
Setelah meletakkan minuman dan makanan ringan di atas meja, Salsa pun duduk di samping ayahnya sambil tersenyum.
"Diminum dulu, Mas," ujarnya dengan sopan. Membuat keluarganya lagi-lagi melongo melihat perubahan sikapnya yang drastis. Mana pernah Salsa tersenyum ramah seperti itu? Namun Dewi tahu bahwa Salsa melakukan ini demi mencari simpati dari pria kaya itu. Jelas pria kaya dan tampan seperti Bagas adalah kriteria pilihannya yang ingin menjadi beban suaminya.
"Terima kasih," sahut Bagas sambil menyeruput teh buatan Salsa.
"Bagaimana, Mas, apakah enak?" tanya Salsa ingin memastikan.
"Ya, enak sekali. Apakah ini teh dengan merek teh Q?" tanya Bagas yang seperti mengenali cita rasa teh mahal itu.
"Iya, Mas, saya sangat peduli dengan kesehatan sehingga membeli teh ini untuk keluarga kami."
"Iya, terima kasih, emmm."
"Saya Salsa, Mas."
"Oh, ya, Salsa. Terima kasih. Kau ini kakaknya Anisa, ya?"
"Bukan, Mas, saya adiknya Kak Anisa."
"Oh, saya kira kakaknya. Ternyata memang wajah Anisa itu babyface, ya."
"Maklum saja, Mas, Mbak Anisa ini kan jarang bekerja di rumah. Dia selalu sibuk bekerja di luar. Jadi, saya yang tidak bekerja, mengerjakan seluruh pekerjaan rumah. Makanya saya tidak sempat merawat diri sehingga terlihat lebih tua dari kakak saya."
Dewi langsung melayangkan tatapan tajam pada Salsa yang bisa-bisanya memutar balikkan fakta bahkan di hadapan orangnya langsung. Anisa hanya bisa pasrah karena dirinya tidak ingin ribut apalagi di situasi hatinya yang saat ini sedang melemah karena kejadian tadi.
Sedangkan Ramli terlihat begitu santai dan seolah mendukung kebohongan putrinya. Kalau Dewi benar, Ramli pasti mengincar Bagas untuk menjadi calon suami Salsa.
"Wah, rajin sekali, ya," puji Bagas.
__ADS_1
"Ya, begitulah, Mas. Saya sangat senang membantu pekerjaan di rumah ini. Ya, meskipun saya adalah seorang sarjana, namun saya tidak boleh melupakan kodrat saya sebagai wanita. Apalagi, saat ini saya belum bekerja karena memikirkan bagaimana nasib keluarga ini jika tidak ada saya di dalamnya. Rumah pasti akan berantakan karena semuanya bekerja."
Ah, lagi-lagi Dewi harus menahan kekesalan karena kebohongan Salsa. Namun, dia pun memiliki sebuah rencana untuk membuat Salsa termakan omongannya sendiri.
"Oh, ya, Sa, itu cucian belum dijemur. Dan halaman juga belum disapu. Jendela juga kotor banget, tuh. Kamu itu kan paling nggak bisa melihat rumah berantakan. Ya udah, kerjain dong. Kan malu sama Mas Bagas kalau halaman kotor banget kayak gitu."
"Eh, nanti aja, Buk. Kan masih ada tamu."
"Sekarang aja, Sa, soalnya matahari mumpung panas nih. Lagian Mas Bagas ini kan tamu Kak Anisa. Ibu ngerti kok kalau sekarang ini kamu pasti udah gereget pengen ngebersihin semuanya. Ya kan, Yah? Ayahnya Salsa ini orangnya juga paling nggak bisa ngeliat rumah berantakan." Dewi menatap Ramli dengan tajam.
"Sa, kerjain dulu sana." Ramli pun terpaksa menyuruh anak kesayangannya untuk mengerjakan apa yang ibunya perintahkan meski hatinya sangat berat.
Bagas senyum melihat kedua anak gadis di rumah ini sangat rajin. Dia adalah tipe laki-laki yang sangat menyukai wanita rajin dan suka bersih-bersih. Terlebih jika wanita itu adalah seorang pekerja keras seperti Anisa. Benar-benar wanita idaman.
Mereka pun lanjut mengobrol sementara Salsa mengerjakan semua pekerjaan rumah yang belum tuntas. Namun, di bagian membersihkan jendela, dia sengaja melakukannya dengan lama dan berpura-pura teliti. Hal itu agar Bagas yang ada di dalam rumah bisa melihatnya dari jendela. Dia sengaja memasang wajah imut dan lembut. Beranggapan bahwa wajahnya itu sudah sangat cantik dan bagus untuk dipandang.
Setelah lama mengobrol, Bagas pun akhirnya pulang setelah bersikeras menolak pengembalian uang yang telah dikeluarkannya untuk Anisa.
"Awas nanti tangannya lecet."
"Duh, rajinnya yang ada tamu."
"Ada angin apa nih kok rajin?"
"Wah, kayaknya ada udang dibalik bakwan."
Salsa pendudukkan dirinya di atas sofa sambil meregangkan otot-otot tangannya. Baru kali ini dia mengerjakan pekerjaan rumah yang selama ini tidak pernah disentuhnya.
"Gimana? Enak, kan ngerjain rumah? Makanya jangan suka berbohong, jadi nggak termakan omongan sendiri," gerutu Dewi.
__ADS_1
"Ibuk jangan berisik dong. Salsa capek, nih." Salsa memijat tangannya yang lega karena membersihkan kaca jendela terlalu lama.
"Eh, Mas, sebentar aku mau ngomong!" Dewi yang melihat Ramli lewat dari depan mereka langsung menghentikan sang suami. Dia pun menyuruh Ramli untuk duduk bersama mereka sementara Anisa sedang istirahat sehabis mandi.
"Iya, Buk, kenapa?"
"Kenapa kamu bilang? Apa maksud kamu menggadaikan sertifikat tanah orang tua aku tanpa izin? Buat apa uangnya?"
"Gini, Bu, waktu itu Ayah tertarik dengan investasi yang katanya menguntungkan. Tapi, nyatanya Ayah salah dan malah kena tipu. Kalau waktu itu untung, pasti Ayah bisa menebus surat tanah ibu."
"Kamu ini sarjana tapi kok bego banget sampai bisa ketipu investasi? Memangnya siapa orangnya yang udah ngenalin kamu ke investasi bodong itu?"
Seketika wajah Salsa berubah karena dirinya takut jika sang ibu akan kembali mengamuk ketika mendengar bahwa dirinyalah yang telah mengajak ayahnya melakukan investasi kepada temannya, Novi.
"Ada, teman Ayah. Dia sudah melarikan diri bersama uang itu. Ya udahlah, Buk, kan sekarang sertifikat tanah itu sudah kembali pada Ibu. Kenapa lagi harus dipertanyakan?"
"Heh, Mas! Kita masih beruntung karena ada Bagas. Coba kalau seandainya tadi tidak ada pertolongan dari dia, masih saat ini surat tanah itu sudah menjadi milik juragan Imron. Dan bagaimana bisa kamu menukar surat tanah itu dengan anakmu sendiri? Kamu menjual anakmu sendiri demi kepentingan pribadi kamu? Dimana otakmu, Mas?" Dewi merasa sangat geram melihat sang suami yang semakin hari menunjukkan kebobrokannya saja.
"Ayah nggak punya pilihan lain, Buk. BPKB mobil kita belum lunas karena dipinjam saudara. Masa Bapak harus menggadaikan sertifikat rumah ini? Lagian juragan Imron sangat menyukai Anisa. Apa salahnya jika Anisa bisa menikah dengannya. Dengan begitu kan hidup Anisa akan menjadi lebih baik karena juragan Imron sangat kaya."
"Heh, Jangan sembarangan kamu, Mas! Enak aja anak perawan cantik baik dan solehah harus menikah dengan laki-laki peot tukang kawin seperti Imron. Ibuk saja yang sudah tua kalau dikasih dia nggak mau. Aku rasa otak kamu itu sudah gesrek, Mas!"
"Sudahlah, Buk, Ayah capek. Sekarang masalah sudah selesai. Anisa juga nggak jadi menikah dengan juragan Imron. Sertifikat tanah Ibu sudah kembali. Apalagi yang kurang?"
"Kamu itu memang sama bebalnya kayak anak kamu ini!" Dewi menunjuk wajah Salsa yang dari tadi tersenyum sambil menatap langit-langit ruangan itu.
"Kamu kenapa, Sa? Udah gila juga kayak Ayah kamu?"
"Enggak, Buk, aku nggak gila, kok. Hanya saja, Mas Bagas ganteng, ya, Buk, kaya lagi." Salsa kembali tersenyum saat menceritakan Bagas. Terlihat jelas bahwa saat ini dia sedang jatuh cinta pada pria itu.
__ADS_1
"Oh, pantesan aja kamu tadi pura-pura rajin. Tapi sayang banget, Sa, kayaknya Bagas suka sama Anisa, bukan kamu. Jadi, nggak usah terlalu banyak bermimpi, ya, anakku sayang." Dewi tersenyum sambil mengusap kepala Salsa dengan gemas.
Salsa hanya mendengkus kesal karena nyatanya ucapan ibunya benar. Dia bisa melihat bagaimana tatapan Bagas kepada Anisa tadi. Tapi, dia sudah bertekad bahwa dia akan mengejar Bagas. Dan hanya ada satu yang perlu dia lakukan saat ini. Yaitu...