
Petikan gitar mengalun lembut, lalu suara itu, suara yang dulu selalu kurindukan, terdengar lirih menyanyikan sebuah lagu
"Dirimu di hatiku, tak lekang oleh waktu
Meski kau bukan milikku
Intan permata yang tak pudar,
Tetap bersinar mengusik kesepian jiwaku
Ku coba memahami,
Bimbangnya nurani tuk pastikan semua
Tak akan ku ingkari,
Terlalu banyak cinta yang mengisi datang dan pergi
Namun tak pernah bisa,
Lenyapkanmu di benakku..."
"Na, kamu jaga kesehatan ya..." suaranya pelan dan agak tersendat seperti menahan tangis. Padahal sejauh yang kutahu, dia bukan laki-laki yang mudah menangis.
"Aku baik-baik saja. Kamu apa kabar?"
"Aku tidak pernah baik selama kamu belum bahagia."
Mati-matian kutahan lidahku untuk tidak menanyakan semua hal yang pernah terjadi antara kami karena aku sadar, kisah kami telah usai. Segala sesuatu yang masih mengganjal tak perlu dipertanyakan lagi.
"Aku bahagia. Sangat bahagia." suaraku bergetar menahan tangis.
"Teruslah berdusta. Aku tahu tentang kamu dan suamimu. Bagaimana perlakuan dia ke kamu, bagaimana caramu berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup kalian, bahkan aku tahu seberapa banyak airmata yang kamu tumpahkan setiap harinya. Kamu pikir lihat kondisimu begini, semudah itu aku mencari kebahagiaanku sendiri? Walau jujur, aku sangat kecewa saat kamu menikah."
"Sudah, cukup mencari tahu tentangku. Aku bukan siapa-siapamu lagi. Bahagiaku bukan tanggung jawabmu."
"Hanya dengan cara ini, aku menebus semua kesalahanku. Maafkan aku, meninggalkanmu tanpa kabar, membuatmu terombang-ambing dalam ketidakpastian. Andai kamu mau kasih aku kesempatan sekali lagi, aku nggak akan pernah sia-siakan kamu lagi."
"Sudah, cukup. Kita sudah selesai. Aku mau istirahat, selamat malam."
Aku segera mematikan panggilan lalu kusimpan di dalam tas yang selalu kupakai saat bepergian. Kupeluk erat Dewa yang masih tertidur pulas. Ada damai saat menatap wajah polosnya. Semoga kelak kamu jadi lelaki yang sukses, bertanggung jawab, dan setia, doa yang selalu kupanjatkan.
***
Sesuai rencana, sepulang kerja aku menemui Papa di rumah makan langganannya. Kulihat Papa sudah sampai sana dan memesan beberapa menu.
"Makan dulu saja baru nanti kita ngobrolnya." Papa menyuruhku makan sebelum aku sempat membuka omongan.
Kami makan dalam hening, seperti bukan bapak dengan anak. Jurang yang tercipta sudah terlampau dalam. Lelakiku, cinta pertamaku sudah jauh tak terengkuh.
"Pa, aku mau cerai. Aku nggak kuat dengan keadaan ini." Aku membuka obrolan setelah kami menghabiskan makanan.
"Bertahan saja. Jangan ada cerai. Apa kata orang nanti. Jangan bikin Papa malu lagi."
"Peduli apa sama omongan orang, Pa? Aku anak Papa. Seharusnya Papa melindungi aku bukan malah memaksaku bertahan dalam sebuah hubungan yang sakit hanya demi nama baik."
Papa diam tidak menjawab sepatah katapun. Aku meminum sedikit es lemontea yang kupesan untuk mendinginkan hatiku yang mulai bergemuruh.
"Mungkin sementara aku dan Dewa numpang tinggal di rumah Papa sampai kondisi ekonomiku stabil dan bisa mengontrak berdua saja dengan Dewa."
"Enggak. Jangan di rumah Papa."
"Tapi Pa, rumah itu kan juga hasil dari penjualan rumah warisan Mama untukku dan adik."
"Tidak. Pokoknya kamu tidak boleh di rumah Papa."
"Aku tau seberapa dalam luka masa kecil Papa. Tapi tolong, jangan pernah lampiaskan ke aku. Aku anak Papa. Mau sampai kapan Papa anggap aku musuh Papa? Kapan Papa bisa sebentar saja dengar semua hal yang kualami semenjak Mama berpulang? Kapan Papa bisa sekali saja membelaku atau sekedar memelukku, menguatkanku. Bukan hanya sekedar mementingkan istri baru Papa atau nama baik Papa."
__ADS_1
"Sudah pintar ngomong kamu ya? Sudah, Papa mau ada acara."
"Acara apa?"
"Ulangtahunnya Haris, keponakan Mama Popy."
"Haris terus. Kemana Papa saat cucu kandung Papa ulang tahun? Apa sejak lahir Papa pernah sempatkan lihat atau bermain bersama Dewa? Di facebook Papa hanya ada Haris, Poppy dan keluarganya. Segitu berharganya mereka dibanding aku dan Dewa, Pa?"
Tanpa pedulikanku, Papa beranjak dari kursinya dan berjalan ke parkiran setelah membayar makanan kami.
Ada rasa sakit yang teramat dalam namun kali ini tanpa airmata.
Kuarahkan motorku ke sebuah sungai yang sepi. Kuparkirkan motor di tempat yang aman.
Lama aku terdiam di pinggir sungai sambil menggenggam erat pecahan botol minuman yang kutemukan tak jauh dari tempatku duduk. Ada rasa sakit, namun lebih terasa sakit perasaanku.
"Mau sampai kapan kamu disini?"
Sebuah suara yang sangat kukenal mengejutkanku.
"A'a..."
"Iya, ini aku..."
***
POV a' Ardan
Aku membuntutinya sejak keluar dari kantor. Bukan tanpa alasan, walau dia masih ceria dan penuh tawa namun aku tahu, psikisnya sedang tidak baik-baik saja. Aku hanya bisa berharap, dia bisa membaik setelah bertemu dengan cinta pertamanya.
Kurang lebih satu jam aku menunggunya makan dan mengobrol, dia keluar dari rumah makan dengan tatapan kosong dan berkali-kali menghela napas kasar seolah beban yang dia tanggung begitu berat.
Perasaanku semakin kacau melihat caranya mengendarai motor dan mengarahkan ke sebuah tempat yang sepi. Aku masih menjaga jarak agar dia tidak pergi semakin jauh dan mungkin akan membahayakan nyawanya. Kulihatnya mengambil pecahan botol minuman dan terus menggenggamnya. Pandangannya lurus ke depan, kosong. Aku mencoba menghubungi beberapa teman yang sering kumintai tolong mengawasinya selama aku tidak berada di kota ini. Setelah cukup lama mengamatinya kuberanikan diri mendekat.
"Mau sampai kapan kamu disini?"
"A'a..."
"Iya, ini aku..."
Ya Tuhan, ingin rasanya aku merengkuhnya dalam pelukanku. Membawanya pergi jauh dari sini dan takkan kubiarkannya terluka lagi.
Kulihat tangannya semakin erat menggenggam pecahan botol.
"Na, lepasin itu. Itu bisa melukaimu."
"Ohya? Aku malah berharap ini bisa membuatku pergi dari dunia bukan hanya melukai tanganku."
Jawabnya lirih tanpa emosi.
Perasaanku semakin kacau. Dia sedang tidak baik-baik saja.
"Boleh kita ngobrol?"
Dia diam, tidak mempedulikanku.
Aku mencoba mendekatinya pelan-pelan. Takut dia berlari ke arah sungai dengan batu-batu besar yang sangat bisa membahayakan nyawanya.
"Kamu boleh cerita apapun yang ingin kamu ceritakan."
Dia menggeleng.
Tangannya semakin menggenggam erat dan menimbulkan luka.
Melihat kondisinya, aku semakin tak tega. Walau kuakui dulu sikapku sering membuatnya sakit, namun saat ini aku ingin menebus semua kesalahanku padanya. Kulihatnya begitu rapuh. Kalau saat ini dia menangis, mungkin aku tidak akan sekhawatir ini.
Aku hanya berjarak beberapa langkah dari tempatnya berdiri. Tanpa meminta ijin, kutarik dia dalam pelukanku.
__ADS_1
"Jawab, apa yang udah kamu lalui selama ini? Seberat apa bebanmu, berbagi denganku, Na. Aku mohon..."
Dia tidak menolak, namun juga tidak membalas pelukanku. Kuangkat dagunya, kutatap matanya. Kosong. Tidak seperti Nala yang kukenal.
"Kamu seorang ibu yang hebat, kamu kuat, kamu wanitaku yang terhebat. Luapkan semuanya, luapkan semua amarahmu ke aku, jangan lukai tubuhmu Na. Aku mohon."
Dengan perlahan, kucoba lepaskan genggamannya, kulihat darah mengalir cukup banyak.
Kuambil sebuah botol minum yang kubawa.
"Kamu mau minum?"
Nala tetap diam, seolah tidak ada aku di sisinya.
Kubersihkan tangannya menggunakan air mineral.
"Sakit Na?"
Dia masih diam.
"Na, jawab aku!!! Sakit Na?"
Masih sama seperti tadi, Nala tidak merespon apapun ucapanku.
Tanpa berpikir panjang, kubawa Nala masuk ke dalam mobil, sementara motornya dibawa oleh salah satu temanku.
Kuarahkan mobil ke rumah, namun sebelumnya menjemput Dewa dulu di sekolahannya. Untung saja gurunya percaya karena melihat ada Nala di dalam mobil.
Sesampainya di rumah, beberapa teman sudah menunggu dan membantuku mengurusi Dewa juga Nala.
"Dek, makan yuk. Aa bawain bubur ayam kesukaanmu."
Kusuapkan sesendok bubur ayam ke mulutnya, namun mulutnya tidak terbuka.
"Dek, aku tahu, aku merupakan salah satu orang yang membuatmu seperti ini. Mungkin juga aku nggak pantas kamu maafkan. Tapi kumohon, bertahan, tetap kuat demi anakmu. Kamu harus tetap mendampinginya hingga kelak dia sukses."
Masih tanpa respon. Namun aku tidak menyerah. Kuajak bicara tentang apapun.
Tok...tok...
"Aa, Nala gimana?" Ida, sahabat Nala masuk mendekatiku.
"Dia sering cerita apa saja ke kamu?"
"Nggak ada, a'."
"Jangan bohong. Aku mohon."
"Pernah cerita kalau suaminya kasar. Itu saja a. Lagian kan aa tau gimana Nala, dia akan diam saat ada masalah dan baru terbuka saat masalah itu sudah lewat."
"Aku takut kehilangan dia.."
"Bukannya memang kamu sudah tidak memilikinya?"
"Iya, tapi setidaknya aku masih bisa melihatnya tersenyum, menjaganya dari jauh atau sesekali berkomunikasi."
Kudekati Nala, kucium keningnya. Satu hal yang dulu dia sukai.
"Dek, Ida dateng. Kamu inget dia kan? Kamu nggak kangen masak bareng dia? Aa kangen adek masakin. Ohya, tadi Dewa Aa jemput dari sekolah. Kamu kangen Dewa nggak? Tadi aa yang suapin dia, mandiin dia. Ganteng ya."
Di luar dugaan, Nala menengok ke arahku.
"Kangen Dewa sama Ida? Jangan gini dek. Nangis kalau kamu mau nangis, marah kalau kamu mau marah. Kamu berhak luapkan emosimu. Jangan dipendam sendiri. Aa disini nggak akan tinggalin kamu. Luapin semuanya. Aa mau dengar semuanya. Nggak akan pernah menjudge adek. Aa akan selalu belain adek."
Kurengkuh tubuhnya ke dalam pelukanku. Tubuhnya bergetar dan mulai terisak.
"Luapin semuanya, dek. Sampai adek lega."
__ADS_1
Tangisnya semakin kencang. Dan malam itu kami bertiga habiskan dengan mendengarkan ceritanya tanpa terlewat satupun.