
Ramli baru saja pulang bekerja dengan menggunakan sepeda motornya karena mobilnya sedang diservis oleh Adit. Sepanjang perjalanan, dia masih memikirkan perkataan Salsa tentang dirinya yang telah membuat Salsa bernasib seperti ini.
"Padahal selama ini aku menyayanginya melebihi siapapun. Tapi sekarang dia malah membenci aku." Ramli terlihat tak begitu konsentrasi. Hingga akhirnya, dia yang tak begitu fokus tidak melihat ada peringatan tanda bahwa sedang ada konstruksi di jalanan yang yang dia lewati.
Para pekerja yang sedang istirahat tidak begitu memperhatikan jika ada orang yang melintasi jalanan itu. Apalagi seperti motor Ramli masih baru dan suaranya tidak begitu terdengar jelas. Ditambah musik dari para pekerja.
Hingga beberapa meter setelahnya, Ramli pun terkejut karena di depannya ada galian lubang sepanjang lima meter yang cukup dalam. Dia yang sejak tadi melaju kencang tak mampu mengerem dengan tepat.
Sepeda motornya jatuh ke dalam galian lubang yang masih terdapat beberapa besi kecil yang belum bersatu dengan besi lainnya.
"Aaaaarrrghhhh!"
__ADS_1
Teriakannya pun terdengar begitu keras. Membuat para pekerja konstruksi baru menyadari bahwa ada orang yang melintas di jalan itu.
Mereka pun terkejut melihat Ramli yang jatuh ke dalam parit yang belum sempurna itu.
Mereka segera mengambil ambulans agar membawa Ramli ke rumah sakit karena dia memiliki luka yang cukup parah akibat tertancap besi di bagian kakinya. Belum lagi lehernya juga tergores cukup dalam hingga membuatnya kehilangan banyak darah.
***
Anisa, Salsa, dan Dewi pun segera pergi ke rumah sakit setelah mendengar Ramli mengalami kecelakaan. Tampak mereka menangis sepanjang jalan karena katanya kondisi Ramli sangat parah.
Adit telah mengupayakan rumah sakit itu untuk melakukan yang terbaik agar sang mertua bisa selamat.
__ADS_1
Ya, akhirnya operasi Ramli berjalan lancar. Kakinya mengalami patah, namun itu tak terlalu buruk karena dia bisa pulih dengan sendirinya. Namun, ada satu hal yang harus mereka dengar dari kondisi ramai saat ini.
"Maaf, Bu, adik-adik, Pak Ramli mengalami kerusakan pada saraf pita suara sehingga dirinya tidak akan bisa mengeluarkan suara lagi."
Mereka jelas terkejut mendengar ucapan sang dokter. Kalau begitu, tentu saja Ramli tidak akan bisa berbicara lagi. Dia mungkin hanya bisa berkomunikasi dengan menggunakan media ponsel atau kertas dan pulpen.
"Bu, ayah, Bu?" Anisa menangis tersedu-sedu di pelukan ibunya. Sedangkan Salsa tak terlihat sedih. Dia bahkan tak peduli, datang ke rumah sakit ini pun dengan dipaksa oleh sang ibu.
"Ngapain Kakak malah nangisin dia! Ini adalah karma untuknya karena selama ini telah berbuat zalim sama Kakak. Itu akibat dari ucapannya yang sedari kecil telah menyakiti hati Kakak!" Salsa mencoba menyadarkan Anisa bahwa tangisannya saat ini sama sekali tidak perlu.
"Sa, jangan gitu, Sa. Ayah itu juga orang tua kita." Anisa menatap tak percaya pada sang adik yang sedari dulu selalu mendapatkan kasih sayang dari ayah mereka. Mengapa dia sekarang seakan membenci ayahnya sendiri?
__ADS_1
"Biarin, Kak! Ayah itu bukanlah orang tua yang baik. Mana ada ayah yang membandingkan anaknya dari kecil. Apalagi sampai menagih uang operasi anaknya saat bayi! Orang tua macam apa itu!" Salsa yang semakin emosi pun mengeluarkan semua unek-uneknya pada sang ayah. Padahal, yang mengalami semua itu adalah Anisa. Tapi, dia yang merasa sangat tersakiti. Mungkin karena dia telah merasakan bagaimana rasanya semua hal yang dilakukannya dianggap sebagai balas Budi. Itu terjadi saat dia menjadi istri Bagas. Pria itu jelas memintanya mengembalikan apa yang telah diberikan.
Dan itu adalah karma untuknya karena ayahnya melakukan hal itu pada sang kakak, dan dia malah mendukungnya.