Janitra

Janitra
Bab 51


__ADS_3

Baru saja meletakkan tas, seorang wanita berdandan menor mendekatiku.


"Mas Rio kemana?"


Enggan langsung menjawab, kuambil segelas air putih yang selalu tersedia di meja dan meminumnya sampai habis.


"Di ruangannya, paling." jawabku acuh.


"Masa kamu pacarnya nggak tau?"


"Disini aku karyawannya."


"Ups sory, aku lupa. Kamu karyawan yang bermimpi tinggi untuk menjadi istri boss ya?"


Kuputar bola mata, jengah mendengar ucapan wanita bergincu merah menyala seperti habis makan ayam hidup.


"Ya sudah lah, coba biar kutelepon saja. Rencana nanti malam aku sama Mas Rio mau dinner." Tanpa berpamitan, Karin segera berlalu. Akupun bernafas lega.


"Huh, akhirnya... Ngejar Pak Rio banget sih. Nggak tau malu." Sita bersungut setelah Karin pergi lumayan jauh.


"Pak Rio kemana sih emang?" tanyaku pada Sita.


"Coba aja kamu tanya."


Saat hendak mengetik, sebuah pesan masuk.


[Dia udah pergi belum?]


Gegas kuketikkan sebuah balasan.


[Sudah. Dia udah telepon mas?]


[Iya. Tapi nggak kuangkat.]


Baru saja akan kubalas, Mas Rio tampak berjalan menuju arahku.


"Darimana? Kata Karin, mas nggak di ruangan tadi?"


"Iya, aku ngumpet di toilet sana."


"Pfft..." Sita menutup mulut menahan tawa.


"Sudah ah, saya ke ruangan dulu. Gerah juga lama-lama di toilet."


Seperti biasa, sore itu Mas Rio mengantarku menjemput Dewa.


"Dewa mau makan apa?" Mas Rio bertanya pada Dewa.


"Sate ayam aja pakai lontong. Boleh Om?"


"Boleh. Kebetulan om juga suka sate. Makan yang banyak ya?"


"Oke Om."


Mas Rio mengajak kami ke warung sate langganannya. Sementara dia memarkirkan mobilnya, aku memesan dua porsi sate ayam, satu porsi sate kambing dan satu porsi tongseng kambing tak lupa lontong dan nasi.


"Kamu daritadi diem saja, kenapa?"


Mas Rio bertanya dengan sedikit berbisik.


"Nggak apa-apa."


"Pasti ada apa-apa kalau jawabnya gitu. Ada apa?"


"Habis antar aku pulang nanti, kamu mau kemana?"


"Pulang. Kenapa? Mau ajak jalan?"


"Bukannya mau dinner sama Karin?"


"Hahahaha." Mas Rio tertawa seraya mengacak rambutku.


1...


2...


3...


4...


5...


Mas Rio tidak menjawabku, justru menghabiskan tongseng kambing kesukaannya ditutup dengan segelas jeruk nipis hangat.


"Kita pulang ya Dewa? Mau beli cemilan nggak?"


"Mau Om. Aku pengen beli roti bakar yang coklat keju. Boleh?"


"Boleh dong. Sebentar Om bayar dulu ya. Setelah itu kita beli roti bakar cokelat keju kesukaanmu."


"Asiiikkk. Makasih Om." Dewa mencium kedua pipi mas Rio.


Mas Rio menghentikan mobilnya di depan kosku lalu turun untuk membukakan pintu mobil.


"Selamat istirahat, anak manis. Besok om jemput ya." Ujar Mas Rio sembari menggendong Dewa.


"Iya Om. Makasih ya Om?"


"Sini, kugendong saja Mas. Sepertinya kamu lagi buru-buru."


Tanpa menunggu jawabannya, segera kuraih Dewa dan segera kubawa masuk.


Tring...


Sebuah pesan teks masuk.


[Kamu kenapa? Kalau ada masalah, dibicarakan jangan hanya diam. Sekarang kamu istirahat ya. Besok kita ngobrol pulang kerja.]


Tanpa membalasnya, kumatikan ponselku dan meletakkannya di samping kasur.

__ADS_1


Dewa sudah terlelap tapi mataku enggan terpejam sekalipun malam semakin larut. Perlahan kubuka pintu kamar, namun belum sepenuhnya terbuka, sebuah kepala melongok ke dalam.


"Na, belum tidur."


"Nadyaaaa..." ucapku gemas sambil mendorongnya keluar kamar.


"Kangen ya? Aku daritadi telpon kamu, tapi nggak aktif. Dewa udah tidur?"


"Oh iya tadi ponsel kumatikan. Udah, Dewa udah tidur. Tumben kamu kesini nggak ngabari dari kemarin?"


Bukan menjawab pertanyaanku, Nadya justru tertawa.


"Ngopi yuk, Na..."


"Boleh... Dimana?"


"Bukit bintang, mau? Eh tapi Dewa gimana?"


"Boleh. Sebentar, aku nitip Dewa ke temenku dulu. Kamu tunggu disini bentar ya Nad?"


Bergegas aku menuju kamar Santi karena tadi sempat mengobrol, malam ini dia di rumah jadi kemungkinan Dewa bisa kutitip padanya.


Aku kembali kamar setelah memastikan Santi berada di kos malam ini dan bisa menitipkan Dewa padanya. Kulihat Nadya keluar kamar dengan berjingkat.


"Dewa bangun, Nad?"


"Eh, nggak Na. Mmhh.. anu, aku barusan lihat Dewa tidur. Kangen."


Walau ada yang janggal dari sikap Nadya, namun aku enggan memperpanjang. Kuterima saja alasannya walau sedikit aneh, karena Nadya tidak dekat dengan Dewa.


"Jadi kan? Dewa sudah kutitip ke temanku. Biar nanti dia yang ngecek kesini."


"Jadi dong. Yuk."


Kusambar sebuah cardigan rajut yang tergantung di belakang pintu.


"Eh mobilmu mana Nad?"


Aku celingukan mencari keberadaan mobil Nadya di depan kost.


Belum sempat Nadya menjawab, sebuah mobil yang sangat familiar mendekati kami lalu si pengemudi membuka kacanya.


"Yuk..."


"Tapi... Nad, maksudnya apa?"


"Masuk dulu, Na. Ngobrol di dalam."


Tanpa memberiku kesempatan, Nadya mendorong tubuhku masuk mobil.


"Kamu kesini sama dia?" tanyaku pada Nadya.


"Maaf Na. Ini memang permintaannya. Tapi kamu jangan marah sama aku."


Kuhembuskan nafas dengan kasar. Tak kupedulikan lagi ucapan Nadya, karena aku memilih menatap suasana malam dari balik jendela.


Malam kian larut, kami sudah sampai ke sebuah warung di bukit bintang. Nadya memesankan tiga mi rebus, roti bakar, kopi panas, dan dua susu cokelat panas untuk kami. Kueratkan cardiganku, lalu kugosokkan kedua telapak tangan.


"Nggak apa. Sering-sering aja Nad." jawabku seraya tersenyum sinis.


"Na, kenapa nggak selesaikan saja urusan kalian. Biar sama-sama nggak ada beban untuk melangkah?"


"Sudah selesai kok Nad. Nggak ada lagi yang perlu dibahas."


"Belum, dek. Kita nggak akan pernah selesai."


"Apalagi a'? Aku sekarang hanya ingin hidup bahagia dengan Dewa. Itu saja. Tolong jangan ganggu aku lagi, a'."


"Kapan adek siap, kita menikah. Aa janji bahagiakan adek. Aa akan tebus semua kesalahan aa selama ini."


"Udah deh. Aku lagi capek banget. Jalani hidupmu sendiri, biarkan aku juga menjalani hidupku sendiri."


"Na, sory bukannya mau ikut campur. Tapi pernah nggak sih kalian tu ngomong dari hati ke hati. Apa yang kalian nggak sukai satu sama lain?"


"Udah nggak penting, Nad. Udah deh. Aku sama dia sekarang cuma berteman. Nggak lebih. Tutup buku kisah yang lalu, sekarang buka lembaran baru sebagai teman dan nggak akan lebih."


"Dek, tolong jawab pertanyaan aa dulu."


"Apa?"


"Selama kita bersama, pernah nggak sih adek sayang sama aa? Sedikit aja atau sebentar saja?"


Kuhirup susu cokelat hangat di hadapanku dengan perlahan sementara a'Ardi dan Nadya menatap penuh harap, menunggu jawabanku.


"Apa masih perlu kujawab? Apa pentingnya?"


"Jawab dek!"


"Untuk apa? Kita sudah selesai."


"Berarti benar selama ini kamu hanya anggap aku sebagai bayang-bayang a'Bayu. Nggak pernah sekalipun kamu anggap aku kan??"


Aku tersentak karena selama kami kenal, tidak pernah sekalipun a'Ardi menggunakan aku-kamu saat berbicara denganku.


"Bukan sebaliknya a? Aa yang selama ini nggak pernah anggap aku. Aa hanya anggap aku sebagai barang titipan a'Bayu yang harus aa jaga, tapi aa nggak pernah sekalipun cinta sama aku."


"Aku jatuh cinta sama kamu, justru saat kamu masih bersama a'Bayu. Saat a' Bayu masih hidup dan masih memilikimu sepenuhnya. Aku berusaha menekan perasaanku karena tahu, a'Bayu sayang kamu, seorang perempuan egois yang selalu memungkiri rasa cinta!!"


"Cinta tapi selingkuh? Cinta tapi meninggalkan tanpa pamit? Lalu datang tanpa rasa bersalah dan aku dengan bodohnya selalu mau menerimamu dengan tangan terbuka, membiarkanmu masuk kembali ke hidupku, mengisi hari-hariku sampai di titik jenuhmu, kamu pergi tanpa pamit, tanpa kabar dan membiarkanku menerka sendiri, menyalahkan diriku sendiri atas kepergianmu. Itu yang kamu maksud dengan cinta??"


"Lelaki mana yang sanggup bertahan dengan seorang wanita yang selama bersamanya terus mengingat mantan kekasihnya yang sudah meninggal? Walaupun a'Bayu kembaranku, namun ada sesak saat kamu sakit, saat kamu sedih, dia yang selalu kamu panggil. Apa artinya aku di hidupmu kalau bukan hanya sekedar menghidupkan imajinasimu tentang a'Bayu pada sosokku."


"Aku nggak seperti itu, a!!!"


Nadya merengkuhku dalam pelukannya sementara a'Ardi menyalakan rokok dan menghisapnya dalam-dalam.


"Sst...tenang Na. Sekarang jelas kan? Kalian hanya salah paham."


"Nad, aku sayang dia. Aku sayang banget sama dia. Berkali-kali dia nyakiti aku, aku tetep terima dia karena aku sayang dia dengan begitu bodohnya." lirih aku terisak dalam pelukan Nadya.

__ADS_1


"Bilang ke dia, Na. Jangan gengsi."


"Terlambat Nad. Kami sudah selesai."


"Tapi rasa sayang itu masih ada kan Na?"


Kugigit erat bibir bawahku. Pertanyaan Nadya sulit kujawab karena saat ini aku sudah bersama dengan Mas Rio.


"Dek..."


Kudengar a'Ardi memanggilku.


"Ya a'."


"Masih boleh nanya?"


"Ya a..."


"Selama kita bersama, dulu, kamu cinta aku?"


"Iya a..."


Kulihat a'Ardi menghela nafas panjang sebelum bertanga lagi.


"Bukan sekedar melihatku sebagai bayang-bayang a'Bayu?"


"Nggak a'... Walau dulu mungkin sempat itu yang kurasakan."


"Sejak kapan kamu cinta aku?"


"Nggak tau sejak kapan. Tapi yang jelas sejak aku sadar, gimanapun aa saat itu kekasihku, aku nggak mungkin bertahan pada sebuah cinta yang lain. Walau a'Bayu nggak akan pernah kembali lagi, tapi kalau rasa cintaku terus kupupuk dan tidak belajar mencintaimu, bukankah itu juga sebuah pengkhianatan?"


"Kapan kamu berhenti mencintaiku??"


Lagi-lagi kugigit erat bibir bawahku. Sebuah pertanyaan yang aku sendiri masih gamang.


"Kok diam? Masih ada cinta untukku??"


"A, kita sudah selesai lama, bahkan sebelum aku menikah dulu."


"Kamu kan yang anggap selesai??"


"Sudah a'.. jalani hidup kita masing-masing saja tanpa harus mempertanyakan perasaan."


"Kenapa? Terobsesi jadi istri bossmu?"


"Aa, cukup, a!! Tolong hargai mas Rio sebagai kekasihku saat ini. Nggak usah bahas terus tentang kita yang dulu!!!"


"Aa, Nala, kalian tenang dulu..." Nadya menyodorkan sebuah gelas berisi susu cokelat pada a'Ardi - belakangan aku tahu, itu gelas milikku.


A'Ardi menaruh kembali gelas tersebut setelah meneguknya sedikit. Lalu dia mendorong mangkok berisi mie rebus ke arahku.


"Makan."


Enggan berdebat, kusuapkan sesendok demi sesendok mie rebus yang sudah terasa dingin ke dalam mulutku. Begitu pula dengan Nadya. Kami makan dalam diam. Bukan karena menikmatinya, namun baik aku dan Nadya tau, bagaimana marahnya a'Ardi.


"Mau lagi?" A'Ardi menawariku.


"Nggak a', makasih. Sudah kenyang."


"Takut gendut dan Rio nggak suka lagi?"


Nadya menyentuh tanganku, seolah menenangkan agar tidak terpancing ucapan a'Ardi.


"Dek, lihat mataku!"


Ragu, namun tetap kutatap mata a'Ardi. Tak lama, lalu dia tersenyum.


"Kamu masih cinta aku, nggak usah bohong!"


"Cukup, a'!"


"Oke. Misal saat ini kamu belum ada Rio atau siapapun. Kalau kuajak nikah, kamu mau?"


Kucoba menelaah kemana arah pertanyaan a'Ardi sebelum menjawabnya.


"Kenapa diam, dek? Kan jelas pertanyaanku. Misal, andai, seumpama, kamu saat ini tidak ada yang memiliki, lalu aku melamarmu, kamu terima tidak?"


"Tetap akan kupikirkan dulu. Apa hubungan kita layak untuk dilanjutkan atau tidak."


"Dipikirkan dulu untung dan ruginya menikah denganku ya? Hahaha. Kalau masih mikir, mungkin itu bukan cinta. Cinta itu menggunakan rasa. Oke kalau katamu realistis. Tapi kuyakin yang kamu pikirkan bukan kehidupan setelah menikah dan punya anak. Karena kamu tau, aku punya penghasilan yang cukup untuk menghidupimu dengan layak. Oh, aku tau! Mungkin kamu mikir, apakah jika menikah denganku, kamu masih bisa tebar pesona dengan laki-laki lain?"


Dua butir airmata mengalir tanpa mampu kutahan.


"Cukup a'. Mau sampai kapan aa nyakitin aku?? Aku nggak serendah itu, a'!!"


Kusambar dompet di atas meja lalu aku berdiri hendak berlalu dari tempat itu. Namun aku kalah cepat. A'Ardi menahan tanganku.


"Kuantar!!"


Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan sama sekali. A'Ardi menambah kecepatan laju kendaraannya.


"A'a... Tolong jangan ngebut."


Kupegang tangannya seperti dulu jika kami bertengkar di mobil. Berhasil. A'Ardi menurunkan kecepatannya, lalu menghentikannya di bahu jalan.


"Boleh aa peluk adek sekali saja?"


Kulirik Nadya yang duduk di jok belakang.


"Boleh dek?" A'Ardi menuntut jawabanku. Kuiyakan dengan anggukan.


A'Ardi memelukku dengan erat.


"Maaf kalau aa kasar. Aa takut kehilangan adek. Aa hanya tidak tahu gimana caranya agar adek tidak pergi. Jangan pergi, dek. Aa janji akan bahagiakan adek."


"Tolong beri waktu, a'. Kalau kita jodoh, kita pasti bersatu.."


A'Ardi mengurai pelukan dan mencium keningku sebelum melajukan kembali kendaraannya.

__ADS_1


Jarum jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Setelah berterima kasih pada Santi yang tertidur di samping Dewa, segera kubersihkan diri dan merebahkan tubuh di sebelah jagoan kecilku. Kucium kedua pipinya, kubisikkan sebuah afirmasi positive pada telinganya.


Kulangitkan doa agar kelak kesuksesan, kebahagiaan dan kesehatan selalu menyertainya.


__ADS_2