Janitra

Janitra
Bab 63


__ADS_3

"Dek, ternyata kamu disini sama dia."


Sebuah suara yang sangat kukenal terdengar sangat jelas.


"Aa kok disini?"


"Iya, diajak teman, malah kebetulan ketemu kamu, ya? Dewa mana?"


"Katanya cinta tapi kok nggak tahu Dewa disembunyikan dimana."


Belum sempat kujawab, Mas Rio sudah mendahului menjawab.


"Wah sudah jadi juru bicaranya Nala? Maaf saya nggak ada urusan dengan anda."


"Jelas jadi urusan saya karena Nala sebentar lagi akan menikah dengan saya."


"Ohya? Kita lihat saja nanti."


"Sebenarnya ada apa sampai anda terus mengejar Nala?"


"Bukan urusan anda."


"Karena Dewa? "


"Ya, karena Dewa adalah anak saya."


"A'a!!!! Udah cukup!!!"


"Kalau Dewa anak anda, seharusnya anda melarang saat Nala menitipkannya di Panti Asuhan!!!"


"Mas Rio!! Cukup!!!"


Kusambar tasku, lalu berlari keluar tanpa mempedulikan mereka yang masih bersitegang. Mas Rio mengejarku sampai ke tempat parkir.


"Dek, maaf. Aku hanya ingin mendapat jawaban tentang Dewa."


"Siapapun ayahnya Dewa, itu bukan urusan Mas. Tolong pergi dari hidupku. Aku capek."


"Maaf dek."


Untung letak kedai kopi tak jauh dari pangkalan ojek. Segera kulambaikan tangan untuk memanggilnya.


"Mas, tolong antar saya, nanti saya beritau jalannya."


"Baik mbak."


Kuterima helm dari tangan pengemudi ojek dan segera kunaiki motornya. Kutinggalkan dua pria egois tanpa berpamitan.


Bukan a'Ardan jika tidak dapat menemukan tempat tinggalku. Jam masih menunjukkan pukul enam saat seseorang mengetuk pintu kontrakan. Tergesa kubukakan pintu.


"Huft... Ada apa lagi sih a?"

__ADS_1


"Jawab!! Dimana Dewa?"


"Apa urusan a'a?"


"Baik. Kamu yang maksa a'a untuk mencari tahu sendiri."


"Terserah!!"


"Keras kepala."


"Siapa? Kamu? Sudahlah a' kita udah selesai."


"Iya hubungan kita memang sudah selesai tapi perasaan nggak pernah bisa bohong kan?"


"Pulang sana a', aku mau siap-siap lalu berangkat kerja."


"Aku tunggu disini. Nanti kuantar."


"Nggak perlu, aku bisa sendiri."


"Aku tau kamu bisa melakukannya sendiri, tapi aku mau mengantarmu biar nggak terbiasa apa-apa selalu sendiri."


Dengan terpaksa kubiarkan a'Ardan masuk dan duduk di ruang tamu sementara aku bersiap diri.


"A' kalau capek pulang aja, aku berangkat sendiri." ucapku saat melihatnya tidur di kursi ruang tamu.


"Hmm.. sudah siap? Ayo berangkat." jawabnya sambil mengucek mata yang tampak masih mengantuk.


"Kenapa cemberut terus? Seharusnya a'a yang marah kok malah kamu."


"A'a marah kenapa?"


"Pikir saja sendiri." Sahutnya seraya menginjak pedal gas.


Mobil bergerak menjauhi kontrakan mungilku, menuju arah penjual bubur ayam langganan a'a jika sedang berada di kota ini.


Dua mangkuk bubur lengkap dengan topping, setoples kecil kerupuk, kecap, sambel terhidang di hadapan kami. Dengan enggan kudekatkan mangkuk bubur milikku, kuaduk perlahan lalu memakannya sedikit.


"Kenapa lagi?" tanya aa yang sedaritadi ternyata memperhatikanku.


"Belum pengen makan sebenarnya," lirihku.


"Belum pengen makan atau kangen Dewa?"


Aku mendengus kesal karena dia masih saja bisa menebak dengan tepat yang kurasakan. Segera kuambil kecap dan sambal, lalu menuangkannya sesuai seleraku dan mengaduknya perlahan. Kuambil segenggam kerupuk, kuremas lalu kucampurkan pada bu bur dan kuaduk lagi agar tercampur semua.


"Nggak usah emosi gitu. Besok kita jenguk Dewa."


"Dewa anakku, nggak usah ikut campur."


"Anakmu? Hmm..."

__ADS_1


Kusuapkan banyak-banyak bubur ke dalam mulutku agar sesi sarapan bersama ini segera selesai dan aku segera diantarkannya ke kantor.


**


"Sore nanti kujemput. Jangan pulang sendiri." katanya sebelum aku turun mobil.


"Aku pulang sama temanku, a. Lagipula kamu disini pasti ada urusan kan, selesaikan saja dulu, aku bisa lakukan aktivitasku sendiri."


"Aku lagi nggak mau dibantah."


"Sekedar mengingatkan, kita sudah tidak ada hubungan apa-apa." ucapku kesal dan gegas turun dari mobil.


Kumasuki kantor dengan langkah cepat, meninggalkan semua masalah pribadi dan bersiap menghadapi pekerjaan dengan profesional.


***


Kupijat lembut pelipis yang terasa tegang karena sedari tadi menatap layar komputer. Jam sudah menunjukkan angka 4 lebih. Seharusnya aku sudah pulang, namun hari ini tampaknya aku dan beberapa teman harus lembur karena tuntutan pekerjaan yang harus segera diselesaikan.


"Na, ada yang nyari tuh di depan." kata Sony.


"Duh, siapa? Nanggung nih." keluhku.


"Nggak tau, dua orang cowok."


Aku tersentak dan segera berjalan ke depan untuk menemui mereka. Benar saja tebakanku, a'a dan Mas Rio yang datang.


"Kenapa pada kesini sih? Nggak ada kerjaan lain apa?"


"Sudah waktunya pulang, dek. Yuk." a'a menjawab.


"Aku mau jemput kamu, ada hal yang harus kubicarakan." Kali ini Mas Rio yang berbicara.


"Aku lembur hari ini, belum tau pulang jam berapa. Lagipula, aku bisa pulang sendiri. A'a sama Mas Rio pulang aja dulu. Kalau ada yang mau dibicarakan, nanti malam kutelpon ya."


"Ya sudah, nanti malam saja aku ke rumahmu. Ini ada makanan, tadi sengaja kubelikan untukmu." Mas Rio menyodorkan plastik putih dan segera kuterima.


"Terima kasih."


Setelah Mas Rio berlalu, kuarahkan pandanganku pada a'Ardan.


"Oke, oke, aku pergi. Aku tunggu di depan sampai kamu pulang. Kamu harus pulang sama a'a."


"Terserah." ucapku ketus sambil membalikkan badan.


"Eh, dek."


"Apa?" Langkahku tertahan.


"Makanannya jangan dimakan, takutnya bikin kamu nggak bisa lepas dari dia."


"Auk ah." dengusku kesal, namun a' Ardan justru tertawa terbahak.

__ADS_1


__ADS_2