Janitra

Janitra
Bab 42


__ADS_3

Hari minggu yang menyenangkan telah usai. Aku dan Dewa kembali ke rutinitas kami masing-masing. Kujalani hari dengan rasa syukur. Walau hubunganku dengan keluarga besar sejak hakim memutuskan perceraianku dengan Danang tak kunjung membaik, namun aku merasa hidupku jauh lebih baik saat ini dibandingkan saat aku masih menyandang status sebagai Danang. Ya, status hanya di atas kertas.


Kuciumi pipi Dewa bergantian kanan kiri untuk membangunkannya.


"Bangun sayang... Sekolah yuk. Bunda udah siapkan nasi goreng kornet untuk sarapan dan roti bakar cokelat untuk bekalmu nanti."


Mendengar makanan kesukaannya, mata Dewa langsung terbuka lebar.


"Nasi goreng kornet, Bunda?" tanyanya untuk menegaskan yang kuucapkan tadi.


"Iya. Kesukaanmu kan?"


"Iya aku suka bangeeeettt nasi goreng kornet. Aku mau yang banyak ya Bunda." pintanya seraya merentangkan kedua tangannya.


"Boleh. Tapi harus habis lho ya."


"Pasti dong. Aku mau mandi dulu, Bunda."


Tanpa kusuruh, dia langsung mengambil handuk lalu menuju ke kamar mandi.


Tak lama kemudian, Dewa sudah siap.


"Tolong gosokin ini Bunda." Dewa mengulurkan sebotol minyak telon. Aku memang lebih menyukai aroma minyak telon daripada minyak kayu putih. Kubalurkan minyak telon ke dada, perut, punggung, tangan dan kaki Dewa. Selain agar tubuhnya hangat, aromanya juga segar dan konon untuk menghindarkannya dari gigitan nyamuk saat beraktifitas nanti.


Kuberikan sepiring nasi goreng kornet kesukaannya dengan topping telor dadar di atasnya dengan kerupuk sebagai pelengkapnya. Sementara untukku sarapan, sepiring nasi goreng kornet dengan tambahan irisan cabe rawit dan telor mata sapi setengah matang, tak lupa kutaburkan kerupuk yang sudah kuremukkan sebelumnya.


"Dewa mau makan sendiri atau bunda suapin?"


"Makan sendiri saja, Bun. Bunda juga makan. Biar kita nggak kesiangan."


Kami menikmati sarapan sambil menonton acara anak-anak di televisi. Akupun menikmati suguhan di layar kaca yang berkisah tentang seekor monyet dan tuannya.


Jam sudah menunjukkan setengah tujuh, kami bergegas meninggalkan kamar kos. Tak lupa kupakaikan jaket dan helm pada Dewa.


Sejam kemudian aku sampai di kantor. Seperti biasa, aku selalu jadi orang pertama yang datang. Sedari dulu aku lebih suka datang awal agar bisa beristirahat sebentar sambil menikmati secangkir kopi hitam tanpa gula.


Kuletakkan kopi pagiku di atas meja dengan hati-hati. Kuambil ponselku di tas yang sedari tadi belum kuaktifkan. Beberapa pesan baru masuk. Kubuka satu persatu.


[Nggak usah pura-pura nggak tahu. Atau saking banyaknya laki-laki yang kamu dekati jadi kamu bingung?]


[Temui aku segera. Agar kamu tahu bahwa kamu tidak pantas mendekati kekasihku lagi. Asal kamu tahu, kamu tidak selevel dengannya.]


[Sebenarnya malas sekali aku berurusan dengan kamu. Bukan levelku untuk saingan denganmu. Tapi ini terpaksa kulakukan agar kamu tahu diri dan berhenti mengejar kekasihku.]


Aku hanya tersenyum sinis dan meyakini bahwa si pengirim salah mengirimkan pesannya ke nomorku. Karena aku merasa tidak sedang dekat dengan siapapun apalagi pria yang sudah memiliki pasangan.


Kuhirup kopi hitam tanpa gula kesukaanku yang masih mengepulkan asap panas.


"Wih nikmatnya pagi-pagi ngopi."


Sita menyapaku sambil buru-buru meletakkan tas lalu menyalakan komputernya.


"Mepet terus sih kamu datang. Jadi nggak bisa ngopi santai deh." Gurauku pada Sita yang memang selalu datang mepet jam absen pagi.


Kami lalu sama-sama larut dalam pekerjaan masing-masing sembari sesekali melemparkan guyonan untuk mencairkan suasana.


Jam makan siang tiba, kucek ponselku, siapa tahu ada pesan penting yang masuk. Namun lagi-lagi ada pesan dari nomor asing yang dari kemarin mencaciku selain pesan dari beberapa teman, Bang Rico, a'Ardan dan juga Pak Jhoni. Ya, Pak Jhoni masih saja mengirimiku pesan berisi kalimat-kalimat romantis. Kumatikan layar ponsel, lalu kumasukkan kembali ke tas tanpa membuka semua pesannya.


"Makan sekarang? Nggak bawa bekal kan?" tanya Sita.


"Iya. Yuk pengen makan ayam bakar di rumah makan padang."


Berdua kami berjalan kaki menuju rumah makan padang yang berada tidak jauh dari kantor.


"Pak Jhoni masih hubungi kamu?" tanya Sita sambil mengunyah nasi dengan lauk gulai kikil dan sambal hijau yang berlimpah.


"Masih. Ini tadi aja kucek ada pesan dari dia. Entah apa isinya, aku malas buka pesannya." setelah menjawab, aku memasukkan suapan pertama berisi nasi, daun singkong dan potongan ayam bakar dengan limpahan bumbu yang selalu berhasil memanjakan lidah dan perutku.


"Yaaa, aku kan penasaran." cicit Sita.

__ADS_1


"Iya iya, nanti kubuka habis makan."


"Hahaha. Penasaran tau."


"Atau cemburu?" godaku sambil menaik turunkan alis.


"Huh, ambil saja sana. Lucu aja lihat bahasa dia untuk merayumu."


"Buaya yang berselimut kealiman ya?"


"Yaaa begitulah. Baru kali ini sih aku nemu."


Kami terus berbincang dan bercanda selama makan siang hingga tak terasa makanan di piring kami masing-masing tandas tak bersisa. Setelah mencuci tangan, segera kubuka ponselku. Tujuannya hanya satu, mengecek pesan dari Pak Jhoni. Namun ternyata ada dua pesan baru dari nomor tak dikenal. Rupanya dia pantang menyerah untuk menyerangku.


[Nala, saat aku bertemu kamu, aku tahu ada kabut mendung yang menyelimuti wajahmu walau kamu mencoba menutupinya dengan canda tawamu. Namun tidak ada hal yang sanggup kamu tutupi dariku. Karena besarnya cintaku padamu, aku dapat mengetahui segala yang kamu simpan serapat apapun. Aku tahu pasti kamu bersedih menyandang status janda, terlebih saat kamu melihat teman-temanmu hidup bahagia bersama suami mereka. Disini aku ada, aku tercipta untuk menjadi kekasih halal bagimu. Terimalah aku, Nala agar kamu bebas bereksperimen mengeluarkan segala hasrat yang terpendam selama kamu menjanda.]


Setelah kubaca, kuberikan ponselku pada Sita. Dia tertawa terbahak-bahak membaca isi pesan Pak Jhoni yang bagiku berlebihan dalam membual. Bukannya membuatku tertarik namun justru membuatku semakin hilang respect.


Sita mengulurkan ponselku, tepat saat itu ponselku berbunyi tanda panggilan masuk. Kulihat, ternyata dari nomor yang beberapa hari mengirimiku teror pesan. Bukannya kuangkat, aku justru segera memasukkan ke dalam tas.


"Kok nggak kamu angkat?" tanya Sita sembari menghabiskan es jeruk kesukaannya.


"Orang gila yang beberapa hari kirim pesan nggak jelas ke aku." cicitku.


"Pak Jhoni?" tanya Sita mengecilkan volume suaranya.


"Hahaha. Tega kamu ngatain dia orang gila. Bukaaaan, bukan dia. Ada satu nomor baru masuk. Dia merasa bahwa kekasihnya kurebut. Tapi aku bingung siapa kekasihnya karena dia sama sekali tidak menyebut nama." aku terbahak ketika mendengar Sita menyebut nama Pak Jhoni.


"Hahaha. Kukira dia. Lho kamu sekarang lagi dekat dengan siapa?"


"Nggak ada. Entah, aku merasa sedikit trauma dengan pernikahan. Lagipula lebih enak begini. Bebas kemana saja, berteman dengan siapa saja."


"Hmm... Masih di fase menyembuhkan luka mungkin dan belum mendapat yang se frekuensi. Karena secinta apapun, namun saat menjalaninya ternyata nggak sefrekuensi ya jadi nggak nyaman. Menurutku begitu sih. Mau dipaksakan ya jadinya nggak akan bagus."


"Nah iya mungkin seperti itu. Agak susah mencari yang sesuai karakterku."


"Kok tahu?" tanyaku penasaran.


"Iyalah tahu. Temanmu kan banyak laki-laki. Tapi aku yakin ya hanya sebatas teman. Karena kalau lebih, pasti sudah dari dulu."


Aku mengangguk mengiyakan. Kuakui, aku memang nyaman berteman dengan laki-laki, dan untungnya mereka bisa menghargaiku dan tidak pernah kurangajar sama sekali.


***


Tak terasa sudah hari minggu lagi. Aku dan Dewa sedang menghabiskan nasi goreng kornet kesukaan Dewa sambil menonton acara kartun di televisi saat gadis kecil berambut panjang masuk dan langsung memelukku.


"Bundanya Dewa, aku kangen..."


Kubalas pelukkannya, kubiarkan dia puas memelukku dan mengurainya sendiri.


"Dari mana kok sudah cantik?"


"Dari rumah mau kesini. Bunda masak apa? Dewa makan apa?"


"Makan nasi goreng kornet. Enak deh. Kamu mau?" Dewa menjawab dengan mulut penuh nasi goreng.


"Iya aku mau."


Aku menyuruhnya duduk sementara aku keluar kamar untuk mengambilkan nasi goreng yang masih ada di wajan di atas kompor.


"Mau teh Mas? Aku kehabisan kopi. Atau mau sarapan sekalian? Sepertinya cukup ini untukmu dan Ocha."


"Boleh deh kebetulan belum sarapan."


Kuulurkan sepiring nasi goreng dengan telor dadar dan kerupuk untuk lelaki bernama Mas Adit.


"Makasih." cicitnya.


"Tehnya kutaruh sini ya. Aku mau ngasih ini ke Ocha dulu."

__ADS_1


Aku melanjutkan makanku yang sempat tertunda tadi sambil sesekali menimpali cerita Dewa dan Ocha.


"Bunda, hari ini kita kemana? Pantai lagi?"


Aku terkejut mendengar pertanyaan gadis kecil di sampingku. Karena seingatku, semalam Mas Adit, papanya tidak berkata apapun apalagi mengajakku dan Dewa pergi lagi hari ini. Namun belum sempat aku menjawab, Mas Adit sudah menjawab dari depan pintu kamarku.


"Kita ke kebun binatang mau nggak anak-anak?"


Pertanyaannya langsung disambut dengan teriakan gembira oleh Ocha dan Dewa. Kalau sudah begini, aku hanya bisa mengikuti saja. Segera kusiapkan bekal untuk kami sementara Mas Adit membantu Dewa berganti baju.


Tak sampai setengah jam, kami sudah siap untuk berangkat ke kebun binatang. Kubawakan bekal kroket ragout dan donat. Semua buatanku semalam yang rencana untuk cemilanku dan Dewa seharian ini di kost.


Kebetulan kebun binatang hari ini tidak terlalu ramai pengunjung, mungkin karena kami datang agak pagi. Ocha dan Dewa berlarian antusias melihat berbagai binatang. Gelak tawa tak pernah sepi dari mulut kecil mereka.


Suara ponsel terdengar nyaring, ternyata ponsel Mas Adit. Dia segera mengangkatnya dengan satu tangan sementara tangan lainnya menggandeng Dewa.


"Aku lagi sibuk, nemenin anakku. Sudah jangan ganggu!!"


Aku melirik Mas Dewa yang menyudahi panggilan dan segera memasukkan ponselnya ke dalam kantung celana.


"Kalau mau telepon, anak-anak biar sama aku saja dulu, Mas."


"Nggak usah. Aku malas angkatnya juga. Cemburunya nggak beralasan."


"Pacarmu?"


"Iya."


"Dia tahu kamu pergi sama aku?"


"Nanti makin cemburu mending nggak usah tahu sekalian."


"Kenapa nggak ajak Ocha pergi sama dia aja?" tanyaku berbisik.


"Ocha tampak nggak nyaman sama dia. Lagipula mana dia mau." Mas Adit melirik Ocha yang berada dalam gendonganku.


"Belum dekat mungkin, Mas. Coba sering diajakin pergi."


"Tetap susah. Dulu kami sering pergi bareng, kok. Lagipula bersama wanita yang suka cemburu buta tuh nggak enak. Capek sendiri."


"Mbak Ida gimana?" pancingku sambil tersenyum menggoda.


"Terhalang restu. Adikku tahu masa lalunya, lalu berhasil mempengaruhi orangtuaku walau aku sudah berusaha meyakinkannya bahwa Ida sudah berubah jauh lebih baik."


Aku mengangguk paham. Kali ini aku tidak bertanya lagi, pikiranku melayang jauh tentang masa lalu kami. Namun lamunanku terganggu oleh jeritan ponselku tanda panggilan masuk. Sama seperti Mas Adit tadi, kugunakan satu tangan untuk mengambilnya karena satu lagi kugunakan untuk menggendong Ocha.


Mataku menyipit untuk bisa melihat nomor si penelepon karena terkena silau. Lagi-lagi dari nomor misterius, walau penasaran, namun entah kenapa aku tidak ada keinginan untuk mengangkat atau bahkan menerima ajakannya untuk bertemu. Bagiku hanya akan membuang waktu saja toh jelas dia salah orang karena saat ini aku tidak dekat dengan siapapun.


"Siapa, kok nggak diangkat?" tanya Mas Adit.


"Nggak tahu. Beberapa hari ini selalu menerorku dengan pesan nggak jelas."


"Sudah berapa lama memang?"


Aku terdiam berusaha mengingat sebentar.


"Hari minggu yang lalu saat kita ke pantai ternyata ada beberapa pesan dari nomor itu."


"Apa isinya? Mengancammu?"


"Menyuruhku menjauhi kekasihnya."


"Boleh kulihat nomor dan isi pesannya?"


"Ini Mas. Buka aja beberapa pesannya." Kuulurkan ponselku pada Mas Adit yang sedang menggendong Dewa.


Kulihat dia mengernyitkan dahinya setelah melihat pesan di ponselku.


Melihat reaksinya, tiba-tiba aku tersentak. Jangan-jangan si pengirim pesan adalah kekasih Mas Adit.

__ADS_1


__ADS_2