Janitra

Janitra
Bab 10


__ADS_3

Sesuai rencana, saat jam makan siang Pak Rio mengajak kami makan bersama di restoran langganannya yang berada tidak jauh dari kantor. Makan gratis ditraktir pak bos, siapa bisa nolak sih. Setelah memesan menu kesukaanku, ku cek gawai. Beberapa pesan masuk dan panggilan tidak terjawab.


Kubuka pesan dari Mas Aditya.


"Nala, kamu dimana? Dewa dijemput suamimu tadi jam sembilan."


Seketika pikiranku langsung kacau. Aku takut Dewa tidak terurus, aku takut Dewa diambil paksa olehnya. Kulirik jam di pergelangan tanganku, selesai makan siang aku masih ada meeting. Kucoba menenangkan diri dan pikiranku. Bagaimanapun juga, Danang adalah ayah kandungnya Dewa.


Untung semua berjalan sesuai rencana, selesai meeting aku segera ijin pulang. Aku langsung menuju rumah temanku yang tidak jauh dari rumah eyang yang masih ditempati oleh Danang.


Sesampainya disana kulihat Mbak Ika sedang menyiapkan dagangannya.


"Mbak..." Kutepuk pundaknya dari belakang.


"Eh, Bunda..kok sendirian?"


Mbak Ika memang biasa memanggilku 'Bunda'.


"Dewa diajak kesini nggak sama Danang?"


"Enggak. Bunda emang dari mana? Biasanya kan Bunda pulang kerja sekalian jemput Dewa?"


"Aku sama Dewa sudah pindah ke kost, Mbak.."


"Lha terus rumah eyang kosong?"


"Dia masih disana.."


"Nggak tau diri banget. Tapi aku seneng, Nda, kamu pisah sama dia. Jangan mau balikan lagi." Mbak Ika menyodorkan segelas besar es lemontea kesukaanku dan sepiring penuh tahu isi dan tempe mendoan yang masih hangat.


Pembeli mulai berdatangan. Dari teras kuamati mbak Ika mulai kerepotan menggoreng sembari melayani pembeli. Aku mendekatinya, setelah mencuci tangan di kran yang berada tak jauh dari situ, aku membantu mbak Ika melayani pembeli. Mbak Ika melirikku, ada rasa khawatir pada tatapannya.


"Udah nggak apa-apa. Kasihan kamu repot."


Tak terasa adzan maghrib berkumandang. Pembeli yang tadinya mengantri tanpa putus sudah tidak ada. Mbak Ika menyelesaikan gorengan terakhir, mematikan kompor, lalu berpamitan sholat maghrib. Biasanya setelah maghrib mulai ada pembeli lagi. Aku hafal karena sering membantunya berjualan.


"Dewa nggak kesini ya Nda? Nggak coba ke rumah eyang aja?"


"Tadi aku lewat, sepi. Pagarnya digembok."


"Kamu udah yakin pisah, Nda? Keluargamu tau? Gimana responnya?"


"Pasti taulah. Dia pasti udah koar-koar playing victim ke seluruh keluarga besar."


"Hahaha. Iya ya Nda. Jadi inget waktu itu disini sampai bikin ribut. Nendang kamu, bikin malu kamu di depan pembeliku. Ngatain kamu p*****r segala. Padahal dia yang jelas selingkuh. Udah nganggur banyak tingkah lagi."


"Yaaa begitulah, pengangguran, maunya hidup enak, jadi gampang kesulut emosinya karena merasa harga dirinya terusik lihat aku yang cari uang. Bukannya jadi ada semangat kerja, malah semakin bikin dia nggak berharga di mataku."


"Sabar ya Nda.. Terus ini Dewa gimana?"

__ADS_1


"Aku juga daritadi bingung Mbak... Aku sms dia nggak dijawab."


Lalu kami sama-sama diam, larut dalam pemikiran kami masing-masing. Nasib rumah tangga mbak Ika sebenarnya tidak jauh lebih baik dari rumah tanggaku. Hanya saja suaminya tinggal di kampungnya sementara mbak Ika bekerja disini.


Dari kejauhan aku melihat motor Danang menuju arah rumah mbak Ika. Bergegas aku berdiri menghampirinya. Dewa berlari memelukku.


"Laper aku, Bun..."


Kugendong Dewa yang masih menggunakan seragam sekolahnya. Kusodorkan sepotong tempe mendoan dan langsung dilahapnya seperti sangat kelaparan.


"Kamu laper banget?"


"Iya, aku belum makan. Tadi cuma makan yang Bunda bawain."


Kutitipkan Dewa pada Yola, anak mbak Ika. Sementara aku mendekati Danang yang masih merokok di atas motornya.


"Dewa kenapa nggak dikasih makan? Seharian kamu ajak kemana?"


"Ya kamu kenapa nggak siapin uang di tasnya, jadi kalau aku yang jemput kan aku tetep bisa kasih makan Dewa."


"Yang suruh kamu jemput Dewa siapa? Ya kalau kamu mau jemput, seharusnya kamu bertanggung jawab juga sama makan dan minumnya."


"Siapa suruh kamu pergi dari rumah. Jadinya Dewa nggak bisa ketemu ayahnya setiap hari."


"Pikir sendiri kenapa aku pergi dari rumah!! Siapa kuat sama laki-laki seperti kamu?!"


"Tuduhanmu nggak pernah terbukti. Tapi kamu selalu koar-koar seolah aku yang buruk hanya agar semua keluarga mempercayaimu dan membelamu. Maksudmu biar aku membatalkan rencana perpisahan kita kan? Oh jelas tidak bisa. Aku sudah bulat berpisah denganmu. Aku jauh lebih kasihan dengan Dewa kalau dia harus melihat ayahnya yang seorang pengangguran, pemabuk, peselingkuh, dan pelaku KDRT di sepanjang hidupnya."


"Aku nggak mau pisah. Aku nggak mau Dewa jadi anak broken home. Kamu jangan egois!"


"Yang egois saya atau anda? Dewa tidak akan menjadi anak broken home hanya karena kita bercerai. Dia akan menjadi anak yang bahagia dan memiliki masa depan cerah. Perceraian belum tentu menjadikan seorang anak menjadi broken home. Tapi rumah tangga yang bertahan dengan mengatasnamakan anak padahal setiap hari si anak disuguhi pertengkaran dan KDRT, justru ada kemungkinan besar si anak menjadi produk broken home. Paham?"


Tangan Danang melayang ke pipiku tanpa sempat aku menghindar. Tepat saat itu juga Dewa berlari ke arahku. Melihat aku ditampar Danang, Dewa memelukku sambil menangis kencang. Kugendong Dewa, lalu aku minta Yola mengambilkan tas Dewa. Tanpa kupedulikan Danang yang memaksaku untuk pulang bersamanya, aku terus berjalan sambil menggendong Dewa yang masih menangis. Sampai depan minimarket, kusempatkan mampir untuk membelikan Dewa susu kemasan kesukaannya. Karena kuyakin, sedaritadi pasti Danang tidak membelikannya susu.


Keluar dari minimarket, kulihat Danang menunggu di pinggir jalan. Tanpa mempedulikannya, aku berniat menyeberang jalan. Namun Danang tiba-tiba menarik paksa Dewa.


"Siniin anakku!"


"Dia anakku juga! Pulang kamu! Jangan kayak p*****r!!"


Pertolongan Tuhan selalu tepat waktunya, seorang bapak pengemudi becak mendekatiku.


"Mas, kasih anak itu ke ibunya. Kalau masnya suami yang baik, bukan seperti ini caranya. Menghina istri di depan umum, bahkan di depan anak sekecil ini."


"Bapak siapa? Pacar dia? Jangan ikut campur, ini masalah rumah tangga saya."


"Masalah rumah tangga itu kalau ada di rumah. Ini di jalan raya, di pinggir jalan. Ada anak kecil juga yang jelas jadi korban. Jadi saya juga bisa menolong ibu ini dan anaknya. Mas merendahkan istri sementara dari penampilan saja jelas bahwa istri masnya tampak wanita baik-baik. Saya jadi bisa menilai sebenarnya yang rendah itu siapa."


Bapak-bapak yang tidak kuketahui siapa namanya berhasil mengambil Dewaku dari Danang.

__ADS_1


"Naik ke becak saya, Bu. Jaga anaknya. Jangan sampai diambil sama laki-laki ini."


Kupeluk Dewa yang masih terus menangis.


"Sudah, jangan menangis. Sekarang kamu aman sama Bunda."


Perlahan becak yang kunaiki menjauhi Danang yang masih berada di depan minimarket tadi.


"Bu, jangan takut lagi ya. Sebentar kita mampir belikan anakmu makan dulu. Baru saya antar kalian pulang."


Sepanjang jalan aku hanya bisa menangis. Ada sesak menyeruak melihat sikap bapak tua pengemudi becak ini. Sikapnya yang berusaha melindungiku, satu hal yang tidak pernah kurasakan dari Papa terlebih sejak Mama meninggal sepuluh tahun lalu.


Pak tua memarkirkan becaknya di depan halaman sebuah rumah makan ayam goreng krispy kesukaan anakku lalu membantu kami turun.


"Sini gendong simbah. Jagoan makan dulu ya. Biar kuat, biar bisa jagain Mamanya."


Beliau memesan tiga porsi nasi ayam sekaligus membayarnya.


"Pak...saya saja."


"Sudah, simpan uangmu. Biar sekali ini saya traktir kalian. Tolong jangan menolak."


Aku mengangguk mengiyakan.


Setelah menghabiskan makanan, kami diantarkan ke kost.


"Jangan pernah menyerah untuk semua hal yang terjadi. Ada siang ada malam. Ada hujan, ada cerah. Nikmati setiap musimnya. Saya tau kamu kuat."


"Pak, terima kasih banyak."


"Sana masuk. Akan saya pastikan, suamimu tadi tidak membuntuti kesini."


Segera aku dan Dewa membersihkan diri untuk bersiap beristirahat.


"Bunda, aku besok nggak mau sekolah lagi..."


"Bunda janji nggak akan ninggalin Dewa. Udah, sekarang tidur yuk. Biar besok semangat lagi kita."


"Bunda, boleh nanya?"


"Apa sayang?"


"Apa Eyangkung seperti simbah tadi? Baik, dan sayang sama Dewa."


Kugigit bibirku keras namun airmata tetap luruh tak tertahan.


"Yaaa Bunda nangis. Maafin aku ya Bunda. Aku tidur ya Bunda. Aku sayang Bunda."


Kupeluk Dewa. Anak lelaki semata wayangku, tumpuan harapanku.

__ADS_1


__ADS_2