Jangan Bedakan Aku

Jangan Bedakan Aku
Tak habis-habis


__ADS_3

Sesampainya mereka di rumah sakit, mereka pun langsung menuju ke ruangan tempat Salsa dirawat. Ruangan itu terletak di lantai atas di sebuah ruangan VIP.


Terlihat kondisi Salsa yang penuh dengan luka lebah dengan seorang infus di tangannya dan juga kepalanya yang banyak diperban.


"Sa, ya ampun, Nak, kenapa kondisi kamu kayak gini?" Ramli mendatangi Salsa dan menangis tersedu-sedu.


"Ini semua karena Mas Bagas, Yah. Dia meminta semua uang yang telah kita gunakan dikembalikan dengan tenagaku. Dan tadi, waktu aku mau ikut ke rumah Ayah, Mas Bagas malah memukuliku hingga pingsan. Dia jahat, Yah. Dia telah membuat hidup Salsa hancur." Salsa menangis tersedu-sedu dalam pelukan ayahnya.


"Sabar, ya, Nak. Ayah akan segera mengurus surat perceraian kalian. Kata Adit, dia udah dipenjara, kamu tenang aja, dia nggak akan berani lagi melukai kamu."


"Mas Adit?" Salsa langsung menoleh ke arah Adit dan menatapnya dengan penuh rasa terima kasih.


"Makasih, ya, Mas, Kak, kalau bukan karena kalian, entah apa jadinya nasibku sekarang."


"Hanya Adit yang nolongin kamu, Sa, bukan Anisa."


"Ayah ngomong apa sih? Justru tadi Kak Anisa yang nolongin aku sewaktu pingsan di rumah. Disaat aku siuman pun, Kak Anisa yang ada di sampingku dan memberiku semangat." Salsa tersenyum pada Anisa, wanita yang dulu tak pernah baik di matanya.


"Ya, tetap aja kan, kalau bukan karena Anisa, kamu nggak akan pernah jodoh dengan Bagas dan berakhir seperti ini."


Dewi langsung melotot mendengar ucapan Ramli. Bukannya senang karena kini kedua anaknya akur, dia malah mencoba memprovokasi Salsa agar membenci Anisa lagi.


"Yah, udah, dong. Dari sini Salsa sadar kalau semua musibah yang menimpa Salsa adalah karena ulah Salsa sendiri. Kalau aja Salsa nggak serakah, pasti Salsa nggak akan mengalami ini. Salsa yakin kalau ini adalah terguran buat Salsa." Salsa menitihkan air matanya sambil terisak menangisi kesalahannya selama ini.


Ramli hanya diam menanggapi ucapan Salsa. Sejatinya dia enggan membahas tentang hal itu di sana.


"Sa, kamu fokus aja sama kesembuhan kamu, ya, Sayang," ucap Dewi sambil menghampiri dan mengusap kepala Salsa dengan lembut.

__ADS_1


Salsa tersenyum dan mengangguk. Baru kali ini dia merasakan kasih sayang Dewi yang teramat tulus padanya.


"Maafin kesalahan Salsa selama ini, ya, Buk," ucap Salsa di tengah isak tangisnya.


"Iya, Sa, Ibu juga minta maaf karena selama ini sering marah sama kamu."


"Ibuk marah karena Salsa salah. Makasih karena selama ini nggak berhenti buat nasehatin Salsa."


Dewi mengangguk sambil tersenyum lembut.


"Udah, Sa, kamu tenang aja. Setelah ini, Ayah akan carikan calon suami yang kaya seperti Adit. Anisa yang sering menyusahkan aja bisa dapat yang kaya. Apalagi kamu yang selama ini selalu membawa rezeki untuk Ayah."


"Astaghfirullah, kuatkan hati hamba, Ya Allah. Kalau aja ini nggak di rumah sakit, udah aku jadikan rujak kamu, Ramli!" Dewi menatap Ramli dengan tajam. Rahangnya mengeras, giginya gemeretak, dan matanya melotot hampir keluar.


"Ayah kan cuma ngomong apa adanya, Buk."


"Ibuk mau denger?"


Dewi mengangguk disertai tatapan penasaran dari yang lainnya.


"Gini ceritanya, Buk, dulu, Ayah kan punya adik namanya Rahman. Jadi, dulu, sebelum Rahman lahir, kondisi ekonomi kedua orang tua kami sangat baik. Tapi, setelah Rahman lahir, kondisi ekonomi mereka malah turun. Hutang dimana-mana, kemalingan, sampe rumah dijual sodara Bapak."


"Terus?"


"Terus, sejak saat itu, Bapak selalu mengutamakan Ayah. Disekolahin tinggi-tinggi sampai bisa kerja bantu ekonomi mereka. Sedangkan Rahman hanya di rumah bantu usaha bengkel Bapak."


"Memangnya selama kamu kerja, berapa uang yang kamu kasih ke mereka setiap bulan?"

__ADS_1


"Cuma seratus ribu, sih, tapi kan lumayan daripada enggak ngasih sama sekali."


Mata Dewi membeliak mendengar penuturan suaminya yang tak masuk akal.


"Terus adikmu si Rahman?"


"Dia nggak ngasih apapun. Dia kan kerja di bengkel keluarga."


"Emang pendapatan bengkel perbulan berapa? Terus, keluarga kalian kebutuhan sehari-hari uangnya dari mana?"


"Lumayan, sih, sekitar lima jutaan karena bengkel kami laris manis. Rahman aja sampai mau direkrut perusahaan besar karena keahliannya di bidang montir. Dan kebutuhan rumah ya jelas dari usaha bengkel itu dong."


"Udah deh, Ramli, nggak usah cerita lagi. Pusing aku dengerinnya." Dewi memilih untuk duduk di sofa saja. Jelas dia tahu bagaimana saat dulu dia berpacaran sampai menikah. Ramli selalu meminta uang orang tuanya hingga beberapa bulan setelah menikah, orang tuanya pun meninggal dalam kecelakaan sehingga hidup mereka sengsara.


"Maaf, Yah, Rahman adik Ayah maksudnya Pak Rahman Indarawan?" tanya Adit yang seperti mengenal sosok yang baru saja diceritakan mertuanya.


"Iya, kok kamu tau?"


"Dia itu sekarang jadi montir di perusahaan mobil luar negeri punya temen saya," ucap Adit.


"Hah? Dia sekarang ada di luar negeri? Pantas aja selama beberapa tahun ini dia nggak pernah ngehubungin Ayah lagi."


"Iya, Yah, sekarang dia sukses, bahkan perusahaan tempat dia kerja aja udah diakuisisi puluhan milyar."


"Halah, palingan karena orang kasihan sama dia."


"Enggak, Yah. Dia itu memulai semuanya dari nol. Dan kesuksesannya sekarang berkat kerja kerasnya selama ini."

__ADS_1


"Udahlah, ngapain juga kamu ikutan bahas dia." Ramli jadi panas sendiri mendengar kesuksesan adiknya. Padahal, dulu adiknya sering kali meminta bantuannya saat masih susah. Namun, dia selalu enggan memberikannya karena menurutnya kesuksesannya sekarang bukan campur tangan adiknya, meskipun dia kuliah dari uang hasil bengkel yang dikelola ayah dan adiknya.


__ADS_2