Jangan Bedakan Aku

Jangan Bedakan Aku
Pria Kaya


__ADS_3

Pria itu membuka kacamatanya sambil menatap Imron dengan tatapan mengejek.


"Sudah tua bangka, memangnya masih kuat? Buang air kecil saja mungkin sudah susah."


"Apa? Kurang ajar kamu!" Imron memerintahkan salah seorang centang untuk menyerang. Namun, seketika dia berhenti saat melihat beberapa orang berbadan lebih kekar darinya turun dari mobil pria itu.


Dia langsung mundur, apalagi saat tahu anak buah dari pria itu membawa pistol.


Pria itu pun melempar koper hitam ke arah Imron yang hampir saja jatuh saat menangkapnya. Dia lantas membuka koper itu dan terkejut melihat nominal uang yang banyak di dalamnya.


"Itu mungkin uang yang cukup untuk membuatmu berkaca. Jumlahnya seratus lima puluh juta, melebihi hutang mereka! Sekarang serahkan sertifikat tanah milik Bu Dewi yang digadai suaminya dan mereka tidak ada urusan apapun lagi denganmu."


Dengan wajah masam, Imron pun menyerahkan sertifikat tanah milik Dewi dan pergi bersama dua centengnya tadi.


Anisa menangis memeluk sang ibu. Para tetangga masih saling berbisik. Membicarakan Ramli yang tega menjual anaknya sendiri demi hutang.

__ADS_1


Mereka pun mempersilahkan pria itu masuk untuk berbicara di dalam. Sementara para tetangga yang masih berspekulasi dengan pendapatnya masing-masing pun segera kembali ke rumah dengan berjuta pertanyaan dibenak mereka.


"Oh, jadi namamu Bagas. Terima kasih, ya, Nak Bagas. Secepatnya kami akan melunasi hutang kami. Bila perlu, ambillah sertifikat ini sebagai jaminan," ucap Dewi dengan tatapan penuh kebahagiaan.


"Tidak perlu, Bu, saya iklhas membantu Anisa. Karena, bagaimana pun juga, dia ini partner bisnis saya."


"Bisnis? Maksudnya bagaimana, Nak?" tanya Ramli yang sedari tadi memperhatikan penampilan Bagas yang sangat high class itu.


"Saya sering memesan makanan di warung Anisa saat ada acara rapat di kantor saya. Bahkan klien saya tidak percaya bahwa makanan yang kami sajikan berasal dari pasar. Mereka menyangka makanan itu berasal dari restoran."


"Iya, Bu. Masakan Anisa sangat lezat sekali. Bahkan lebih enak dari restoran tempat dimana saya sering makan."


"Memangnya perusahaan Nak Bagas apa namanya?" tanya Ramli dengan sangat antusias.


"PT ADW, Pak, saya adalah direktur di sana," ucap Bagas dengan sopan.

__ADS_1


"MasyaAllah, saya nggak tau Anisa punya teman yang sangat hebat seperti ini. Memangnya kapan kalian bertemu?"


"Beberapa waktu lalu saat Anisa jatuh gara-gara saya parkir mobil sembarangan, Pak," sahut Bagas.


"Oh, yang sepeda motornya rusak itu? Maaf, ya, Anisa ini orangnya memang agak ceroboh dan sedikit merepotkan," ucap Ramli tanpa menyaring ucapannya.


Seketika Dewi langsung menoleh dan melayangkan tatapan tajam pada Ramli. Sepertinya pria itu belum juga jera. Andai saja saat ini tidak ada Bagas, pasti dia sudah menciumkan sapu ke tubuh Ramli.


"Tidak, Pak, saya yang salah. Anisa bahkan meminta maaf pada saya waktu itu. Dan dilihat dari pekerjaannya, dia terlihat sangat berhati-hati dan teliti. Saya tidak yakin dia orang yang ceroboh." Bagas tersenyum menatap Anisa. Sebuah tatapan kekaguman pada seorang gadis Soleha yang beberapa waktu lalu telah mencuri perhatiannya.


"Permisi, maaf, ini minumannya."


Tiba-tiba saja, tidak ada angin, tidak ada hujan, Salsa datang dengan membawa nampan berisi empat cangkir teh dan Snack.


Ramli, Dewi, dan Anisa terkejut melihat keajaiban ini. Salsa membuat teh? Hal yang dilakukannya sekali dalam hidupnya hingga membuat keluarganya terkejut.

__ADS_1


Namun, Dewi tahu, ada udang dibalik batu. Salsa pasti sengaja melakukan ini agar mendapatkan kesan baik dari Bagas. Pria itu tampan dan kaya, pasti Salsa tertarik padanya.


__ADS_2