Jangan Bedakan Aku

Jangan Bedakan Aku
Tamu


__ADS_3

Setelah Salsa mandi untuk yang kedua kalinya, kini terdengar suara pintu yang diketuk dari luar. Cepat-cepat Salsa membukanya karena Bagas sudah memelototinya dengan tajam.


Terlihat Giska yang berdiri dengan wajah sinis dan menyilangkan tangannya di dada.


"Itu ayah kamu dateng! Awas kalau ngadu yang macem-macem!" Giska pun berlalu meninggalkan Salsa yang terkejut karena kedatangan ayahnya yang tiba-tiba.


Dia pun segera menemui sang ayah yang berada di ruang tamu, menunggunya dengan harap-harap cemas. Entah apa yang sebenarnya terjadi hingga sang ayah datang ke rumahnya. Rindukah?


"Ayah." Salsa datang dan berlari memeluk ayahnya. Menangis, hanya itu yang bisa dia lakukan. Menumpahkan segala rasa sedihnya mengalami tekanan batin dan kekerasan fisik di rumah besar ini.


"Sayang, Ayah rindu. Bagaimana kabarmu? Sepertinya sekarang kamu agak kurusan, kamu diet, ya? Jangan, dong. Nanti anak kesayangan ayah kurus." Ramli meneliti tubuh sang anak yang memang mulai menyusut. Terlebih wajahnya yang lebih kusam dari sejak terakhir mereka bertemu.


"Aku juga kangen, Yah. Ibu mana?" tanya Salsa melihat ke arah belakang ayahnya.


"Ibu nggak bisa ikut karena di pasar lagi banyak pembeli. Mereka kewalahan. Lucu, Sa, masa kata Ibu semua ini berkat Anisa karena semua pembelinya temen-teman Adit. Padahal larisnya toko ibumu kan karena kamu," ucap Ramli yang masih saja berpegang teguh pada pepatah kunonya.


Salsa hanya mengangguk saja. Meski sudah terkena karma, nyatanya dia masih belum sadar bahwa semua penderitaannya karena dirinya yang jahat pada Anisa. Bahkan niatnya yang ingin merebut Bagas pun berakhir jadi begini. Dia dijadikan pembantu gratis di rumah suaminya sendiri.


"Ayah." Bagas datang sambil tersenyum. Dia tak ragu-ragu untuk memeluk Ramli dengan penuh kehangatan. Membuat Salsa seperti merasa melihat Bagas yang lain. Apakah Bagas memiliki dua kepribadian? Sepertinya iya.

__ADS_1


"Bagas, apa kabar?" tanya Ramli dengan senyuman kehangatan.


"Baik, duduk dulu, Yah," ucap Bagas sambil mempersilahkan Ramli duduk. Bagas pun melirik Salsa agar segera membuatkan teh untuk mereka.


Salsa segera pergi dan kembali dengan dua cangkir teh di nampan.


"Lho, kok kamu yang ngerjain? Pembantu kalian mana?"


"Di sini nggak ada pembantu, Yah, semua pekerjaan dilakukan oleh Sa...."


"Dilakukan sama Mama, Yah. Soalnya kami trauma punya pembantu. Maling terus, makanya Mama yang ngerjain semuanya."


Salsa tak percaya Bagas akan berbohong seperti itu. Padahal, mamanya tak pernah menyentuh pekerjaan rumah sedikitpun.


Salsa hanya diam dan mengangguk. Untuk apa berdebat? Dia tidak akan punya kesempatan.


"Gas, sebenarnya kedatangan ayah ke sini mau minta bantuan kamu," ucap Ramli setelah menyeruput tehnya.


"Bantuan apa, Yah?"

__ADS_1


"Ayah pengen beli tanah untuk bercocok taman. Tapi di kampun, karena harga jual tanah masih murah. Nggak banyak, tujuh puluh juta aja, Ayah minjem kok," ucap Ramli tanpa ragu menyebutkan nominalnya.


Mata Salsa terbeliak mendengar ucapan sang Ayah.


"Oh, ya udah, mana rekening Ayah." Bagas mengeluarkan ponselnya hendak mengirimkan uang pada Ramli.


Ramli dengan senang hati menyebutkan rekeningnya. Dalam beberapa menit, saldonya pun sudah bertambah jadi tujuh puluh empat juta.


"Makasih, ya, Gas," ucap Ramli dengan tatapan mata berbinar-binar.


"Sama-sama, Yah. Nggak dibalikin juga nggak apa-apa. Bagas kan suaminya Salsa." Bagas merangkul Salsa, namun dia menekan pundak Salsa hingga wanita itu meringis kesakitan.


"Hah? Beneran nggak perlu dibalikin? Kamu baik banget, Gas." Ramli menatapnya semakin kagum.


"Tapi Ayah tanda tangan ini dulu, ya," Bagas memberinya sebuah kertas kosong.


"Apa ini, Gas?" tanya Ramli heran.


"Sebagai bukti ke mama kalau Bagas ngasih ayah. Soalnya Mama seneng banget liat Bagas sering bantu orang."

__ADS_1


Dengan senang hati dan tanpa ada rasa curiga, Ramli pun menandatanganinya. Setelahnya, dia pun pulang dengan perasaan riang gembira.


"Sudah ku duga, Bagas itu pasti akan memberikannya. Salsa, Salsa, kamu itu memang pembawa rezeki buat ayah. Beda sama Anisa yang sampe sekarang nggak lanjut ngelunasin hutangnya yang dulu."


__ADS_2