Janitra

Janitra
Bab 7


__ADS_3

Masih pukul 11, namun kepala rasanya sangat berat, mata berair, hidung tidak berhenti bersin. Kupaksakan untuk segera menyelesaikan orderan ketikan yang sudah masuk walau mataku sangat perih saat harus menatap layar komputer.


Mbak Wina masuk ke kiosku membawakan segelas teh jahe hangat.


"Diminum dulu, Na..."


"Makasih ya, Mbak. Maaf malah ngerepotin."


"Enggak. Mau makan apa? Kubelikan ya?"


"Bang Rico mau antar makan siang, Mbak... Aku tunggu saja."


"Badanmu hangat lho. Ijin pulang saja ya? Mbak Bos Ika barusan telepon katanya mau kesini antar stok kertas dan lain-lain. Nanti kubilang sekalian ya kalau kamu sakit."


"Siapa sakit?" tiba-tiba kami dikejutkan oleh suara Bang Rico yang tiba-tiba masuk kios.


"Abang sudah datang?"


"Siapa sakit? Kebiasaan kalau ditanya, balik bertanya."


"Aku agak nggak enak badan, Bang. Tapi nggak apa-apa kok."


Bang Rico memegang keningku.


"Demam. Makan dulu, ini kubawakan nasi ayam. Sebentar kubelikan obat. Ohya, Mbak Wina, ini disini tidak ada yang bisa menggantikan Nala ya? Biar dia bisa istirahat satu atau dua hari ini."


"Ini mbak bos kebetulan hari ini mau datang antar stok kertas dan lain-lain. Mungkin nanti bisa ijin karena yang bisa gantikan Nala ya hanya Mbak Ika, Bang."


Bang Rico mengangguk-angguk sambil tangannya membuka bungkus makanan.


"Buka mulutmu, aku suapi saja."


Enggan berdebat, kuturuti saja.


"Nah pintar sudah habis. Hahaha. Aku beli obat dulu sebentar."


Sesaat setelah Bang Rico pergi membeli obat, Mbak Ika datang mengantarkan kertas dan beberapa kebutuhan kios. Sepertinya mbak Wina sudah menjelaskan kondisiku.


"Nala sakit ya? Pulang saja dulu. Masih banyak ketikannya? Nanti biar saya yang kerjakan."


"Tinggal beberapa lembar saja mbak. Nanti katanya diambil jam 7 malam. Boleh ijin pulang, Mbak?"


"Boleh dong. Ya sudah biar diantar Wina ya?"


"Sebentar lagi Bang Rico datang, Mbak. Biar aku diantar dia saja."


Bang Rico mengantarkanku ke kost yang sebenarnya sangat dekat dengan kios.


"Nanti sore abang antar ke dokter ya?"


"Nggak usah, sepertinya cuma masuk angin saja karena semalam kan kena AC langsung."


"Ya sudah, minum obatnya lalu istirahat. Nanti malam abang kesini antar makanan. Kalau belum membaik, adek harus periksa."


Dddrrrtt...


Gawaiku bergetar tanda panggilan masuk.


"Sebentar, Bang. Aku angkat telepon."


"A'a?"


"Bukan. Ini Siti."


Sengaja ku speaker agar Bang Rico tidak berpikiran macam-macam.


"Ya, ada apa Siti?"


"Mbak, nanti kalau mau kesini tolong mampir rumah Eyang ya? Ambilkan beberapa baju dan tolong cucikan baju-baju kotor eyang yang tadi sudah terlanjur direndam oleh Pak Nugroho tapi lupa dicuci. Kunci rumah ada di bawah pot warna merah."

__ADS_1


"Oh ya."


Seperti biasa aku selalu sulit menolak permintaan.


"Kamu lagi sakit lho..." ucap Bang Rico setelah kumatikan panggilan dari Siti.


"Iya, tapi Eyang butuh pakaian. Aku kesana sekarang saja, Bang. Nanti sambil mencuci kan aku bisa tidur."


"Ya sudah, abang antar. Nanti malam abang jemput lagi sekalian makan malam. Siang ini abang tidak bisa membantumu mencuci baju, karena ada meeting sejam lagi."


"Aku ke rumah eyang sendiri nggak apa-apa, Bang. Takut abang terlambat."


"Sendiri atau minta diantar dia?"


"Mulai lagi. Ya sudah ayo berangkat ke rumah Eyang. Sampai kapan abang selalu sangkut pautkan semua dengan dia? Aku sudah tidak ada komunikasi lagi dengan dia. Ini tadi dia beberapa kali menelepon tapi tidak kuangkat."


"Sampai aku benar-benar yakin, hanya ada aku di hati kamu."


"Ya emang cuma ada abang. Harus gimana lagi biar abang percaya?"


"Biar waktu yang buktikan. Ya sudah ayo berangkat."


Sesampai di rumah Eyang, Bang Rico hanya memastikan bahwa kunci rumah sudah kutemukan lalu segera pergi ke lokasi meeting karena sudah hampir terlambat.


Aku membuka gawaiku, mengetikkan pesan singkat ke Siti. Memberi kabar bahwa aku sudah di rumah Eyang, baru akan mulai mencuci dan mencari beberapa pakaian yang dibutuhkan.


Ada beberapa pesan masuk dari a' Ardan yang berisi permintaan maaf dan ingin bertemu, namun hanya kubaca saja tanpa kubalas pesannya.


Ada desiran di dadaku. Tidak dapat kupungkiri, bagaimanapun aku dan a' Ardan pernah bersama dalam rentang waktu yang cukup lama. Namun aku juga tidak boleh terhanyut lagi, karena kini ada Bang Rico yang harus kujaga perasaannya.


Kuhalau perasaanku, kusimpan gawaiku di atas meja depan televisi. Aku menuju ruang cuci yang bersebelahan dengan dapur, kumasukkan pakaian eyang yang sudah direndam pakdhe Nugroho ke dalam mesin cuci. Selesai menyapu, mengepel dan memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas, kurebahkan tubuhku di kamar yang biasa kutempati. Tubuhku terasa semakin demam. Aku mencoba memejamkan mata, sambil menunggu mesin cuci berhenti beroperasi.


Entah sudah berapa jam aku tertidur, saat terbangun suasana rumah eyang sudah gelap. Ternyata sudah pukul enam sore. Dengan meraba-raba, aku menyalakan lampu kamar, dan beberapa ruangan lainnya. Saat kunyalakan lampu teras, kulihat ada sesosok bayangan yang tidak asing sedang duduk di kursi tanah liat di teras. Seperti sadar sedang kuawasi, sosok itu berdiri lalu menekan bel rumah. Aku bingung, kubuka atau tidak. Jika tidak kubuka, pasti dia akan terus menekan bel yang bersuara sangat nyaring bahkan terdengar sampai ke tetangga sebelah. Setelah menimbang beberapa saat, aku memutuskan untuk membuka pintu rumah eyang.


Klek...


"Dek... Akhirnya a'a bisa nemuin adek. Kenapa nggak dibalas sms a'a?"


"Silahkan duduk..." ucapku datar.


"Kamu masih ngambek? A'a bisa jelasin, kemana a'a selama ini. Dengerin a'a dulu ya, Dek. Jadi...."


"Sudah, tidak ada lagi yang perlu dibicarakan tentang kita. Kupastikan kita sudah selesai dan tidak akan pernah mengulang kisah yang sama lagi." kuputus ucapan a' Ardan sebelum dia berbicara lebih banyak.


"Kamu berubah karena sudah ada yang lain atau karena masih marah, Dek?"


Kubuang tatapanku ke arah lain. Aku sengaja tidak mau menatap a' Ardan karena takut luluh lagi. Kutahan mati-matian airmataku yang hampir luruh.


"Maaf... Maafin a'a. Kasih aku kesempatan sekali lagi. Aku nggak akan tinggalin kamu."


Plok..plok..plok...


Suara tepuk tangan memecah suasana. Melihat siapa yang datang, aku segera berdiri menghampiri.


"Pantas saja aku telepon berkali-kali tidak diangkat, ternyata sedang asyik dengan pria lain."


"Duduk dulu, Bang. Aku bisa jelasin."


Bang Rico mengambil posisi di depan a' Ardan. Jika bisa, mungkin saat ini aku memilih menghilang di telan bumi daripada harus berhadapan langsung dengan dua laki-laki ini.


"Masih sakit, sayang? Maaf, abang tadi agak terlambat selesai meetingnya. Yuk bersiap lalu kita periksa dan cari makan malam."


"Dia siapa dek?" tanya a' Ardan. Namun belum sempat kujawab, Bang Rico sudah menjawab.


"Kenalkan, aku Rico. Calon suami Nala."


Bukannya menyambut uluran tangan Bang Rico, a' Ardan justru mengepalkan tangannya lalu pergi tanpa sepatah katapun. Hampir saja aku spontan ingin mengejarnya, untung kesadaranku segera pulih bahwa ada hati Bang Rico yang kini harus kujaga.


"Bang, maaf.. tadi aku ketiduran. Gawaiku sepertinya tadi kutaruh di depan televisi. Aku terbangun sudah jam enam sore. Saat menyalakan lampu, ternyata dia sudah duduk disini. Dia menekan bel rumah berkali-kali. Aku takut mengganggu tetangga, jadi kubukakan pintu. Aku nggak ngapa-ngapain, Bang."

__ADS_1


"Kenapa tidak menghubungiku dulu sebelum buka pintu atau saat dia disini. Setidaknya memberi tahu bahwa ada dia. Kecuali memang niatmu menyembunyikan pertemuan ini dari aku."


"Maafin aku, Bang. Kesadaranku tadi belum terkumpul sepenuhnya. Pengaruh obat juga aku masih agak lemas."


"Bersiap, kita berangkat sekarang."


Aku masuk, menjemur pakaian eyang yang tadi kucuci, mengambil tas berisi pakaian yang sudah kusiapkan sebelum aku tidur tadi dan kuambil gawaiku di atas meja depan televisi.


Benar saja banyak panggilan tak terjawab dan pesan masuk dari Bang Rico, Siti, Budhe Ratih, dan juga a' Ardan.


"Bang, kita langsung ke rumah sakit saja ya? Ini Budhe Ratih dan Siti ternyata daritadi menghubungiku."


"Kamu nggak periksa? Kita makan malam dulu ya?"


"Bungkus saja ya Bang? Periksanya besok pagi saja kalau malam ini tidak membaik."


"Ya sudah. Bungkus makanan, lalu kita ke rumah sakit. Nanti obatnya jangan lupa diminum setelah makan ya."


Kami mampir ke pecel lele langganan sebelum menuju ke rumah sakit. Beberapa kali Siti menelepon memintaku segera kesana namun tidak menjelaskan ada hal apa yang membuatku harus segera sampai sana.


Baru saja sampai parkiran, kulihat Siti berlari-lari menghampiri kami.


"Mbak, ayo cepet masuk."


"Bang, aku masuknya sama Siti saja ya. Nanti ku sms ya Bang."


"Ya sudah. Hati-hati ya kalian. Abang mau ketemu orang lagi. Doakan saja semoga mendapat hasil yang terbaik ya, Dek."


Kusejajari langkah Siti yang sangat cepat.


"Ada apa sih?"


"Ya gara-gara mbak Nala tadi tidak bisa dihubungi jadi kacau semuanya."


"Kacau? Aku tidur setelah mencuci dan membersihkan rumah. Badanku nggak enak, Siti. Gawai kuletakkan di meja depan televisi sementara aku tidur di kamar belakang yang biasa kutempati. Aku terbangun tuh sudah gelap."


"Tidur sama Bang Rico?"


"Hush ngawur. Aku tidur sendiri. Bang Rico tadi siang cuma antar terus ditinggal karena ada meeting. Selesai meeting, dia jemput dan antar kesini."


"Mbak jelasin sendiri saja deh ya."


Klek..


Knop pintu kuputar, tampak Budhe Ratih beserta anak menantunya sedang duduk di ruang tamu di dalam ruang rawat inap eyang. Aku menyerahkan tas berisi pakaian pada Siti lalu menyalami satu persatu, namun Budhe Ratih tidak menerima uluran tanganku.


"Maaf, aku tadi ketiduran. Badanku sedang tidak enak."


"Kamu tahu tidak, Eyang sakit itu karena memikirkanmu! Dua bulan kamu tinggal di rumah eyang, dan kalau pergi dengan pacarmu pasti sampai malam!! Sebelum eyang masuk rumah sakit, kamu baru pulang jam sebelas malam diantar pacarmu. Kamu nggak mikir, apa kata tetangga?"


"Budhe salah, budhe. Aku sudah dua bulan tidak ke rumah eyang, kemarin aku kesana karena siangnya eyang meneleponku dan memintaku untuk kesana. Aku baru bisa sampai sama jam sebelas karena kios tutup jam sembilan lebih. Aku mandi dan makan dulu baru ke rumah eyang. Diantar Bang Rico karena aku tidak ada kendaraan dan bis kota kan hanya beroperasi sampai jam empat sore saja."


"Sudah pintar menjawab kamu ya? Lalu ini tadi seharian kamu pakai rumah eyang untuk tidur sama pacar kamu? Sampai tidak bisa kuhubungi."


"Aku tadi selesai nyuci, bersihkan rumah, lalu aku ketiduran. Gawai kuletakkan di meja depan televisi sementara aku tidur di kamar belakang. Badanku nggak enak, Budhe."


"Selalu saja pintar menjawab."


"Bukan pintar menjawab, tapi aku menjelaskan kondisiku biar tidak ada salah sangka."


Ddrrtt...suara gawai Budhe Ratih menghentikan pembicaraan.


"Gimana? Coba tolong dicek ada barang atau uang eyang yang hilang tidak? Nanti telepon aku lagi."


"Budhe menuduhku mengambil barang dan uang eyang?"


"Siapa tahu kamu mengambil kesempatan saat rumah kosong."


Airmataku luruh tak terbendung lagi. Rasa sakit kurasakan sangat menusuk di dadaku. Seberat apapun hidupku, sama sekali aku tidak ada pikiran untuk mengambil barang milik eyang. Tanpa berpamitan, setengah berlari aku keluar ruangan eyang. Aku menangis di sepanjang lorong rumah sakit.

__ADS_1


Satu nama yang kupanggil dalam hati,"Mama....aku rindu..."


__ADS_2