Janitra

Janitra
Bab 55


__ADS_3

"Sit, makan siang bareng yuk..." bisikku.


"Ada yang mau diobrolin?" Sita menjawab juga dengan berbisik.


"Iya, tapi aku ijinnya ke boss, kamu mau curhat gitu ya?" lirihku dengan tatapan memohon yang segera dijawab dengan anggukan kepala oleh Sita.


Segera kuambil ponselku dan mengetikkan sebuah pesan untuk Mas Rio.


[Mas, makan siang nanti aku sama Sita boleh ya? Dia mau curhat katanya.]


[Sita kan, bukan kamu?]


Glek...


Kutelan salivaku membaca balasannya.


[Sita pengen ngobrol, Mas. Boleh, Mas?]


[Ok.]


Kusandarkan punggung pada kursi dengan perasaan lega lalu segera kulanjutkan pekerjaanku.


Tak terasa jam makan siangpun tiba. Aku dan Sita gegas membereskan meja kerja kami. Namun belum sempat kami berdiri, pintu ruangan terbuka.


"Dek, jadi pergi sama Sita?" Mas Rio masuk tanpa basa-basi.


"Jadi, Mas."


"Kamu mau ajak Nala, Sit?" Mas Rio bertanya pada Sita.


"Iya, Pak. Boleh Pak?"


"Boleh. Saya antar sekalian saya keluar."


"Kami naik motor saja, Pak. Takut merepotkan." Sita berusaha menolak setelah kuberi kode melalui lirikan mata.


"Saya tunggu di mobil." Mas Rio menjawab Sita namun matanya tajam menatapku.


"Baik, Pak."


"Kalian ada masalah?" bisik Sita setelah kami rasa Mas Rio cukup jauh dari kami.


"Benernya enggak. Nanti aja kuceritain." lirihku.


"Yaudah, berangkat sekarang yuk."


Di mobil


"Mau makan siang dimana?"


"Di rumah makan yang kita pernah kesana itu, Pak."


"Oh. Okay."


"Maaf, merepotkan ya Pak."


"Enggak. Sekalian saya ada janji sama orang. Nanti kalian kalau sudah selesai, hubungi saya saja."


"Ya, Mas." jawabku lirih.


Tak lama kemudian, mobil mas Rio memasuki pelataran parkir rumah makan yang disebutkan oleh Sita tadi.


"Makasih ya Pak..." Sita bersiap turun dari mobil.


"Saya tahu, sebenarnya yang butuh cerita itu Nala bukan Sita."


"Kok mas bilang gitu?" tanyaku berusaha tetap tenang.


"Kamu itu cemburuan, dek. Tadi saat aku bilang mau pergi ada urusan, kamu sama sekali nggak nanya kemana, sama siapa. Nggak seperti biasanya. Padahal biasanya kamu akan mendesak sampai kuberi jawaban yang meyakinkan terlebih kalau sebelumnya aku ngga ngasih tau dulu. Ini tadi kamu diam kan? Kusimpulkan, kamu memang pengen berdua saja dengan Sita tapi takut ngomong ke aku jadi kamu jadikan Sita sebagai alasan."


"Maaf Pak, tapi benar saya...."


Mas Rio mengangkat sebelah tangannya, kode untuk Sita berhenti bicara.


"Saya nggak butuh kebohongan lagi. Silahkan kalian ngobrol berdua. Nanti kalau sudah selesai, segera hubungi saya."


"Baik, Pak." Sita menjawab lirih.

__ADS_1


"Dek, kalau ada masalah tentang kita, silahkan bicarakan dengan saya. Selesaikan berdua. Saya nggak masalah kamu pergi dengan Sita. Tapi bukan untuk mengumbar masalah hubungan kita."


"Mas..."


"Sudah sana kalian makan dulu. Saya juga ditunggu orang." Mas Rio memotong ucapanku.


Berdua Sita, aku segera turun dari mobilnya dan terdiam sampai mobil Mas Rio tak tampak lagi dari pandangan kami.


"Pacarmu dukun ya Na."


"Entah." jawabku lemas.


Kami mencari meja yang di ujung agar tidak terganggu dengan lalu lalang pengunjung.


"Sit, aku mau nanya tentang Mas Rio."


"Berani curhat Na? Nggak takut dia ngamuk kalau tau? Bener sih Na, kalau ada masalah sama dia, selesaikan berdua aja."


"Dengerin aku dulu, plis." pintaku.


"Oke. Apa?"


"Mas Rio benernya udah nikah belum sih?"


"Kok nanya gitu kenapa?"


"Feeling sih. Makin kesini aku ngrasa ragu sama dia."


"Pernah kamu tanya ke Pak Rio?"


"Enggak. Aku yakin dia nggak akan ngaku."


"Aku kira kamu bisa hargai aku, bisa dengar omonganku tadi. Ternyata sama sekali tidak."


Spontan aku berdua Sita langsung menoleh ke arah suara. Mas Rio berdiri di dekat kami. Tulangku serasa lepas. Terlebih saat Mas Rio menarik sebuah kursi.


"Lanjutkan saja obrolan kalian."


Namun obrolan kami terhenti karena seorang pelayan mengantarkan pesanan kami. Ternyata Mas Rio juga sudah pesan makanan dan minuman.


Tanpa mempedulikan kami, mas Rio segera memasukkan sesuap demi sesuap nasi ayam bakar kesukaannya.


Setelah menyelesaikan makan siang kami, Mas Rio membuka percakapan.


"Maaf ya mengganggu keasyikan kalian membicarakan saya. Tadi saya tiba-tiba pengen makan ayam bakar disini. Lagipula tadi teman saya membatalkan janjinya. Kebetulan sekali, saya mendengar kekasih saya tercinta sedang curhat hal yang sebenarnya bisa ditanyakan langsung pada saya. Sepertinya sudah tidak bisa menghargai saya."


Setelah Mas Rio menyelesaikan bicaranya, dia tampak terkejut dan terus menatap ke seorang pengunjung wanita yang baru saja datang sambil menggendong seorang anak laki-laki berusia sekitar dua tahun. Tepat saat wanita itu menatap mas Rio juga, Mas Rio segera menggenggam tanganku yang sedari tadi di atas meja namun segera kutarik berpura-pura ingin mengambil minum.


"Balik ke kantor yuk Mas. Atau ada seseorang yang mau mas temui dulu?"


"Ayo kita balik ke kantor. Sebentar saya bayar dulu. Kalian ke mobil dulu atau nunggu di depan?"


"Di depan saja. Aku mau ke toilet dulu. Ayo Sit." kutarik tangan Sita menuju toilet.


Di toilet, hanya aku yang buang air kecil, Sita hanya memoles kembali lipstiknya yang terhapus setelah makan.


"Kamu lihat tadi?" tanyaku pada Sita.


"Siapa ya perempuan itu?" Sita malah balik bertanya.


"Sepertinya kecurigaanku benar. Dah yuk keluar. Nanti pulang kerja makin panjang ceramahnya."


Sita terkikik dan segera mengikuti langkahku keluar dari toilet yang langsung disuguhkan pemandangan indah.


"Pa..pa.." seorang anak laki-laki melambaikan tangan pada Mas Rio yang berjalan menuju pintu keluar. Mas Rio pun membalas lambaian tangannya.


Ibu dari si anak melihat kami lalu segera mengalihkan perhatian anak laki-laki itu. Semua tersaji dengan begitu jelasnya. Semakin meyakinkanku bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Mas Rio selama ini.


Tak terasa sudah waktunya pulang. Setelah membereskan meja, bergegas aku masuk ke ruangan Mas Rio.


"Mas, sudah selesai jam kerja, bisa bahas masalah pribadi kan?"


Mas Rio mempersilakan aku duduk.


"Perempuan tadi siapa? Anak laki-laki yang tadi melambaikan tangan dan memanggilmu Papa, siapa?"


Bukannya menjawab, Mas Rio justru melanjutkan aktivitasnya.

__ADS_1


"Jawab, Mas!"


"Masih butuh jawabanku? Apa nggak lebih baik bohong ke aku biar bisa curhat ke Sita?"


"Sesekali aku butuh ngobrol sama Sita berdua saja, apa salah, Mas?"


"Nggak salah. Yang salah adalah kamu membicarakan masalah tentang kita ke orang lain. Masalah kita, selesaikan berdua saja. Aku cukup mengenalmu. Kalau kamu mau bahas hal lain, pasti kamu tetap berani pamit ke aku tanpa bohong seperti tadi. Kamu alasan Sita mau ngobrol karena kamu takut aku banyak tanya. Ya kan?"


"Aku nggak akan ulangi lagi. Sekarang tolong jawab aku Mas, siapa anak kecil tadi, siapa perempuan itu? Jawab, Mas!!"


"Bukan siapa-siapa. Hanya teman."


"Hanya teman?? Teman macam apa yang menyuruh anaknya memanggilmu Papa?!!!"


Mas Rio menarik nafas panjang dan menatapku dalam.


"Kami dulu dekat, bisa dibilang sepasang kekasih. Namun orangtuanya nggak setuju, dan menjodohkannya dengan suaminya sekarang."


"Dan sampai saat ini kamu masih mencintainya kan? Aku bisa lihat dari tatapan mata kalian."


"Na, maaf..." ucapnya lirih.


"Gila kamu, Mas!! Seharusnya kamu menyelesaikan dulu urusan perasaanmu baru kamu mendekatiku."


"Maaf..." ucapnya sekali lagi.


"Kita selesai, Mas. Teruskan saja perasaanmu padanya. Aku mundur."


"Aku nggak akan melepaskanmu, Na."


"Kenapa? Toh yang bertahta di hatimu kan dia, bukan aku!!"


"Aku juga sayang kamu, Na!! Tapi aku nggak bisa mematikan perasaanku padanya."


"Egois!! Aku nggak bisa teruskan hubungan kita, Mas."


"Apa bedanya dengan kamu, Na? Kamu juga masih mencintai dia kan? Tapi kamu tetap jalani hubungan kita!!! Yang egois, aku atau kamu???"


"Kenapa mas malah balikin ke aku? Aku udah nggak ada perasaan apapun ke dia! Selesai, ya sudah!"


"Tapi masih menikmati rasa cinta yang dia beri kan?? Munafik! Aku bisa lihat cinta kalian masih sama-sama besar."


"Kamu salah!!! Sudahlah mas, nggak ada yang perlu diperdebatkan. Aku mundur."


"Aku nggak akan lepaskanmu. Kita secepatnya akan menikah kalau kamu benar-benar sudah tidak mencintai dia. Aku janji, rasa cintaku ke dia nggak akan mengganggu pernikahan kita."


"Aku nggak bisa..."


"Karena masih cinta dia kan?"


"Karena aku nggak mau berbagi cinta dengan perempuan manapun!! Sampai kapan kamu mau seperti ini mas? Sementara dia sudah berbahagia dengan suaminya!"


"Dia tidak bahagia dengan suaminya."


"Oh sedalam itu kamu tahu tentang rumah tangga mereka? Ohya, bahkan anaknya saja memanggilmu Papa ya Mas? Atau jangan-jangan itu anakmu?!"


"Na, jangan nilai dia serendah itu!! Aku nggak suka!!"


"Wah sehebat itu dia ya, sampai mas masih membelanya!!"


Lelah dengan pertengkaran tak berujung, tanpa berpamitan, aku berdiri dan berjalan keluar.


"Na..." mas Rio mencekal tanganku.


"Sudah nggak ada yang perlu kita bahas. Aku nggak bisa menjalani hubungan seperti ini. Nikmati saja rasa cintamu pada istri orang itu. Aku pergi, Mas."


Mas Rio menarikku ke dalam pelukannya. Tumpahlah airmata yang sedari tadi kutahan.


"Aku benci kamu, Mas!!! Kenapa kamu biarkan cinta ini tumbuh, kalau ternyata kamu mencintai perempuan lain?!"


Mas Rio mempererat pelukannya, berkali-kali keningku dicium. Jika dalam kondisi biasa, pasti aku merasa bahagia. Namun saat ini, setiap kecupannya justru menambah rasa sakit di hatiku. Kutumpahkan semua emosiku pada Mas Rio entah berapa lama.


"Menikahlah denganku, Na. Bantu aku melupakannya."


Kupejamkan mataku, setiap kata yang keluar dari mulutnya, semakin terasa mengiris hatiku. Kugigit bibirku kencang.


"Na..."

__ADS_1


Mas Rio menengadahkan wajahku, perlahan dia mendekatkan wajahnya dan dengan sangat lembut mengulum bibirku.


__ADS_2