Jangan Bedakan Aku

Jangan Bedakan Aku
Sebuah perbedaan


__ADS_3

Pagi menjelang, matahari sudah mulai menampakkan sinarnya ke bumi. Menyusup ke sela-sela tirai jendela kamar yang masih tertutup.


Byurrrr! Suara air pun terdengar di dalam kamar besar di rumah itu. Salsa terbangun dan gelagapan karena baru saja disiram seember air di tengah tidur nyenyaknya.


"Bangun, kamu! Ngapain tiduran di sini!" Bagas melotot tajam saat melihat Salsa tertidur di sofa ruang tamu. Ya, sepertinya dia ketiduran Saat tengah membersihkan ruang tamu itu. Terlihat sampah dan sampah masih ada di dekat sofa tersebut.


"Kamu belum siap ngebersihin rumah ini, ha?" Bagas menjambak rambut Salsa sambil menatap geram.


"Sakit, Mas, ampun," rintih Salsa. Membuat Bagas langsung melepaskan rambutnya dengan kasar.


"Aduh, apa sih pagi-pagi udah ribut!" Giska datang sambil menguap lebar karena baru saja terbangun dari tidurnya.


"Ini, Ma, disuruh ngebersihin rumah malah ketiduran di sofa!" Bagas menunjuk Salsa yang saat ini tengah menangis tersedu-sedu.


"Kamu ini, ya, Sa, benar-benar menantu nggak tahu diri! Udah ngabisin duit banyak, sekarang malah enak-enak tidur!" Bukannya membela, Giska malah ikut memarahi Salsa.

__ADS_1


"Maaf, Ma, Salsa kecape'an. Tadi malem Salsa tidur jam tiga pagi soalnya pakaian dan piring banyak banget yang menumpuk."


"Halah, udahlah, alasan aja, kamu! Sekarang pergi ke dapur dan siapkan sarapan untuk kami!" Bagas menarik Salsa dan mendorongnya kasar hingga terjungkal ke lantai.


Bagas dan ibunya tidak memperdulikannya yang sedang meringis kesakitan. Mereka malah pergi ke kamar masing-masing untuk kembali bersantai. Sedangkan Salsa mulai memasak sarapan dengan semua menu serta resep yang tertempel di dinding. Dia harus memasak semuanya dengan hati-hati karena kalau tidak, dia akan mendapatkan perlakuan kasar lagi seperti tadi.


"Apa salahku? Mengapa aku harus mengalami semua penderitaan ini?" Salsa menangis tersedu-sedu sambil terus mengerjakan pekerjaannya. Dia memang harus berpacu dengan waktu. Karena, setelah memasak, dia harus melanjutkan membersihkan rumah, mengepel, menyiram bunga, menyapu halaman, menyetrika, dan masih banyak lagi pekerjaan lain yang harus dikerjakannya.


Sementara itu.


Setelah sarapan selesai, Adit pun mulai menyelesaikan pekerjaan rumah lainnya agar sang istri tidak perlu melakukannya. Dia rela melakukan semua itu dengan tangannya karena ingin membuat tatapan kebanggaan Anisa atas pekerjaannya, bukan pekerjaan orang lain.


Tepat satu jam setelahnya, Anisa pun terbangun dan langsung mensucikan dirinya di kamar mandi. Dia pun keluar kamar dengan rambut yang masih terlilit handuk. Tidak apa jika dia memperlihatkan rambutnya di depan suaminya.


"Mas, kamu yang masak semua ini?" tanya Anisa dengan tatapan mata berbinar-binar.

__ADS_1


"Mas?" Adit mengernyitkan dahinya karena panggilan Anisa yang berubah.


"Iya, mulai sekarang aku panggil Mas aja, ya, soalnya aku lebih suka manggil kayak gitu," ucap Anisa malu-malu.


"Iya, Sayang, nggak papa. Oh ya, ini semua aku yang masak. Tenang aja, bisa dimakan kok soalnya aku masaknya pakai resep."


"Iya, Mas, ini pasti enak banget. Yuk, kita sarapan," ucap Anisa sambil mendudukkan dirinya ke kursi makan.


Dia mengambilkan makanan untuk Adit dan mereka pun sarapan bersama.


"Oh ya, Minggu depan kita pergi ke pesta, ya," ucap Adit.


"Pesta siapa, Mas?" tanya Anisa heran.


"Ada deh, pokoknya kamu ikut aja."

__ADS_1


Anisa hanya mengangguk saja menuruti ucapan suaminya. Dia hanya tidak tahu bahwa Adit akan memperkenalkannya ke orang tuanya di pesta ulang tahun perusahaan mereka.


__ADS_2