
Seminggu sudah aku kembali menjalani status sebagai kekasih a'Ardan. Jika sebelumnya sikap a'Ardan sudah posesif, maka setelah hubungan kami diperjelas, kadar posesifnya naik drastis. Walaupun jarak memisahkan, pengawasannya cukup ketat. Kalau dulu aku akan menolak dengan keras, bahkan cenderung memberontak, kali ini sengaja kubiarkan saja kuikuti alurnya.
Gawaiku berdering tepat di jam makan siang. Tanpa melihat, aku sudah bisa menebak siapa yang menghubungiku.
"Ya a'..."
"Nadanya kok gitu? Nggak suka ya a'a telpon?"
"Bukan gitu a', lagi lemes aja, laper nih. Adek makan dulu, boleh?"
"A'a cuma mau ngabarin kalau akhir minggu ini nggak bisa kesana. Mungkin minggu depan baru bisa kesana."
"Iya a', nggak apa-apa."
"Adek mau kesini aja?"
"Adek di jogja saja boleh a'?"
Kudengar a'Ardan menghela nafas berat.
"Ya sudah... Jumat sore adek pulang ke rumah saja, jangan di kontrakan."
"Tapi a'..."
"Nanti a'a hubungi lagi. Ohya, besok sampai rumah, langsung minta tolong bu Kamti untuk bersihkan rumah ya dek? Jangan adek bersihkan sendiri. Hitung-hitung berbagi rejeki juga."
"Baik, a'. Ya sudah, adek makan dulu ya. A'a jangan terlambat makan." ucapku lirih. Rusak semua rencanaku untuk membersihkan kontrakan secara menyeluruh saat libur besok. Untuk saat ini, aku tak mau sering membantah karena aku sudah cukup lelah dengan masalah yang hadir dalam hidupku.
***
Hari Sabtu tiba, sedari pagi aku sudah sibuk membereskan rumah. Rencanaku agak siang baru aku ke rumah a'Ardan, jadi pagi ini aku akan segera mencuci baju-baju kotor yang menumpuk, mengganti seprei dan juga gordyn. Setelah memeras dan menatanya dalam ember, gegas kubawa ke halaman depan untuk kujemur. Baru saja hendak mengangkat, lamat kudengar suara orang berbicara di ruang tamu. Tanpa sempat mengeringkan tangan, aku segera berjalan menuju ruang tamu. Tampak a'Ardan dan Mas Rio sedang bersitegang.
"Kalian kenapa lagi sih?"
"Dia datang-datang langsung marah, dek." Mas Rio menjawab pertanyaanku.
"A'a kapan sampai Jogja? Kemarin katanya nggak bisa kesini." tanyaku lirih pada a'Ardan.
"Kaget aku mendadak kesini? Awalnya memang nggak bisa, tapi ternyata ada perubahan. Rencananya aku akan bikin kejutan, ternyata malah aku yang terkejut."
"Bukan gitu a'. Adek seneng banget a'a bisa pulang." kuraih tangan a'Ardan dan kugenggam dengan erat.
"Ponselmu kemana? Sedari pagi a'a hubungi tidak bisa."
"Di kamar, adek dari pagi bersih-bersih belum cek ponsel. Sebentar adek ambilkan ya. Atau a'a yang mau ambil sendiri di kamar?" kuelus lembut tangan a'Ardan agar emosinya mereda.
"Ganti baju dek, kita pulang ke rumah sekarang. Adek tadi nyuci? Bawa saja, nanti dikeringkan di mesin cuci."
"Ya a'. Ohya Mas Rio ada apa kesini?"
"Hanya ingin memastikan, adek baik-baik saja."
"Tenang saja, Nala akan selalu baik-baik saja. Nggak perlu repot-repot kesini lagi." a'Ardan merengkuhku dalam pelukannya menggunakan satu tangan.
"Mas pulang dulu, dek. Kalau butuh sesuatu, adek bisa hubungi Mas."
"Ya, Mas. Makasih sebelumnya."
Kulepaskan diri dari pelukan a'a dan berdiri untuk mengantarkan Mas Rio, di bawah tatapan elang a'Ardan tentunya.
"Ngapain diantar segala?" tanya a'Ardan setelah Mas Rio pergi bersama motornya.
"Gimanapun, dia tamu kan?" jawabku datar.
"Ya sudah sana mandi. Mana ponselmu?"
"Ambil sendiri di kamar. Tolong sekalian jendela kamar ditutup ya a'. Makasih. Aku mau mandi dulu."
***
Kubuka pintu rumah a'Ardan dengan kunci yang selalu berada di tasku. Segera kuambil sapu dan membersihkan seluruh ruangan, sementara a'Ardan mengeringkan baju yang tadi kucuci di kontrakan. Tidak ada percakapan sama sekali setelah aku selesai mandi tadi. Sepertinya masih tentang kedatangan Mas Rio ke kontrakan pagi tadi.
"A'a, mau makan apa?"
Lagi-lagi hanya tatapan dingin yang menjawab pertanyaanku.
Kuambil dua bungkus mie instant, sawi, cabe, dan telur lalu segera memasaknya.
"Di dapur cuma ada ini, sarapan dulu yuk sayang." kudekati a'Ardan yang masih duduk terdiam di sofa ruang tengah.
"Selain untukku, pernah masak untuk siapa saja?"
Kuletakkan mangkuk berisi mie rebus yang masih mengepulkan uap panas di atas meja.
"A'a kenapa lagi tho? Apa nggak bisa kita jalanin hubungan tanpa membahas hubunganku sebelum-sebelumnya?"
"Jawab saja pertanyaanku."
__ADS_1
"Danang." jawabku singkat.
"Selain itu."
"Bang Rico dan...a'Bayu." jawabku lirih.
"Selesaikan makanmu, lalu ke pasar. Belanja dan masakkan untukku menu yang tidak pernah adek masakkan untuk mereka."
"Mereka atau a'Bayu?"
"Masih butuh jawaban?"
"Apa salah a'Bayu ke a'a? Dia sudah meninggal lama. Adek mohon, kalau ada kesalahannya, maafkan dia a'. Lupakan kesalahannya. Kita jalani ini tanpa ada kaitannya dengan a'Bayu."
"Secinta itu kamu ke dia sampai mau memintakan maaf untuknya?"
"Bukan gitu, a'. Tapi adek capek, a'a selalu bahas masa lalu adek dengan a'Bayu."
"Nala... Uuhh mama kangeeenn..."
Sebuah suara menghentikan perdebatan kami.
"Mama, kok mendadak?" a'Ardan menghampiri Mama Euis dan mengambil alih tas yang dipegang Mama.
"Nala tinggal disini lagi kan? Kalian balikan? Namanya jodoh ya gini, tetep aja bakal balik."
"Iya Ma, balik sama a'a lagi." jawabku malu.
"Mama seneng banget. Eh mana cucu Mama?"
"Nanti a'a jemput."
"Mama mau minum apa? Nala bikinin."
"Eh nggak usah, biar a'a aja yang bikinin. Kita duduk santai aja. Ini mienya siapa? Kebetulan Mama belum makan."
"Sudah agak dingin, Ma. Nala buatkan yang baru ya?"
"Udah, ini aja. Ayo makan berdua sama Mama. Nanti kita masak bareng ya. Mama kangen masakanmu deh. Inget dulu a'Bayu sering muji masakan Nala."
Mendengar itu, a'Ardan langsung menyambar kunci motor yang tergeletak di meja.
"A'a belikan minum dulu Ma. Es kelapa muda ya, biar adem."
Selesai berkata, a'Ardan keluar rumah tanpa berpamitan. Kukejar langkahnya sampai ke halaman.
"Apa pedulimu?!"
"A'a kenapa jadi gini sih? Cemburunya a'a nggak beralasan!!"
Kucabut kunci motor yang sudah terpasang.
"Bawa sini kuncinya!"
"Enggak. Adek nggak akan biarin a'a pergi dalam keadaan emosi. Mama kubikinin teh saja."
Dengan terpaksa, a'Ardan mengikutiku masuk kembali ke dalam rumah.
"Mama minum teh aja ya? Penjualnya tutup."
"Iya nggak apa-apa. Eh a'a sini duduk, mama pengen ngobrol."
***
"Ngelamunin siapa?"
Suara a'Ardan membuatku terkejut.
"Nggak ada, suka aja lihat hujan. Kukira a'a sudah tidur. Mama udah tidur a'?"
"Mama udah tidur daritadi."
"A'a mau kubuatin minum hangat? Atau masih lapar?"
"Engga dek. Pengen meluk adek aja."
A'Ardan melingkarkan lengannya yang kokoh ke pinggangku dari belakang.
"Dingin?" tanyanya lirih.
"Sekarang engga, kan a'a peluk."
"Dek..."
"Hmm..."
"Mama di Jogja beberapa hari. Adek pulang kerja langsung kesini aja ya?"
__ADS_1
"Ya a'... Emang rencana berapa hari?"
"Dua minggu mungkin. Senin pagi a'a berangkat lagi. Jumat sore a'a pulang."
"Nggak capek a'?"
"Nggak suka a'a sering kesini ya?"
"Terserah a'a, adek cuma mikir kondisi a'a aja. Jangan mikir aneh-aneh."
"Adek sayang a'a?"
"A'a tuh kenapa selalu gini?"
"Nggak apa-apa. Yuk tidur aja."
"A'a mau tidur dimana? Biar adek siapin."
"Di atas adek..." bisiknya parau.
"A'..."
"Disini maksud a'a."
"Ada Mama, nggak enak."
"Mama juga pasti udah tahu. Ya sudah kalau adek nggak mau a'a disini, a'a tidur sofa aja. Biar adek bebas lamunin siapapun."
"Tidurlah disini a'. Adek mau ambil air putih dulu. A'a mau kuambilkan sekalian?"
"Terserah adek."
"Belom tidur Na?"
"Eh Ma, kukira Mama sudah tidur."
"Sudah kok. Tapi ini kebangun, haus. Bikin susu?"
"Iya, untuk a'a. Mama mau kubikinin sekalian?"
"A'a kenapa?"
"Nggak kenapa-napa sih Ma, biar bisa tidur nyenyak aja."
"Ya sudah sana, kasih ke a'a. Mama mau lanjut tidur."
"Ya, Ma..."
"Mmh, Na, Mama boleh nanya?" belum melangkah terlalu jauh, Mama kembali menghampiriku.
"Boleh, Ma. Apa?"
"Nala sayang a'Ardan?"
"Kalau nggak sayang, Nala nggak akan disini Ma."
"Bukan karena..." Mama menggantung ucapannya.
"Karena a'Bayu?" aku tersenyum sebelum melanjutkan jawabanku,"Nala sayang sama a'Ardan bukan karena a'Bayu. Saat ini Nala masih berusaha meyakinkan a'a untuk bisa percaya ke Nala, Ma."
"Mama percaya. Kamu yang sabar ya. Ardan emang keras, tapi sebenarnya dia baik."
"Iya Ma. Makasih Mama percaya Nala. Nala, kasih susu ke a'a dulu ya Ma."
Mama mengangguk dan mengelus rambutku.
"Ambil minum kok lama."
"Ngobrol sebentar sama Mama. Adek bikinin susu hangat, a'a minum ya, habis itu tidur."
A'Ardan mengambil gelas berisi susu cokelat hangat dari tanganku lalu segera menghabiskannya.
"Makasih."
Kuambil kembali gelas bekas susu dari tangannya dan kuletakkan di nakas.
"Sama-sama. A'a istirahat ya, pasti capek kan?"
"Sini dek... Pengen tidur sambil meluk adek." a'Ardan menggeser tubuhnya, memberi tempat untukku berbaring di sampingnya.
Kudekati dengan ragu.
"Kenapa? Cuma pengen peluk, toh kita pernah lebih dari sekedar pelukan kan?"
"Iya, adek tidur di sebelah a'a."
Kurebahkan tubuh di samping a'Ardan. Sebuah kecupan hangat mendarat di bibirku, kubalas dengan lembut. Deru nafasnya terdengar semakin tak beraturan.
__ADS_1
Hujan terdengar semakin deras, seolah menjadi alunan pengantar tidur.