangan! Awas aja ya kalau sampai viral! Ibu akan tau akibatnya!"


Ramli pun masuk ke dalam rumahnya dengan perasaan penuh emosi. Sementara itu Bu Asih hanya tertawa puas. Sejak kejadian itu, dia memang menaruh rasa kesal pada Salsa. Sayangnya video yang dia upload tidak viral. Kalau viral, pasti dia akan sangat senang bisa membalas anak tidak tahu adab seperti Salsa.


Tak berselang lama, Salsa pun pulang dengan sepeda motornya yang sangat kotor. Sepertinya dia baru saja jatuh ke area sawah, terbukti dari bajunya yang sedikit kotor dan sepatunya yang basah seperti habis dicuci.


"Kenapa, Sa?" tanya Bu Asih yang diam-diam merekam Salsa sedari tadi.


"Bukan urusan Ibu!"


"Ditanya bagus-bagus kok kasar banget, sih. Saya orang tua, lho."


"Bacot, berisik, Buk! Belajar nyetir yang benar biar di jalan nggak lemot! Udah tua bangka aja sok sok belajar nyetir, dasar kegatelan!" Salsa hanya melengos.


"Astaghfirullah, mulut dijaga, Sa. Pantes aja semua orang di sini nggak ada yang suka sama kamu. Sopan santun kamu aja nggak ada!"

__ADS_1


"Diem, loe janda genit!" Salsa pun pergi meninggalkan Bu Asih dan masuk ke dalam rumah.


"Ya, begitulah kalau anak nggak diajari sopan santun sama Bapaknya. Ke orang tua pun kasar banget. Ini orang yang ada di video sebelumnya ya, gaes, bagaimana tanggapan kalian?" Begitulah ucapan terakhir sebelum Bu Asih mematikan videonya. Ini akan menjadi pelajaran berharga untuk Salsa jika video ini viral.


__ADS_2