Janitra

Janitra
Bab 24


__ADS_3

Ponselku berbunyi nyaring tanda panggilan masuk. Ternyata Budhe Ratih. Dengan hati berdebar kuangkat panggilan teleponnya.


"Halo..."


"Nala, besok Sabtu kamu ulang tahun kan? Hari Minggu kalian kesini ya. Budhe masakin nasi kuning untuk acara ulangtahunmu."


"Ya Budhe, besok Minggu aku dan Dewa kesana."


"Sama Danang juga dong."


"Sepertinya tidak, Budhe. Ada yang mau kubicarakan dengan Budhe tanpa ada Danang."


"Ya sudah besok Minggu, Budhe tunggu."


Budhe Ratih mematikan panggilannya. Aku menghela napas lega karena sebelumnya kukira Budhe menghubungiku karena Danang yang mengadu.


"Nda, kamu mau bilang ke keluargamu?"


"Iya Mbak. Aku sudah lelah."


Mbak Ika memeluk menguatkanku.


***


Hari minggu tiba. Sedari pagi aku sudah sibuk menyiapkan Dewa untuk kuajak ke rumah Budhe Ratih. Untungnya Danang masih tidur saat aku dan Dewa berangkat.


"Bu, aku sama Dewa pergi dulu..." aku berpamitan pada Ibu mertuaku yang sedang sibuk mengurus tanaman.


"Oh iya. Hati-hati."


Dengan mengendarai motor, kubonceng Dewa. Seperti biasa, dia selalu berceloteh dengan riang menanyakan banyak hal yang dia temui di sepanjang jalan.


Setengah jam perjalanan, akhirnya kami berdua sampai ke rumah Budhe Ratih yang megah. Kuparkirkan motorku di halamannya. Melihatku, Budhe Ratih berjalan menghampiri.


"Selamat ulang tahun ya Nduk..." Seperti biasa, Budhe mencium kedua pipi dan keningku. Membuatku teringat akan Mama.


Budhe mengajakku ke ruang makan. Disana sudah tersedia nasi kuning dan segala lauk pauknya. Mbak Lia, Mbak Fani dan Mas Sakti bersama pasangannya masing-masing juga sudah hadir disitu. Dewa langsung asyik bermain dengan kakak-kakak sepupunya. Sementara aku menikmati nasi kuning buatan Budhe Ratih sambil mengobrol dan bercanda.


Sore menjelang saat Budhe Ratih dan Mbak Fani tiba-tiba keluar seperti akan menemui seseorang. Sejam berlalu namun mereka tidak juga kembali sementara Dewa sudah mulai rewel.


"Budhe kemana ya Mbak? Aku mau pamit nih." tanyaku pada Mbak Lia.

__ADS_1


"Kayaknya di paviliun depan sih, mungkin nemuin temennya atau mau ada yang nyewa paviliun."


"Ya udah, aku kesana aja kali ya Mbak?"


Baru saja aku mau menemui Budhe Ratih, Mbak Fani anak kedua Budhe masuk ke rumah dengan wajah menahan emosi.


"Na, kamu dipanggil Mama. Dewa titip bentar ke Mbak Lia aja."


Aku yang kebingungan tetap mengikutinya sampai ke paviliun yang berada di sebelah rumah induk Budhe Ratih. Disana ternyata Budhe Ratih sedang menungguku bersama Danang. Melihat raut mukanya, aku sudah bisa menebak drama apa yang sedang dimainkan oleh Danang.


"Duduk Na..." Budhe menyuruhku duduk di sebelah Danang.


Enggan sebenarnya namun aku tidak memiliki pilihan lain.


"Danang sudah cerita banyak pada Budhe. Budhe sangat malu sekali dengan kelakuanmu. Apalagi ternyata kamu sampai berani memasukkan laki-laki lain ke rumah. Itu rumah Eyang, seharusnya kamu jaga bukan kamu kotori dengan perbuatan buruk."


"Aku nggak pernah masukin cowok ke rumah, Budhe.. siapa yang bilang?"


"Danang yang bilang. Mana mungkin dia bohong. Dia sampai nangis karena merasa harga dirinya kamu injak-injak."


"Danang kan sering di rumah. Gimana aku masukin laki-laki lain ke rumah kalau Danang saja selalu ada di rumah? Ada ibu dan kakaknya juga di rumah lho."


"Dia bilang kamu berani bentak mereka dan mengusir mereka hanya untuk memasukkan laki-laki itu ke dalam rumah."


"Budhe, sebenarnya aku tadi kesini juga pengen bilang kalau aku mau cerai sama Mas Danang."


"Ya karena kamu lebih memilih selingkuhanmu itu kan?"


"Siapa yang selingkuh sih Budhe? Mikir untuk makan banyak orang aja aku pusing, nggak sempet mikir selingkuh."


"Mana ada maling mengaku. Kata Danang juga kamu beberapa kali mengusir Danang dan keluarganya. Ingat ya. Kalau Danang keluar dari rumah itu, kamu juga harus keluar dari situ. Budhe malu sekali dengan kelakuanmu."


"Budhe kapan bisa percaya aku? Sebenarnya yang berselingkuh adalah dia. Selama ini kerjaan da hanya tidur, makan, ngerokok, nonton tv, ngegame, pulang pagi kondisi mabuk."


"Ya mungkin dia begitu karena stress menghadapi kamu. Sekarang kamu harus minta maaf ke Danang."


"Maaf ya Mas. Tapi secepatnya aku akan tetap proses perpisahan kita "


"Heh kamu itu!! Minta maaf yang baik. Sungkem sama suamimu."


Dengan berat hati aku terpaksa sungkem untuk meminta maaf.

__ADS_1


"Sebenarnya berat ya Budhe saya memaafkan Nala. Tapi gimanapun, saya suaminya harus tetap memaafkan istri saya."


"Budhe juga minta maaf atas kesalahan Nala yang sudah keterlaluan ya, Danang."


"Ya Budhe, saya tetap memaafkan istri saya walau rasanya seperti berjalan di atas pecahan kaca."


Setelah drama panjang, akhirnya aku bisa berpamitan dengan sejuta wejangan dari Budhe.


Sepanjang jalan aku menangis, seharusnya ini adalah hari bahagiaku, namun Danang merusaknya. Sebelum sampai rumah, kusempatkan berhenti untuk mengirim pesan teks pada Papa, satu-satunya orangtua yang masih kumiliki walau sekarang sibuk dengan istri barunya.


"Pa, Nala pengen ketemu..."


Tak perlu menunggu lama, Papa segera menjawab pesanku.


"Ada apa? Papa sibuk. Nanti Papa transfer uang saja. Tapi nggak bisa banyak, Papa lagi nggak ada uang."


Airmataku mengalir menganak sungai. Sedari dulu Papa selalu beralasan sibuk dan mengaku tidak memiliki uang. Padahal yang kubutuhkan adalah support dan sebuah pelukan dari Papa. Kucoba sekali lagi memohon agar Papa mau menemuiku.


"Aku butuh Papa, aku pengen ketemu Papa. Sebentar saja, Pa."


"Ya udah, besok ketemu di rumah makan langganan Papa jam 12 siang. Jangan telat karena Papa harus ke luar kota."


"Terima kasih, Pa..."


Kugigit bibir bawahku dengan maksud menahan airmata agar tidak semakin mengalir dengan derasnya. Dulu, aku sangat dekat dengan Papa. Aku diperlakukan bak putri, semua yang kumau pasti dituruti oleh Papa. Lalu semua berubah saat Mama meninggal. Bahagiaku selesai dan berganti airmata yang tidak pernah kering hingga saat ini.


Kupeluk erat Dewa, sekalipun aku akan bercerai namun tidak akan kubiarkan Dewa menjadi seorang anak broken home. Dia akan tetap menjadi anak yang tumbuh bahagia dan dilingkupi oleh kasih sayang yang semestinya. Takkan kubiarkan ia menjadi sepertiku.


Kuhapus airmata, kunyalakan motorku, sebentar lagi sampai rumah dan aku tidak mau Danang merasa besar kepala saat melihatku menangis.


Kuparkirkan motor di samping motor Danang yang sepertinya juga baru saja sampai. Aku segera mengajak Dewa membersihkan diri di kamar mandi yang berada di kamar tidurku.


Sebenarnya sudah muak aku harus melihat Danang lagi. Namun saat ini aku belum bisa berbuat banyak. Setidaknya aku masih harus bersabar beberapa hari lagi, semoga Papa besok bisa memahamiku dan memberiku tumpangan di rumahnya. Sebuah rumah yang dia bangun setelah menjual rumah peninggalan almarhum Mama namun hingga detik ini aku tidak pernah diijinkan menginjakkan kakiku disana.


Aku sengaja menyibukkan diri bersama Dewa di kamar hingga tiba waktu tidur.


Sesaat setelah Dewa terlelap, kudengar Danang menyalakan motornya lalu pergi entah kemana.


Ponselku bergetar tanda panggilan masuk. Nomor baru. Kuangkat panggilan itu dengan sedikit harapan, Bang Rico yang menghubungiku lagi.


"Selamat malam..."

__ADS_1


"Dek, apa kabar?"


Suara yang sangat familiar dan pernah akrab di masa lalu menyapa dengan lembut. Lidahku kelu, tak dapat menjawab pertanyaannya. Jantungku berdetak tak karuan. Bukan, ini bukan rindu. Tidak, aku tidak boleh jatuh dalam sebuah kesalahan yang akan menghancurkanku. Mati-matian kuatur nafas dan detak jantungku. Kubiarkan si penelepon berkali-kali memanggil namaku, menunggu jawaban dariku.


__ADS_2