Janitra

Janitra
Bab 19


__ADS_3

Aku kalut, kulempar beberapa barang yang bisa kuraih ke arah Danang.


Ah, perutku terasa nyeri sekali. Kucari bel untuk memanggil perawat. Tak lama dua orang perawat masuk ke ruanganku.


"Mbak, tolong usir orang ini. Perut saya sakit sekali. Tolong mbak. Dia jahat, Mbak..."


Melihat kondisiku, seorang perawat memelukku, berusaha menenangkanku sementara rekannya berusaha meminta Danang untuk meninggalkan ruangan.


Aku menangis sejadi-jadinya. Namun semakin aku menangis, semakin terasa sakit perutku. Sampai mataku tiba-tiba terasa berat dan aku tertidur dengan lelap. Melupakan rasa sakit di hati dan perutku.


***


Karena menurut dokter aku tidak boleh terlalu lelah dan mengerjakan aktivitas berat. Dengan berat hati aku mengundurkan diri dari kantor. Walau disana pekerjaanku tidak berat, namun aku merasa tidak enak jika banyak ijin.


Sejak aku memutuskan resign, tentu aku lebih banyak di kost. Danangpun sekarang lebih sering berada di kost. Tapi kami tetap jarang berinteraksi. Aku masih menjaga jarak dan was-was terhadapnya. Ada rasa takut dia mencoba menggugurkan kandunganku lagi.


Suatu sore sehabis aku mandi, Danang memanggilku.


"Na, ada pakdhe."


"Tumben kesini. Kamu ngomong apa lagi?"


Belum sempat Danang menjawab, Pakdhe Nug sudah berjalan mendekati kamar kami.


"Gimana kondisi Nala?"


"Ya harus istirahat total Pakdhe. Nala sekarang sudah tidak kerja, saya juga karena sering ijin jadi dikeluarkan. Karena Nala kan sering keluar masuk rumah sakit. Jadi saya sering ijin menemaninya. Apalagi hamil kali ini sering sekali keluar darah, langsung saya bawa ke rumah sakit sekalipun saya sedang kerja." Danang berdrama lagi.


"Enggak segitunya juga kok Pakdhe."


"Kamu beruntung lho Nala punya suami siaga. Tapi jangan manja, besok kalau suami lagi kerja jangan diganggu dengan kondisimu ya. Sekarang kalian ikut Pakdhe beli kebutuhan kalian. Kasur, kipas angin, televisi, lemari. Apalagi yang kalian butuhkan. Susu hamil, beras, sembako apapun yang kalian butuh."


Danang tanpa malu langsung mengekor Pakdhe Nug padahal aku masih ingin menolaknya.


Malam itu kami kembali ke kost membawa banyak barang. Kasur, lemari, televisi, kipas angin dan masih banyak lagi. Danang tampak sumringah, terlebih saat berpamitan Pakdhe juga memberikan uang untuknya dan untukku juga.


"Nggak tahu malu kamu, Mas!!" hardikku kesal.


"Rejeki anak kita jangan ditolak. Nyaman juga kan sekarang ada kasur, ada televisi, ada kipas. Besok masak enak ya? Ada uang kan dari Pakdhe tadi."


"Mau kusimpan untuk biaya melahirkan."


"Halah... Pasti ada lah untuk biaya lahiran. Tenang saja."

__ADS_1


"Ada darimana kalau kita nggak ada yang kerja gini?"


"Dari pakdhe dan budhemu lah. Hahaha."


Kuhadapkan tubuhku ke tembok. Muak melihat wajah Danang. Kuelus-elus perutku sambil membatin, semoga anakku kelak tidak memiliki sifat yang menjijikkan seperti bapaknya.


***


Kehamilanku semakin besar dengan kondisi yang semakin baik. Danang belum saja berubah walau sudah bekerja lagi namun tidak sepeserpun uang dia berikan padaku.


Untuk biaya makanku dan periksa kandungan, aku berjualan makanan matang. Kujual ke teman-teman kost. Beberapa bahkan membawa ke tempat kerjanya. Jadi sering aku menerima banyak orderan. Lagi-lagi Tuhan menunjukkan kuasaNya. Aku selalu dikelilingi oleh orang-orang baik.


Tempat kerja Danang kebetulan tidak jauh dari kost. Jadi siang hari saat istirahat, Danang sesekali pulang ke kost.


"Kamu masak apa?"


"Enggak masak. Kenapa?"


"Ngapain aja seharian?"


Malas berdebat, kuabaikan pertanyaan Danang.


"Nih bikinin kopi sama mie instant."


Sepiring mie instant sudah kusiapkan, namun sayang saat menyeduh kopi, gelasnya pecah.


"Kamu nggak ikhlas ya?"


"Aku nggak tahu ini kenapa gelasnya pecah padahal kopinya udah kutaruh di gelas, ada sendok juga."


"Sengaja kan kamu banting gelasnya."


"Lihat ini air panasnya kemana-mana. Nggak mungkin aku banting lah."


Danang menamparku tanpa sempat kutangkis. Lalu sebuah pukulan terkena mata kananku hingga aku jatuh tak sadarkan diri.


"Na...nala..." Kurasakan pipiku ditepuk.


"Alhamdulillah sudah sadar." kudengar ada suara lagi.


Perlahan aku buka mataku. Rasanya perih dan sakit seperti tersayat.


Kulihat ada Mbak Vita, Mbak Rosi, dan Mbak Gina sudah mengelilingiku.

__ADS_1


Mbak Vita membantuku berdiri. Kupegang perutku yang terasa sakit.


"Pelan-pelan dek." Mbak Vita memapahku ke kamar.


Kulihat ada piring bekas Danang makan. Berarti tadi setelah memukulku, dia masih sempat makan sebelum pergi entah kemana.


"Nala, kita ke dokter yuk." Mbak Rosi menyentuh lembut perutku.


Aku menggeleng, karena isi dompetku menipis. Sebenarnya aku juga mengkhawatirkan kandunganku. Tapi aku bisa apa. Seolah mengerti apa yang kupikirkan, mbak Rosi menyambung omongannya.


"Jangan pikirin biayanya, yang penting kita tahu kondisi kandunganmu dulu."


Sepertinya sudah menjadi rahasia umum di kost, bagaimana sikap Danang kepadaku.


"Begini saja mbak. Kupantau dulu, jika perutku nyeri atau gerakan janin berkurang, aku akan meminta tolong mbak Rosi menemaniku ke dokter ya?"


Akhirnya Mbak Rosi menyetujuinya.


Mbak Gina masuk kamarku membawa semangkuk soto dan segelas susu hangat.


"Ini dimakan dan diminum dulu."


"Na, kamu mau laporkan ke polisi nggak?" tanya Mbak Vita berhati-hati.


"Sepertinya begitu mbak. Aku capek seperti ini terus. Makin kesini bukan berubah lebih baik, justru semakin buruk."


"Kapan rencananya?"


"Nanti mungkin. Atau besok bisa nggak ya? Aku pengen istirahat dulu, Mbak."


"Ya sudah. Kapan kamu siap, kami akan mengantar. Tapi kalau boleh kasih saran, kamu juga harus bilang ke keluargamu."


Setelah memastikan aku baik-baik saja, ketiga teman kostku berpamitan. Tinggalah aku sendirian di kamar sekarang.


Kuambil gawaiku, aku mencoba menghubungi budhe Ratih. Kuceritakan bahwa Danang memukul mataku. Namun seperti yang sudah kuduga, Budhe Ratih justru menyalahkan dan menyudutkanku. Entah ajian apa yang diamalkan oleh Danang sehingga keluargaku luluh dan selalu percaya pada setiap omong kosongnya.


Malam itu, kamar sengaja kukunci dari dalam agar Danang tidak bisa masuk. Walau aku sendiri tidak yakin Danang berani datang kesini malam ini.


Keesokan harinya Budhe Ratih mendatangiku. Membawakan buah-buahan dan sembako serta beberapa lembar uang ratusan ribu serta tidak lupa wejangan-wejangan yang berakhir dengan sedikit ancaman mengatasnamakan kesehatan Eyang Sri agar aku tidak mempermalukan keluarga dengan melaporkan Danang ke polisi.


Lagi-lagi kesehatan Eyang dijadikan alasan. Dan lagi-lagi aku tidak bisa berkutik.


Dengan berat hati aku memutuskan untuk menahan segala kesakitanku sendiri, di sebuah ruang sempit, saksi bisu setiap air mataku yang tertumpah karena perbuatan Danang. Kusabarkan diri, kuyakinkan pada diriku sendiri bahwa semua tidak akan lama lagi. Jika sudah saatnya, aku pasti bisa lepas dari jeratan laki-laki tidak bertanggung jawab bernama Danang Hanenda.

__ADS_1


__ADS_2