
Sita datang tepat saat aku menyelesaikan suapan terakhir sarapanku. Bubur ayam spesial yang dibelikan Pak Rio. Namun setelah memberi, beliau pergi entah kemana.
"Tumben jam segini." aku melirik jam sambil mengulum senyum.
"Iya karena penasaran dengan berita hot dari kamu. Hahaha. Ada apa sih?"
"Tau nggak siapa yang kemarin mengajakku bertemu?"
"Danang? Atau fans barumu tapi menggunakan suara wanita agar kamu mau menemuinya?"
"Hahaha. Fans? Emang aku artis?" Aku terbahak mendengar ucapannya. "Bukan... Tapi istrinya Pak Jhoni."
"Dia melabrakmu?" Sita terbelalak.
"Enggak lah. Sebaliknya, dia justru melamarku jadi adik madunya."
"Kamu terima?"
"Ya enggak laaaahh..."
"Sabar ya, Na. Tuhan pasti kasih yang lebih baik dari Pak Jhoni." Sita mengelus pundakku seolah menghibur padahal dia mengucapkannya sambil terkikik geli.
"Tenang Sit, buaya-buaya yang dulu pergi sama yang lain aja aku masih tegar kok. Apalagi ini playboy kelas rebon yang nggak ada andil apapun dalam hidupku, yang hanya sekedar numpang lewat saja."
"Oh iya aku lupa. Kamu kan pawang buaya. Udah kebal lah ya. Hahaha."
"Ngaku bujang padahal anaknya lima. Mana yang kecil belum genap sebulan."
"Hah? Eh cantik nggak istrinya?"
"Nggak tahu. Dia bercadar."
Sita menggaruk kepalanya yang kuyakin tidak gatal.
Obrolan kami terputus karena satu persatu rekan sudah datang. Kamipun segera menyibukkan diri dengan pekerjaan masing-masing.
"Astaga!!! Bapak ngapain disini??" Aku terkejut melihat Pak Rio berdiri menyandar pada mejaku.
"Kamu tuh yang lagi ngapain? Saya panggil daritadi diam saja." Pak Rio menggelengkan kepalanya.
"Maaf Pak. Lagi konsen." Aku tertunduk malu. Sementara kudengar Sita terkikik pelan.
"Hmm. Ya sudah, tolong ke ruangan saya ya."
Aku mengekor Pak Rio diiringi tawa cekikikan Sita. Untung Pak Rio tipe atasan yang friendly. Mendengar Sita terkikik, Pak Rio juga ikut tertawa.
"Na, kita dapat proyek dari kantor Pak Jhoni lagi." kedua alisnya terangkat dengan senyum menggodaku.
"Bapak salah panggil orang. Sita yang kemarin menangani." Kumajukan bibirku dengan maksud Pak Rio tahu aku marah.
"Tapi mereka minta kamu."
"Saya sibuk."
"Kalau dia mengejarmu lagi, bilang saja kamu sudah menikah."
"Nggak semudah itu, Pak." Aku mendengus kesal.
"Ya sudah. Saya pikirkan dulu gimana caranya. Tapi kamu mau kan ya tangani proyek mereka?" tatap Pak Rio penuh harap.
Kuangkat kedua bahuku dengan memasang wajah bingung.
"Nanti siang, jam makan siang kita obrolin lagi. Sekalian makan siang ya."
"Sama Sita?"
"Boleh. Menghindari fitnah kan? Bukan menghindar dari saya?"
"Kalau saya menghindar dari bapak, saya sudah resign dari kemarin." Aku tersenyum sinis.
"Hahaha. Iya iya. Galak amat kamu hari ini. Tanggal berapa sih?"
"Tanggal tua, Pak. Ya sudah saya permisi dulu."
***
"Jadi apa rencana bapak biar Nala nggak diganggu Pak Jhoni lagi?" Sita membuka percakapan siang itu.
"Jangan suruh saya berpura-pura sudah menikah ya, Pak." Aku melotot yang lalu disambut oleh tawa Pak Rio dan Sita.
"Kemarin sore Nala dilamar oleh istri Pak Jhoni, Pak." Sita langsung menutup mulut dengan kedua tangannya.
"Hah? Kamu terima Na?"
"Paaaaaaakkkkkkk....." jeritku tertahan. "Jelas saya tolak lah."
"Syukurlah." Pak Rio menarik nafas lega. "Rencana saya, untuk kali ini saya yang akan dampingi. Kita akan jadi satu tim. Saya yakin Pak Jhoni akan sungkan jika ada saya. Gimana Na, Sit?"
"Bisa sih gitu asal bapak pepet terus Nala." Sita mengangguk-angguk.
"Wah kalau itu sih tanpa kamu suruh, saya juga akan pepet Nala terus." Pak Rio menggerakan kedua alisnya naik turun dengan memasang rupa jenaka.
"Terooossss aja godain saya." Aku berpura-pura cemberut.
Kami menghabiskan makan siang sambil bersenda gurau. Dalam hati aku bersyukur memiliki atasan seperti Pak Rio yang tidak hanya menyuruh namun juga mencarikan solusi.
__ADS_1
***
Hari berganti hari, karena tuntutan pekerjaan, aku dan Pak Rio semakin sering berinteraksi. Perhatian dari Pak Rio yang selama ini kuanggap angin lalu, mulai sedikit kupedulikan. Jika biasanya aku tidak pernah menjatuhkan hati pada teman priaku sesering apapun aku berinteraksi, namun kali ini sebuah ungkapan populer 'Witing Tresno Jalaran Soko Kulino' berlaku untukku. Sebuah rasa mulai hadir walau kutekan mati-matian.
"Kopi, Na..."
Pak Rio menyodorkan secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan uap panasnya. Tanpa kuicip, aku sudah tahu pasti kopi ini sesuai seleraku.
"Terima kasih, Pak."
"Sudah malam, Na. Pulang saja dulu. Besok kita kerjakan lagi."
"Nanggung, Pak sedikit lagi. Lagipula tidak enak dengan teman-teman lain." aku merendahkan suaraku sembari melirik teman-teman se-tim ku yang saat ini juga sedang berjibaku dengan pekerjaan kami.
"Tapi kasihan anak kamu, Na. Saya yakin, mereka bisa memaklumi."
"Nggak apa-apa, Pak. Kebetulan Mamanya datang dan menginap di kost. Jadi Dewa bisa saya titipkan dia."
"Mama?" Pak Rio mengernyitkan dahinya.
"Sahabat saya sejak SMA, Pak. Kami sudah sangat dekat jadi Dewa memanggilnya begitu."
Pak Rio mengangguk paham sambil memainkan dagunya yang sudah dicukur habis.
Jam menunjukkan pukul 20.00 saat kami kompak mematikan laptop dan komputer di meja masing-masing. Sama seperti lainnya, akupun bersiap untuk pulang. Ada rindu membuncah pada Dewa. Ah, semoga dia belum terlelap saat aku sampai kos nanti karena aku berencana membelikan martabak manis cokelat keju kesukaannya.
"Saya antar kamu, Na. Ini sudah larut." Pak Rio tiba-tiba sudah berada di depanku.
"Nggak usah, Pak, baru juga jam segini."
"Jangan tolak saya, Na. Masuk!"
Jika tadi yang kudengar adalah sebuah penawaran, kali ini adalah sebuah perintah. Kubuka pintu mobil dan kuhempaskan tubuhku di jok mobil Pak Rio. Dinginnya udara dari AC mobil langsung menerpa lembut wajahku, membuatku semakin ingin menjemput mimpi setelah seharian otakku bekerja keras.
"Kamu ngantuk banget ya Na?"
"Hehe. Iya, Pak. Terima kasih lho tumpangannya. Hari ini entah kenapa saya kok ngantuk banget."
"Langsung saya antar ke kost?"
"Tadi rencana mau bungkus makan dulu sekalian beli oleh-oleh untuk Dewa. Tapi langsung pulang nggak apa, Pak."
"Kamu mau makan apa? Dewa mau dibawakan apa?"
"Nggak usah, Pak. Saya nggak mau merepotkan." tolakku halus.
Pak Rio menghentikan mobilnya di pinggir jalan, melepas sabuk pengaman lalu menghadapkan tubuhnya padaku.
"Na, mau sampai kapan kamu bersikap seperti ini?"
"Kamu tahu kan kepedulianku ini karena apa?"
Aku menunduk mendengar pertanyaannya, kugigit bibir bawahku. Tangan Pak Rio meraih daguku dan mengangkatnya, memaksaku melihat manik hitam yang sedang menatapku tajam.
"Jawab, Na." ucapnya lirih.
"I-iya saya tau, Pak."
"Kapan kamu bisa membalas perasaanku, Na?"
Kulepaskan tangannya dari daguku, kubuang pandanganku ke luar jendela.
"Apa yang bapak harapkan dari janda dengan masalalu seburuk saya?"
"Kita hidup di masa sekarang, berjuang untuk masa depan. Aku tidak akan peduli dengan masa lalumu."
"Bapak mungkin tidak peduli, namun keluarga bapak?"
"Yang menjalani aku, Na. Bagiku kamu sempurna, entah seburuk apapun masalalumu."
"Bapak bisa bilang gitu karena bapak sedang kasmaran, jatuh cinta pada saya. Namun ketika suatu hari cinta itu hilang, yang tampak hanya keburukan saya bahkan bukan tidak mungkin bapak akan mengungkit masa lalu saya."
"Na, saya hanya butuh jawaban, kapan kamu akan membalas perasaan saya?"
"Tidak bisakah kita berteman, Pak?"
"Tidak!"
"Tidak bisakah kita sebatas atasan bawahan seperti yang selama ini kita jalani?"
"Kalau saya bilang tidak, bagaimana?"
"Baiklah, besok saya akan buat surat pengunduran diri."
"Jangan mengancam saya, Na."
"Saya nggak mengancam." lirihku.
"Na, ijinkan aku menghapus semua luka dan trauma yang kamu alami di masalalu yang disebabkan oleh kaumku."
Pak Rio menggenggam erat kedua tanganku.
"Untuk apa Pak? Untuk bapak beri luka dan trauma baru dengan cerita baru?"
"Aku nggak nyangka, kamu yang selalu ceria ternyata sepesimis ini!!"
__ADS_1
"Maaf, pak. Maafkan sikap saya, mungkin saya kelelahan. Tolong antarkan saya pulang."
"Kalau saya boleh menebak, sebenarnya kamu mulai ada rasa pada saya. Benar Na?"
"Saya mau pulang." kuulangi ucapanku dengan lirih.
"Berarti tebakan saya benar. Terima kasih, Na." Pak Rio mencium kedua punggung tanganku bergantian.
"Saya tidak menjawab apapun. Itu kesimpulan bapak sendiri."
"Justru karena kamu tidak menjawab, berarti tebakan saya benar."
"Terserah bapak." aku mendengus kesal.
"Na, tolong jawab satu pertanyaan saya. Kamu juga merasakan hal yang sama dengan yang saya rasakan kan?"
Tangannya masih menggenggam erat tanganku.
"Iya, Pak." jawabku lirih seraya menunduk, menghindari tatapannya.
"Kita jalani ya Na?" tanyanya lagi untuk memastikan.
"Ya, Pak."
Kucoba berikan senyum terbaik untuk pria yang kini berstatus sebagai kekasih sekaligus atasanku.
"Makasih sudah antar saya, Pak. Makasih juga nasi goreng dan martabaknya."
"Jangan terlalu formal, Na. Sudah di luar jam kerja, panggil Mas bagaimana?"
Aku mengangguk mengiyakan.
"Na, itu siapa?"
"Mana Mas?" Aku mengikuti arah mata Mas Rio. Tampak Dewa digendong oleh Mas Adit sementara di sampingnya tampak Mbak Ida membawa kantung plastik berwarna putih.
"Oh itu sahabatku."
"Dua duanya?"
"Iya. Aku masuk dulu, Mas. Sekali lagi terima kasih."
"Sama-sama. Besok pagi kujemput jam enam ya. Kita sarapan dulu bersama Dewa."
"Baiklah jika tidak merepotkan."
***
"Sstt... Na..." Mbak Ida memanggilku lirih dari pintu. "Dewa udah tidur?" sambungnya lagi.
"Sudah. Masuk aja mbak."
"Ikut yuk, ngopi."
"Dimana? Berdua aja? Motorku di kantor."
"Bertiga naik mobil mas Adit."
"Boleh, aku ganti baju dulu."
Mas Adit mengajak kami ke sebuah kedai kopi yang hampir selalu penuh dikunjungi oleh anak muda. Aku yakin pilihannya kali ini berdasar permintaan Mbak Ida.
Seperti biasa, aku dan Mas Adit memesan espresso sementara Mbak Ida memesan Cappuccino.
"Na, kabar si aa gimana?" Mbak Ida membuka obrolan.
"Nggak tau, Mbak. Sering sih kirim pesan ke aku, tapi kucuekin."
"Eh, udah tahu belom siapa yang sering kirim pesan ke kamu sambil marah-marah?" Mas Adit tiba-tiba mengingatkanku tentang pesan dari pengirim tanpa nama.
"Masih Mas. Tapi nggak pernah kurespon. Kubaca saja, tidak. Hahaha."
Mas Adit turut tertawa bersamaku namun tawaku mereda saat melihat sepasang pengunjung yang baru saja masuk. Kutajamkan penglihatanku, takut aku salah lihat.
"Kamu liatin apa sih Na?" Mbak Ida turut melihat arah mataku. "Kamu kenal pasangan itu?"
Aku mengangguk ragu. "Seperti atasanku di kantor, Mbak."
"Itu yang bergelayut manja di lengannya, pacarnya? Lucu ya. Yang cowok kayak cuek gitu, tapi ceweknya pegangin terus."
"Cinta sebelah tangan, kali." Mas Adit menimpali sambil terus mengunyah kentang goreng yang kami pesan sebagai cemilan.
Kuambil ponselku, kuabadikan aksi mesra mereka dalam ponselku lalu kutekan nomor Mas Rio. Tersambung, namun tak juga diangkat. Dari kursiku, kulihat Mas Rio mengambil ponsel dari saku celana, raut mukanya tampak menegang sesaat setelah melihat layar ponselnya namun tak lama dimasukkannya kembali ke dalm saku celana. Kuulangi lagi panggilan itu berkali-kali hingga akhirnya Mas Rio dengan sengaja mematikan ponselnya. Aku tersenyum miris. Terlalu dini, namun sudah ketahuan.
Pukul sebelas kami memutuskan untuk pulang. Mas Rio dan -terduga- kekasihnya masih berada disitu juga. Jadi kemungkinan Mas Rio akan melihat karena mau tidak mau kami harus melewatinya untuk keluar dari cafe ini. Sengaja aku berjalan di samping kanan Mas Adit, sementata Mbak Ida di samping kiri Mas Adit agar Mas Rio dapat melihatku dengan jelas.
Kuhitung dalam hati.
Satu...
Dua...
Tiga...
Yak!! Tepat saat aku berjalan melewati mejanya, Mas Rio melihatku. Kuberikan senyum termanisku sambil terus berjalan.
__ADS_1