Janitra

Janitra
Bab 15


__ADS_3

Tuhan mendengar doaku. Dua minggu dirawat di Rumah Sakit, Eyang Sri diperbolehkan pulang. Selama Eyang di rumah sakit, tak seharipun aku pulang untuk menemui Danang. Komunikasipun juga tidak ada. Danang hanya tampak sekali menjenguk Eyang Sri bersama ibu dan kakaknya.


Siangnya setelah mengantar Eyang sampai rumah, aku berpamitan. Tujuanku adalah kost. Tubuhku terasa sangat lelah, ingin segera membersihkan diri lalu merebahkan diri di kasur sederhana yang disediakan oleh bu kost. Dengan memesan taksi, aku menuju kost berlantai dua tidak jauh dari kantor. Ya, semenjak tidak bekerja di rental komputer, akupun memutuskan untuk pindah kost yang lebih dekat dengan kantor.


Seperti biasa, kostku selalu sepi. Penghuninya yang mayoritas adalah karyawati biasanya sepulang kerja lebih suka menghabiskan waktu di kamar masing-masing. Jauh berbeda dengan kebiasaan penghuni kostku sebelumnya yang lebih memilih menonton acara televisi ruang tengah.


Entah aku tertidur sudah berapa jam, saat aku terbangun suasana sudah gelap. Hanya samar cahaya lampu dari teras depan kamar.


Kuraba-raba dinding kamarku, kunyalakan lampu, kucari gawaiku di tas. Beberapa panggilan tak terjawab dari Danang, Pakdhe Nug, dan Budhe Ratih. Tanpa menghubunginya kembali juga aku paham kenapa mereka meneleponku berkali-kali. Gawaiku kembali berdering. Danang. Kuambil segelas air mineral yang memang selalu kusediakan di kamar sebelum mengangkatnya.


"Ya?"


"Dimana kamu?" Danang bertanya dengan nada emosi.


"Kenapa memang?"


"Jawab saja dimana kamu? Bagus banget nggak ada di rumah Eyang, juga nggak pulang kesini. Istri macam apa kamu? Atau jangan-jangan kamu sedang bersama laki-laki lain??"


"Kesini tu mana maksudmu? Bahkan selama dua minggu kita menikah, kamu sama sekali tidak ada menghubungi aku. Bisa kubalikkan pertanyaan, suami macam apa kamu?"


"Aku nggak menghubungimu karena sibuk kerja."


"Aku tadi tidak menghubungimu juga karena lupa. Lupa kalau aku sudah bersuami."


"Sekarang kamu dimana? Pulang sekarang!"


"Besok aku kesana. Kasih saja alamatnya. Malam ini aku pengen tenang. Tolong pengertiannya. Karena setelah ini sepertinya akan melelahkan hidupku setelah ini, harus bersanding setiap hari di sisa usiaku dengan manusia penuh drama seperti kamu."


Kumatikan sepihak panggilan dari Danang.


Perutku terasa lapar. Ternyata sudah pukul delapan malam. Kuputuskan untuk mencari makan di lesehan terdekat dari kost. Aku memesan bebek goreng, nasi uduk dan es lemontea sebagai minumku.


Dari suapan pertama sampai terakhir, gawaiku tidak berhenti berbunyi, dari pesan teks hingga panggilan, semua masuk berebutan ke gawaiku. Bukan hanya dari Danang, namun juga dari Budhe Ratih, Pakdhe Nug dan juga Papa. Semua bernada sama, menghinaku sebagai istri tidak tahu diri. Entah drama apa yang Danang mainkan. Namun aku tidak peduli. Malam ini aku tetap akan tidur di kostku. Besok sepulang kerja, baru aku akan menemui Danang. Aku bersyukur Danang sudah tidak bekerja di kantor yang sama dan pihak kantor menyetujui aku mengambil cuti dua minggu untukku merawat eyang.

__ADS_1


Selesai makan, aku kembali ke kost, membereskan beberapa pakaianku dan kutaruh di tas besar yang biasa kugunakan jika bepergian ke luar kota. Aku masih menyisakan beberapa pakaian di lemari dengan maksud jika sewaktu-waktu aku harus pergi, kesinilah aku akan pulang. Satu-satunya tempat yang ternyaman menurutku saat ini. Kuhapus bulir airmata yang jatuh tanpa suara. Kukuatkan hatiku, aku tidak boleh tampak lemah di depan laki-laki drama yang saat ini menyandang status sebagai suamiku.


***


Keesokan harinya, sementara semua berjalan sesuai rencana. Aku berangkat kerja membawa sebuah tas besar yang sudah kusiapkan dari semalam. Entah apa yang sudah disampaikan Mbak Hani, tidak ada seorang temanpun yang membahas pernikahanku dengan Danang. Aku bisa bekerja dengan tenang.


Sorenya setelah jam pulang, aku menekan nomor Danang.


"Dimana kamu?" tanyanya langsung tanpa basa-basi.


"Jemput aku di warung makan tempat kita sering makan sama teman-teman."


Lalu kumatikan panggilanku.


Menggunakan jasa ojeg pangkalan yang tidak jauh dari kantor, aku menuju warung makan langgananku. Ternyata Danang juga baru sampai. Entah darimana dia. Melihatku turun dari motor tukang ojeg, dia mendekatiku.


"Jadi ini selingkuhanmu?" tangannya menyasar pada pipi kiriku.


"Mas, jangan kasar sama perempuan!" Tukang ojeg yang kutumpangi membelaku.


"Heh!! Bisa-bisanya kamu bilang aku kabur entah kemana? Kamu kan tahu, Eyang masuk ICU di hari pernikahan kita. Lalu sejak itu aku menunggui Eyang di rumah sakit. Selama itu kamu juga sempat menjenguk kan walau hanya sekali."


"Apakah kamu ijin? Sekarang kamu milikku, bukan milik keluargamu lagi!!"


"Kalau aku bukan milik keluargaku lagi, lantas kenapa kamu laporan ke Pakdhe dan Budhe semalam? Merasa lemah tidak bisa menguasai istri?"


Danang mengangkat tangan bersiap memukulku lagi, namun ditahan oleh tukang ojeg yang masih berada di depan kami. Suasana mulai memanas. Beberapa orang yang lewat, mendekati kami. Sebagian melerai, sebagian besar hanya ingin tahu saja - setidaknya ada bahan ghibah bersama genk gosip di lingkungan masing-masing.


"Saya tidak ada hubungan dengan istri anda. Saya hanya tukang ojeg yang diminta mengantar kesini. Namun atas dasar kemanusiaan, saya harus membelanya dari perbuatan kasar seorang laki-laki yang mengaku suami namun tidak bersikap sebagaimana layaknya suami terhadap istrinya."


"Ini urusan rumah tangga saya, jangan ikut campur. Atau jangan-jangan kamu dibayar pakai tubuhnya, makanya mau membela dia."


"Saya ikut campur karena anda memukul seorang wanita yang anda akui sebagai istri di depan saya. Tidak peduli siapapun, jika ada kekerasan pada wanita, saya akan membela. Kalau tidak ingin ada yang ikut campur, seharusnya anda tahu tempat dan bisa menjaga emosi anda. Anda dulu yang mempermalukan dengan memukul dan menghinanya."

__ADS_1


"Suami mana yang bisa terima istri yang kabur sejak malam pernikahan, lalu bertemu lagi dia sedang diantar laki-laki lain?" Danang mengulang drama dengan mengeraskan volume suaranya agar banyak menuai simpati.


Seperti kaset rusak, kuulangi lagi pernyataanku sama persis seperti di atas.


Lagi-lagi Danang hampir memukulku, namun kali ini aku yang menangkap tangannya, lalu mengunci di belakang tubuhnya.


"Jangan rendahkan dirimu dengan memukul wanita dan satu hal lagi, nggak perlu menjual cerita dusta untuk menuai simpati dari orang-orang yang berada disini."


Kulepaskan tangan Danang. Kurapihkan pakaianku yang tampak berantakan.


"Kita selesaikan saja di rumah. Jangan mempermalukan dirimu sendiri disini. Semakin lama mereka melihat dramamu, semakin jauh dari kata respek, karena mereka akan tahu laki-laki macam apa kamu ini."


Kuambil tas besar yang tadi kuletakkan di motor mas ojeg, tak lupa kuberikan ongkos sesuai kesepakatan tadi.


"Terima kasih banyak, Mas." Kuletakkan tangan kananku menyilang di dada kiri, dengan posisi tubuh sedikit membungkuk. Sementara tangan kiriku memegang tas besar.


"Sama-sama, Mbak." kulihat ada raut kekhawatiran tergurat di wajahnya.


"Saya bisa jaga diri, Mas. Jika dia menyakiti saya lagi, saya tidak akan segan menyeretnya ke kantor polisi." kataku tegas meyakinkan bahwa aku akan baik-baik saja.


Aku menggamit lengan Danang yang masih tampak emosi. Kuajak menjauhi kerumunan yang sudah mulai membubarkan diri.


"Jadi sekarang kita mau kemana?"


"Ikut aku saja."


"Oke. Tapi kita cari makan dulu. Debat kosong melayani drama murahan ciptaanmu, melelahkan juga."


Motor Danang membelah jalanan yang masih padat dengan kendaraan. Seperti permintaanku, kami berhenti di sebuah warung makan yang kami lewati karena sepertinya Danang tidak punya muka untuk makan di tempat tadi lagi.


Kami menyelesaikan makan tanpa ada percakapan sama sekali. Danang sibuk dengan gawainya, sesekali tersenyum bahkan tertawa terbahak. Aku sama sekali tidak tertarik untuk bertanya dengan siapa dia berkirim pesan.


Setelah aku membayar makan malam kami, Danang membawaku ke kosnya yang tak jauh dari tempat kerja Danang yang sekarang. Sebuah ruang kamar tanpa jendela berukuran 2 x 3 meter, tanpa tempat tidur, tanpa lemari atau perkakas apapun. Hanya ada satu kasur lipat tipis yang hanya bisa digunakan untuk satu orang saja.

__ADS_1


Kuhela napas panjang. Disinilah drama panjang hidupku diawali.


__ADS_2