Janitra

Janitra
Bab 26


__ADS_3

Kurengkuh tubuhnya ke dalam pelukanku. Tubuhnya bergetar dan mulai terisak.


"Luapin semuanya, dek. Sampai adek lega."


Tangisnya semakin kencang. Dan malam itu kami bertiga habiskan dengan mendengarkan ceritanya tanpa terlewat satupun.


***


POV Nala


Setelah sarapan dan mandi, aku dan Dewa bersiap pulang.


"Aa, aku ijin pulang dulu."


A' Ardan menatapku tanpa memberi jawaban.


"Aa, aku ijin pulang..."


"Seharusnya, rumah ini tempatmu pulang."


"Aa, aku ijin pulang..."


"Nggak akan kuijinkan. Disini rumahmu."


"Kita udah selesai, a'..."


"Kamu selesaikan secara sepihak tanpa adek kasih kesempatan untuk a'a jelaskan. Saat itu a'a diam karena kulihat dan kuperhatikan si Abangmu itu sangat mencintaimu. Aa rela lepaskan adek bersama dia walau sebenarnya berat. Tapi a'a tau, adek berada di orang yang baik."


"A, sudah, cukup..."


Aku berdiri hendak mengambil tas dan menggendong Dewa yang sedang diajak bermain oleh Mbak Ida.


"Duduk!" perintah a'Ardan.


"Ada apa lagi a'?" dengan terpaksa aku duduk. Aku cukup mengenalnya. Seseorang yang tidak suka dibantah oleh siapapun.


"Adek mau kemana?"


"Aku daritadi udah bilang, ijin pulang."


"Aa nggak akan pernah ijinin."


"Tapi aku harus pulang a'. Semalam aku udah nggak pulang. Pasti nanti akan ada banyak drama yang dibuat oleh Danang."


"Aa nggak akan pernah ijinkan. Paham bahasa indonesia kan?"


Aku mengangguk lemah. Sudah terbayang, pasti Danang cerita ke Budhe atau Pakdhe ditambahi dengan bumbu-bumbu dan airmatanya.


Di tengah kebingungan, Mbak Ida mendatangiku.

__ADS_1


"Nala nggak jadi pulang?"


Aku diam tidak berani menjawab.


"Tanya saja ke Nala." A'Ardan menjawab dan menatapku tajam.


"Nggak diijinin a'a, mbak." jawabku lirih.


Mbak Ida mengernyitkan kening.


"A' nggak usah macem-macem deh. Kalian sudah pisah. Nala sekarang masih berstatus istri orang."


"Istri orang yang hatinya masih untukku separuh, separuhnya lagi untuk mantannya yang dia panggil Abang. Suruh jawab jujur, benar nggak?!"


"A' sudah. Aku takut Nala down lagi." Mbak Ida berbisik, namun aku masih mendengar.


"Aku kenapa mbak? Asmaku nggak kambuh kok."


"Nggak apa-apa kok. Iya aku takut kamu kumat asmanya." Mbak Ida mengelus rambutku.


"Coba suruh dia sekali lagi pamit."


"A', aku ijin pulang."


"Aku tidak akan pernah ijinkan kamu bersama laki-laki itu lagi. Paham, Dek?"


"Kamu paham Da?"


"Iya. Tapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk menahannya disini, a'. Biarkan dia kesana dulu, menyelesaikan satu bab hidupnya dengan baik, lalu setelah selesai kamu bisa memintanya kembali ke kamu."


"Tanpa dia kesanapun, aku bisa membuat mereka selesai."


"Biarkan berjalan sesuai adanya, a'."


"Ya sudah biar kuantar."


"Jangan a'. Aku naik motor saja sama Dewa."


"Kalau kamu antar, apa nggak semakin bikin runyam masalah mereka a'?" Mbak Ida menyela.


A' Ardan menghela napas panjang.


"Ya sudah, tapi tolong hati-hati di jalan. Aku awasi dari jauh. Aku janji tidak akan terlalu dekat. Setidaknya aku tahu, kalian berdua baik-baik saja sampai rumah."


Aku mengangguk mengiyakan karena menolak lagi juga akan percuma.


***


"Dari mana kamu?" Danang menghardikku.

__ADS_1


"Nginep di rumah teman."


"Semalaman aku nyari kamu. Nginep sama selingkuhanmu yang mana lagi? Kenapa aku telepon nggak bisa?"


"Batre habis."


Kuturunkan Dewa dari gendonganku, dan dia langsung berlari masuk kamar mandi untuk cuci kaki dan tangan. Kuedarkan pandanganku ke seluruh rumah. Masih berantakan. Di meja makan tampak ada beberapa piring bekas makan. Dengan malas aku mulai membereskan piring-piring kotor di meja makan. Untung saja aku tadi sudah sarapan jadi ada tidak perlu memasak dulu sekarang. Tanpa sadar aku tersenyum sendiri mengingat obrolan hangat tadi saat sarapan bersama Mbak Ida dan a'Ardan. Sedikit berandai, jika dulu direstui mungkin saat ini aku sudah menyandang status Nyonya Ardan dan hidup bahagia. Ah tapi Bang Rico juga baik. Jadi sebaiknya berandai menjadi Nyonya Rico atau Nyonya Ardan? Aku geli sendiri dan semakin melebarkan senyumku. Ternyata Danang memperhatikanku dan tiba-tiba sudah berada di depanku.


Plaaaakkk


Sebuah tamparan mendarat di pipiku.


"Dasar perempuan murahan! Ngapain kamu senyum-senyum sendiri. Semalem habis diapain kamu sama selingkuhanmu?!!"


"Mau sampai kapan sih kamu drama gini? Sebenarnya yang selingkuh kamu kan. Jangan kamu pikir aku nggak tau apa-apa. Kamu mungkin bisa bohongin keluargaku dengan membuat cerita palsu seolah-olah kamu yang terdzalimi. Padahal sejak awal kita menikah, jelas kamu yang keterlaluan!! Makanan harus selalu baru, harus ada sayur dan lauk, kopi, rokok harus siap. Kamu sampai rumah baru kumasakin, kamu marah-marah nggak terima. Padahal maksudku biar masih anget masakannya. Kamu nggak mau dengar, mukul aku, nendang aku. Kamu sampai rumah, makanan dingin juga marah katanya ngasih sisa. Mukul aku lagi. Selama ini aku udah cukup sabar lho!! Punya suami tapi rasanya nggak punya sama sekali. Disfungsi!!!"


Danang tersulut emosi dan memukuliku seperti orang kesetanan. Membalas hanya akan menguras energiku. Setelah puas, dia meninggalkanku begitu saja berdua di rumah bersama Dewa. Sementara ibu dan kakaknya entah berada dimana karena sejak aku pulang tidak melihat mereka.


Dewa mendekatiku, menangis memelukku. Melihat tangisnya, akupun semakin tersadar bahwa masa depannya ada di tanganku. Aku tidak mau Dewa mencontoh perilaku buruk Danang karena setiap hari melihatnya. Dewa harus tahu bagaimana seharusnya menjadi seorang laki-laki yang bertanggung jawab. Karena aku tidak mungkin mengubah Danang menjadi seperti itu, namun aku masih bisa mendidik Dewa menjadi seorang lelaki yang baik.


Perlahan aku berdiri, kepalaku terasa sakit namun sebisa mungkin kutahan. Kugandeng Dewa yang masih sesenggukan untuk masuk kamar.


"Dewa, Bunda sudah tidak kenapa-napa. Sini tiduran di samping Bunda."


Kupeluk Dewa sampai dia tenang.


"Bunda cek hp dulu ya."


Dewa mengangguk mengiyakan.


Kunyalakan ponselku, banyak pesan dan panggilan masuk yang tak terjawab.


Kubuka satu persatu pesan itu termasuk pesan dari Budhe Ratih.


"Kata Danang, kamu lagi sama pacarmu ya. Menjijikkan sekali. Seperti perempuan murahan!"


Kutarik nafas berkali-kali berusaha menenangkan diri. Sengaja tidak kubalas, agar aku juga tidak terpancing emosi. Saat ini yang terpenting adalah bagaimana caranya aku segera keluar dari pernikahan ini, dari rumah ini.


Aku menekan nomor kontak Papa.


"Pa, Danang barusan mukulin aku lagi. Papa masih tega biarin aku disini? Sama sekali nggak bolehin aku tinggal di rumah Papa? Sementara saja sampai aku ada uang untuk sewa rumah bersama Dewa."


"Tidak. Barusan Papa transfer kamu, mungkin bisa sedikit membantu. Nggak usah cerai."


"Aku malah mau laporkan Danang ke polisi karena udah mukul aku."


"Jangan bikin malu keluarga! Pasti ada sebabnya dia seperti itu."


Kumatikan panggilan sepihak. Berharap Papa akan memihakku sepertinya juga percuma.

__ADS_1


__ADS_2