Jangan Bedakan Aku

Jangan Bedakan Aku
Melamar Anisa


__ADS_3

Setelah Anisa selesai meletakkan makanan dan minuman di atas meja, Ramli tak lantas membiarkannya pergi. Dia meminta Anisa untuk tetap berada di sana bersama mereka karena ada yang ingin dibicarakan oleh Imron.


"Begini, Pak Ramli, Bu Dewi, kedatangan saya ke sini adalah untuk melamar Anisa."


Sontak, Dewi dan Anisa pun terkejut karena tiba-tiba saja pria tua bangka ini melamar Anisa. Apakah dia tidak memiliki kaca sehingga lupa bahwa saat ini Anisa lebih cocok menjadi cucunya?


"Maaf, Pak, apa Bapak tidak salah? Anak kami berbeda usia puluhan tahun dengan Bapak. Bahkan saya dan suami saya pun seusia dengan anak Bapak," ujar Dewi sesopan mungkin.


"Iya, saya tahu. Tapi kan saya ingin memiliki istri muda lagi. Dan Anisa adalah gadis yang tepat untuk saya."


"Maaf, Pak, tapi kami tidak menerima lamaran Bapak. Anak kami akan menikah dengan pria seumurannya, bukan dengan pria yang pantas menjadi kakeknya." Dewi menatap datar pada Imron yang hanya tersenyum tipis.


"Oh ya? Itu kan pendapatmu. Tapi, bagaimana dengan pendapatnya Ramli?" Imron beralih ke Ramli yang saat ini sedang tertunduk dengan keringat dingin yang sudah membasahi tubuh dan wajahnya.


"Bapak tidak perlu bertanya pada suami saya. Jelas suami saya pasti akan menolaknya."


"Buk, nggak papa, kita terima saja lamaran Pak Imron. Beliau ini adalah orang yang baik dan bertanggung jawab. Kalau ada yang berniat baik melamar anak kita, mengapa tidak diterima saja?" ucap Ramli dengan tatapan ragu. Berusaha mengusir rasa gugupnya saat ini.


Sebenarnya, sebelum istrinya datang dan ikut bergabung bersama mereka tadi, Imron mengatakan pada Ramli bahwa dia bisa menganggap lunas hutangnya jika Ramli mau menyerahkan Anisa pada Imron.


Awalnya Ramli ragu. Namun, karena saat ini dia sedang kepepet, dia pun menyetujuinya. Namun, dia ingin agar Imron berpura-pura melamar Anisa supaya kejadian sebenarnya tidak diketahui oleh istrinya.


"Apa? Kamu udah gila, ya, Mas? Kamu menerima lamaran pria tua bangka seperti Pak Imron? Yang istrinya udah tiga? Dimana akal sehat kamu?" Dewi menatap Ramli dengan tajam.


"Tapi nggak ada salahnya jika kita menerima lamaran Pak Imron karena beliau bisa meningkatkan derajat keluarga kita."


"Gila kamu, Mas! Susah payah aku membesarkan Anisa. Mendidiknya menjadi gadis yang sopan dan berakhlak baik, bisa-bisanya kamu menyerahkannya pada pria tua bangka seperti Pak Imron!" Dewi mendengkus kesal. Dia pun beralih ke Imron yang saat ini sedang menahan kesabaran karena perkataan tua bangka yang berkali-kali Dewi lontarkan.


"Pak, maaf, ya. Kalaupun saya akan menikahkan anak saya untuk mengangkat derajat kami, di pasar sana banyak kok yang suka sama dia. Bahkan lebih kaya dari Bapak! Harusnya sadar diri dong, Pak. Sudah tua kok malah menginginkan anak gadis."


"Buk, udah dong! Biarin aja Anisa nikah sama Pak Imron! Pokoknya Bapak menerima lamaran ini!" Ramli bersikeras dengan pilihannya yang sebenarnya adalah sebuah keterpaksaan.

__ADS_1


"Tapi, Yah, Nisa nggak mau kalau menikah dengan...." Anisa menggantung kalimatnya saat melihat tatapan menjijikkan dari Imron yang melihat tubuhnya dari ujung jilbab hingga ujung kaki.


"Nisa, ini adalah bentuk pengorbanan kamu kepada kami. Bukannya kamu mau mengembalikan biaya yang ayah keluarkan untuk operasi kamu dulu? Sekarang saatnya kamu mengembalikannya dengan menerima lamaran Pak Imron. Dia akan memberikan mahar yang lumayan banyak. Setelah itu ayah nggak akan membeda-bedakan kamu dan Salsa lagi."


"Hentikan, Ramli! Kamu nggak pantas disebut ayah!" Dewi yang murka langsung berdiri dan menatap tajam suaminya. Dia tidak menyangka sama suami akan melakukan ini kepada mereka.


"Dan Bapak, silakan keluar dari rumah ini karena lamaran Bapak tidak kami terima!" Dewi mengusir Imron dengan tangannya yang menunjuk ke arah pintu.


Imron yang sudah terbakar emosi karena tingkah Dewi pun langsung membeberkan maksud dan tujuannya datang ke rumah ini.


"Ya udah, kalau gitu, sekarang kembalikan uang yang suami kamu pinjam dari saya atau surat tanah kamu akan menjadi milik saya!"


Bagai sambar petir saat Dewi mendengar bahwa surat tanah yang beberapa waktu lalu dicarinya ternyata sudah berpindah tangan ke lintah darat satu ini.


Dia lantas menoleh dan menatap suaminya untuk meminta penjelasan.


"Maafkan Ayah, Buk. Ayah menggadaikan sertifikat tanah ibu diam-diam untuk berinvestasi. Tapi, Ayah kena tipu. Dan ini semua pasti karena Anisa, Buk. Karena ketepatan waktu Ayah ketipu, itu bertepatan dengan hari ulang tahun Anisa."


"Pak Imron, sekarang Bapak pergi dari rumah ini dan bawa surat tanah itu. Saya sudah tidak peduli lagi!" Dewi kembali mengusir Imron.


"Eh, tidak bisa, Bu Dewi! Yang dilunasi jika surat tanah ini saya ambil hanyalah pokoknya saja. Sedangkan bunganya belum dibayar. Bunganya adalah dua puluh persen per bulan. Ini sudah empat bulan. Jadi, total bunganya adalah enam puluh empat juta! Sudah tertuang di perjanjian tertulis saat Ramli meminjam. Jika kalian tidak bisa melunasinya, maka Anisa akan saya bawa dan saya nikahi!"


Dewi tak percaya dengan apa yang dia dengar. Lintah darah tua bangka ini rupanya memiliki permainan licik untuk mendapatkan banyak uang dari para warga yang sedang kepepet. Pantas saja berapa tahun lalu tetangga mereka sampai menjual rumah karena memiliki hutang pada Imron. Bunganya sangat besar dan jelas merugikan siapapun yang meminjamnya.


"Saya nggak ada uang segitu, Pak. Beri saya waktu. Saya akan menjual toko baju saya."


"Buk, jangan, dong! Kalau dijual, bagaimana dengan hidup kita? Kalau mengandalkan gaji ayah saja rasanya tidak cukup!" Ramli menyela.


"Biarin! Biar sengsara sekalian! Ini yang kamu mau, kan?" Dewi melotot tajam pada Ramli.


"Saya nggak bisa menunggu lagi. Ayo, sekarang bawa Anisa!" Imron memerintahkan dua contohnya untuk membawa paksa Anisa.

__ADS_1


Anisa memberontak sambil menangis meminta untuk dilepaskan. Dewi ikut membantu melepaskan Anisa namun tenaganya hanya seperempat dari tenaga satu cengeng itu.


"Buk, Nisa nggak mau! Tolongin Nisa!" Anisa berteriak saat kedua centang itu berhasil membawanya keluar.


Salsa yang sudah dari tadi mendengar percakapan mereka hanya memvideokannya dari jauh. Dia hanya menjadikanmya sebagai video dengan momen yang indah ini jika ingin mengenangnya lagi nanti.


Ramli terlihat bingung dan pasrah ditengah teriakan dan tangisan istri serta anaknya. Para tetangga dan warga lain yang mendengar kegaduhan langsung keluar untuk menyaksikan yang terjadi.


Anisa lihat menangis sambil berusaha melepaskan diri dari dua centeng itu.


"Eh, kenapa Nisa?" tanya Bu Asih yang langsung datang mendekat.


"Bukan urusan Ibu! Dia akan menjadi istri saya!"


"Pak, jangan gitu, dong! Anisa salah apa?"


"Ayahnya berhutang dan tidak sanggup membayar. Jadi saya akan membawa Anisa sebagai tebusan hutannya!"


"Berapa hutangnya, Pak?"


"Enam puluh empat juta plus sertifikat tanah tidak kembali!"


"Pak, tunggu sebentar biar saya ambil uang saya di rumah sodara saya! Saya ada kok uang segitu! Jangan bawa Anisa!"


Imron terlihat kesal, meskipun dia sudah menaikkan bunga hutang Ramli untuk menekannya demi mendapatkan Anisa, nyatanya masih ada orang-orang yang ingin menyelamatkan gadis itu.


"Tidak! Kalau mau ya sekarang! Kasih sama saya! Kalau tidak ada ya minggir sana!" Imron kembali berjalan dengan dua centengnya yang masih membawa Anisa.


Namun tiba-tiba, sebuah mobil mewah pun berhenti tepat di depan rumah Anisa. Seorang pria dengan setelan jas mahal dan juga kacamata hitam turun dari mobil dengan membawa sebuah koper hitam.


***

__ADS_1


Yuk, jangan lupa singgah di novel Baruku. Judulnya Behind The CEO.


__ADS_2