Janitra

Janitra
Bab 13


__ADS_3

Keesokan harinya sesampainya aku di kantor, Silvi dan Lola bergantian memberi selamat.


"Wah diam-diam menghanyutkan... Mau nikah sama Danang ya."


"Eh enggak kok. Gosip dari mana itu?"


"Danang sendiri yang bilang. Katanya udah dapat restu juga dari keluargamu."


"Hanya kesalahpahaman. Dikira keluargaku tuh Danang pacar aku."


"Tapi kok kata Danang gitu ya?"


"Ah udah biarin aja. Danang cuma bercanda paling. Kalian aja yang serius nanggapinnya."


Kutinggalkan Silvi dan Lola yang tampak masih ingin bertanya. Rutinitas pagiku sebelum memulai aktivitas adalah mengisi botol minumku dengan air mineral yang disediakan di pantry.


"Na, nanti makan siang ke ruanganku ya." Mbak Hani yang kebetulan berpapasan, memanggilku.


"Ya mbak."


"Nanti kita makan siang bareng aja. Ada yang mau aku omongin."


Aku mengangguk mengiyakan.


Ternyata berita sudah menyebar kemana-mana. Beberapa kali aku digodai karyawan-karyawan lain. Aku malas menjelaskan, kudiamkan saja. Namun sayangnya hari ini aku tidak bertemu Danang.


Jam makan siang, kuketuk pintu ruangan mbak Hani.


"Yuk langsung aja sekalian cari makan siang."


Sepuluh menit kemudian, mbak Hani memarkirkan mobilnya di halaman sebuah rumah makan padang langganannya.


"Jadi gini Na... Aku tadi denger katanya kamu mau nikah sama Danang. Bener?"


"Engga mbak.."


Lalu kuceritakan semuanya pada Mbak Hani.


"Ya sudah kamu segera temui Danang. Bilang aja suruh abaikan permintaan keluargamu kemarin. Dan, kalau boleh jujur, aku agak nggak suka kalau kamu bener nikah sama Danang. Aku sayang kamu, kuanggap kayak adikku sendiri. Feelingku, Danang nggak sebaik yang ditampakkannya di depan kita."


"Mbak, akupun juga nggak mau menikah sama dia. Entah kenapa keluargaku malah seperti pengen aku menikah dengan dia."


Selesai aku berbicara, dua butir airmata mengalir begitu saja.


"Sini peluk mbak... Ada yang mau kamu ceritakan?"


Aku menangis sesenggukan di pelukan mbak Hani. Rasanya ingin kutumpahkan semua beban yang kurasakan selama ini karena terkadang, yang dibutuhkan hanya pelukan untuk menumpahkan segala keluh kesah dan airmata.


"Aku tahu, dibalik ceriamu sebenarnya kamu menyimpan banyak beban dan airmata yang tertahan. Sekarang hapus dulu ya... Biar ga menimbulkan banyak pertanyaan di kantor."


"Makasih ya mbak. Aku sedikit lega."


"Kapanpun kamu butuh tempat cerita, kamu boleh cari aku."


"Makasih banyak ya Mbak..."


Sorenya aku mencari Danang di ruangannya.

__ADS_1


"Mas, aku mau ngomong bentar."


Danang mengikutiku sampai parkiran motor.


"Cari tempat ngobrol aja lah. Nggak enak bahas urusan pribadi di kantor."


Danang mengarahkan motornya ke sebuah warung makan lesehan.


"Kamu kenapa nyebar berita burung sih?"


"Bukan berita burung. Tapi kan emang benar eyangmu minta aku menikahimu."


"Ya tapi kan aku nggak mau, Mas... Lagian kita juga hanya berteman. Ini hanya kesalahpahaman saja."


"Aku tertarik sama kamu. Kamu saja yang nggak sadar, tapi untungnya keluargamu menyadarinya. Lagipula apa salahnya kita menikah?"


"Pernikahan bukan main-main lho, Mas."


"Aku juga nggak mau main-main, Na..."


Perdebatan sore itu terhenti tatkala gawaiku berbunyi nyaring. Aku mengangkatnya setelah memberi kode tangan pada Danang untuk diam.


"Eyang barusan telpon..." aku memberitahu Danang.


"Sudah sembuh kan?"


"Membaik sepertinya. Tapi eyang minta kita kesana."


"Wah pasti mau bahas rencana pernikahan." jawabnya lagi dengan penuh antusias.


"Mas, please deh. Kita nggak akan menikah."


"Ya karena kesalahpahaman. Mereka kira, kita ada hubungan spesial."


"Biar nggak ada kesalahpahaman, kita spesialkan saja hubungan ini."


Aku menatap kesal Danang. Malas berdebat, kubiarkan saja dia terus mengoceh.


Selesai makan, kami menuju rumah Eyang Sri. Enggan sekali rasanya bertemu dalam kondisi seperti ini.


Tidak seperti biasanya, Eyang tampak begitu bahagia melihat kami datang.


"Ayo masuk. Langsung makan saja dulu. Eyang sudah masak untuk kalian."


Aku mengernyitkan dahi mendengar ajakan Eyang. Baru saja aku mau menjawab, tapi Danang mendahului.


"Wah pasti enak masakan Eyang. Kebetulan belum makan pulang kerja."


Aku melotot ke arah Danang mendengar jawabannya. Lagi-lagi belum sempat aku berkomentar, Danang membisikiku.


"Biar Eyang senang. Nggak usah banyak protes."


Setelah makan (lagi) Eyang mengajakku dan Danang mengobrol di ruang keluarga. Sudah tersedia pisang goreng dan teh jahe hangat buatan Siti. Lagi-lagi aku mengernyitkan dahi melihatnya.


"Gimana kerjaan kalian?"


"Baik, Eyang. Lancar. Ya tadi memang ada sedikit masalah, tapi sudah bisa teratasi..... Blablabla..."

__ADS_1


Danang terus saja berceloteh dan aku dibuat kagum oleh jawaban-jawabannya yang semua itu kutahu hanyalah bualan. Ternyata selama ini aku belum benar-benar mengenal Danang. Disini aku tau bagaimana sifat aslinya Danang. Pintar cari muka. Dari sinilah aku semakin tidak respek.


Selama Danang sibuk membangun benteng dusta, selama itupula aku mati-matian menahan tanganku untuk tidak mampir ke mulutnya. Huft.


Jarum jam di dinding sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Kulirik Danang dan Eyang masih ngobrol dengan asyiknya.


"Eyang, aku pamit pulang ya.."


"Lho nggak nginep saja? Biasanya juga kamu nginep kan?"


"Enggak Eyang, besok saja kalau pas libur."


"Atau kalau kamu mau nginep nggak papa sayang, besok pagi biar kujemput." Danang menyahut jawabanku.


"Enggak, nggak bawa baju ganti. Nggak nyaman."


Segera aku berdiri, berpamitan pada Eyang dan berjalan ke depan.


***


Seminggu berlalu setelah pertemuanku bertiga dengan Eyang dan Danang. Aku semakin menjaga jarak dengan Danang walau berkali-kali dia berusaha memberi perhatian.


Aku sedang bersiap pulang, gawaiku tiba-tiba berbunyi. Nama Siti tertera disana.


"Ada apa Ti?"


"Mbak, eyang anfal sekarang di ICU."


"Aku bentar lagi kesana, Ti."


Baru saja aku memasukkan gawai ke tas, Danang menerobos masuk.


"Ayo kita ke rumah sakit, Eyang masuk ICU. Barusan pakdhe Nug telepon aku."


Sebelum aku sempat bertanya lagi, Danang menarik tanganku.


Sampai di ruang tunggu ICU, kulihat semua keluarga sudah berkumpul. Budhe Ratih mendekatiku.


"Na, sepertinya pernikahan kalian harus segera dilaksanakan."


"Tapi aku sama Danang hanya berteman."


"Kamu jangan egois. Eyang cuma pengen lihat kamu menikah dan mungkin ini permintaan terakhirnya."


"Baik, Budhe. Saya akan segera mengabari keluarga saya."


Aku menyingkir menjauh dari mereka, mendekati Siti. Bagiku, Siti bukan hanya sekedar pembantunya Eyang tapi sudah seperti saudaraku.


"Sabar ya Mbak..." Siti memelukku, seolah tahu isi hatiku saat ini.


Kutumpahkan airmataku di pelukan Siti. Kenapa justru keluargaku sendiri tidak bisa mengerti.


***


Hari dan tanggal pernikahan sudah ditentukan. Papa yang juga sudah diberitahu oleh Budhe Ratih menyetujui saja tanpa banyak bertanya. Aku semakin kecewa dengan keluargaku. Semakin dekat dengan tanggal pernikahan, semakin aku sering melamun dan menangis sampai ketiduran. Berharap esok aku tidak membuka mata lagi.


Di kantor aku menjadi sosok yang pendiam. Beberapa teman yang memang dekat denganku merasakan perubahan terutama mbak Hani. Sebisa mungkin dia selalu mendekatiku, meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja. Namun entah, perasaanku mengatakan bahwa pernikahanku dengan Danang justru akan membawaku ke dalam masalah lain.

__ADS_1


Jika calon pengantin lain akan sibuk dengan persiapan pernikahannya, aku justru lebih sering menyendiri di kedai kopi. Menghabiskan sore, menikmati senja ditemani secangkir kopi hitam tanpa gula sendirian. Ada banyak cerita yang ingin kuungkapkan. Namun entah pada siapa aku harus berkisah. Sempat terpikir untuk pergi jauh, namun aku masih memikirkan kondisi kesehatan Eyang. Jika sampai itu kulakukan dan Eyang semakin memburuk, dosaku pasti tak akan terampuni. Keluarga besar juga pasti tidak akan memaafkanku.


__ADS_2