Janitra

Janitra
Bab 27


__ADS_3

Hari itu kebetulan aku bisa pulang tepat waktu dan langsung menjemput Dewa. Sesampainya disana ternyata bersamaan dengan beberapa orangtua yang juga menjemput anaknya.


"Nala, lama banget ya kita nggak ketemu." Mbak Wanti menempelkan pipinya pada pipiku.


Begitu juga dengan beberapa yang lain. Obrolanpun berlanjut.


"Lama nih nggak masak-masak bareng."


"Iya.. kapan nih?" tanyaku balik menimpali.


"Sekarang aja mau nggak? Tapi di rumah siapa yang dapurnya luas."


"Rumahku boleh." aku menawarkan karena kebetulan hari ini rumahku kosong. Danang, ibu dan kakaknya sedang pulang ke desa untuk menghadiri pernikahan saudaranya.


Saat kami bersiap akan berangkat ke rumahku, Mas Aditya datang.


"Wih Papa Ocha tumben telat jemput. Mau ikut nggak nih? Kita mau ke rumah Dewa, pengen masak-masak."


"Boleh lah kebetulan aku senggang hari ini."


"Nah nanti kan kita masak, Papa Ocha bisa jagain anak-anak main." kata Mbak Wanti sambil tertawa. Kebetulan aku mengenal Mas Aditya sudah cukup lama, sejak aku duduk di bangku SMA dan Mas Aditya bekerja di salah satu klab malam. Lalu kami bertemu kembali di sekolah ini setelah cukup lama putus kontak.


Sesampainya di rumah, aku dan Mbak Wanti memotong buah-buahan untuk membuat es. Tika, dan Puji membersihkan ikan dan ayam yang kami beli dekat sekolah tadi. Rencana kami akan membuat ayam bakar, ikan bakar dan sup buah. Sementara Mas Aditya mengajak anak-anak bermain di halaman depan. Aku bahagia melihat Dewa tertawa senang bermain dengan teman-temannya. Berharap Dewa melupakan kejadian buruk yang dilakukan oleh Danang.


Kami sibuk mempersiapkan makan malam bersama sambil mengobrol dan bersenda gurau. Aku lumayan bisa melupakan masalah yang sedang kuhadapi.


Saat sedang asyik, aku dikejutkan oleh suara Danang yang tiba-tiba pulang.


"Suami pergi, kamu asyik-asyikan bawa masuk laki-laki ke rumah!!"


Aku segera menghampirinya.


"Jangan teriak-teriak, nggak enak didengar orang. Lagian siapa yang bawa masuk laki-laki. Itu Papanya Ocha, teman sekolah Dewa. Daritadi dia di luar, nggak masuk rumah." aku berbicara dengan pelan, dengan harapan Danang juga akan memelankan suaranya.


Namun bukan memelankan suaranya, Danang justru menarik rambutku dengan keras. Aku meronta, berusaha melepaskan diri dan berlari keluar rumah. Namun belum sampai luar rumah, sebuah helm dilempar Danang dan tepat mengenai keningku. Kepalaku langsung terasa sakit dan pandanganku gelap. Tertatih aku berjalan berpegangan dinding. Kudengar deru mobil Mas Aditya yang membawa Dewa dan teman-temannya pergi agar mereka tidak melihat aksi Danang. Tak lama kemudian Danang juga pergi dengan motornya entah kemana.


Mbak Wanti, Tika dan Puji menghampiriku. Tanpa banyak bicara, mereka memelukku. Memang saat ini yang kubutuhkan hanya sebuah pelukan.


Acara malam itu terpaksa pindah ke rumah Tika. Dewa kubiarkan ikut sementara aku tetap di rumah. Untunglah malam itu Danang tidak pulang, jadi aku dan Dewa bisa tidur dengan nyenyak tanpa ada rasa khawatir dan takut Danang akan memukuliku lagi.


Keesokan harinya saat aku mengantar Dewa, Mbak Wanti memanggilku dan mengajakku sarapan di warung soto depan sekolah.


"Na, maaf bukan aku ikut campur, tapi apa nggak sebaiknya kamu bahas tentang suamimu ke keluarga besar?"


"Aku memang mau cerai, Mbak. Walau tidak ada satupun keluarga yang mendukung. Mereka sudah termakan ucapan Danang bahwa aku yang berselingkuh."

__ADS_1


"Lalu rencanamu bagaimana?"


"Mau keluar dulu dari rumah itu. Tunggu gajian dulu, Mbak."


"Rencana mau tinggal dimana dengan Dewa?"


"Nah itu belum tahu mbak. Aku mungkinau cari kost satu kamar untuk kutempati bersama Dewa. Sambil cari informasi untuk mengajukan gugatan cerai pada Danang."


Mbak Wanti mengangguk paham. Setelah menghabiskan soto, aku berpamitan pada Mbak Wanti karena harus segera berangkat kerja.


Malamnya Danang pulang saat Dewa baru saja terlelap. Sebelum gedoran pintu Danang membangunkan Dewa, aku bergegas membukakan pintu. Hanya membukakan pintu lalu buru-buru kembali ke kamar. Namun gerakan Danang lebih cepat. Dia menarik rambutku.


"Semalam laki-laki mana yang kamu masukkan ke rumah ini?"


"Nggak ada." jawabku singkat.


Plak...


"Nggak usah bohong, kamu!!"


"Terserah kamu mau percaya atau enggak. Lepasin aku! dan satu hal lagi, kalau kamu tidak mau menceraikan aku, maka aku yang akan menceraikan kamu!!"


Plak...


Lalu sebuah tamparan, tendangan, makian dilayangkan Danang padaku.


"Tolong aku. Tolong carikan satu kamar kost malam ini segera dan kirimkan jasa angkut ke rumahku. Aku mohon. Urgent!"


Tak perlu menunggu lama, aku mendapat balasan pesan.


"Kamu baik-baik saja? Kucarikan segera. Tunggu aku berkabar, bertahan ya."


Ada secercah harapan. Setidaknya jika malam ini Danang kalut dan aku kenapa-napa, ada seseorang yang tahu kondisiku dan bisa menolong Dewa.


Kulihat Danang sedang sibuk menghubungi Pakdhe Nug dan membuat cerita palsu. Aku menyelinap ke kamar dan mengeluarkan tas besar untuk mengisinya dengan pakaianku dan Dewa.


Baru saja aku selesai memasukkan pakaianku, sebuah mobil pick up berhenti tepat depan rumah. Sebelum Danang menyadarinya, aku segera berlari keluar menghampiri sopir dan beberapa orang yang berada di mobil itu.


"Mbak, saya Pardi. Saya dan teman-teman disuruh sama seseorang untuk membantu mbak pindahan."


Aku mengangguk dan segera membukakan pintu.


"Saya tidak membawa banyak, Pak. Hanya 1 lemari kayu, 1 lemari container, 1 kasur, tv, tas isi pakaian, dus isi mainan, meja tv dan dispenser. Itu saja, Pak."


Danang yang masih menelpon di ruang makan tampak terkejut melihatku masuk bersama dengan Pak Pardi dan teman-temannya.

__ADS_1


"Ada apa ini? Siapa mereka?"


"Aku mau pergi. Aku sudah cukup lelah kamu jadikan samsak untuk pelampiasan emosimu." jawabku dengan nada datar.


Jujur aku sedikit merasa tenang karena ada keberadaan Pak Pardi dan teman-temannya.


Danang segera mematikan panggilannya.


"Aku nggak akan biarkan kamu pergi."


"Karena kamu belum puas sakiti aku atau karena kamu takut hidup susah tanpa uangku dan bantuan dari keluargaku?" jawabku sinis.


Danang menghubungi seseorang menggunakan ponselnya.


"Pa, saya sudah tidak sanggup menghadapi Nala. Ini Nala mau minggat dari rumah bersama pacarnya."


Lalu panggilan di speaker.


"Pa, aku pergi bukan dengan siapapun. Aku pergi hanya dengan Dewa. Niatku hanya menyelamatkan nyawaku dan masa depan anakku. Sebelum aku mati konyol di tangan Danang dan sebelum masa depan Dewa rusak karena melihat perlakuan kasar bapaknya padaku. Aku harap Papa bisa mengerti. Kalau Papa tidak peduli denganku, nggak apa. Tapi setidaknya jangan coba menghalangi langkahku. Maaf kalau Nala selalu mengecewakan Papa."


Selesai berkata begitu, aku bergegas ke kamar menggendong Dewa karena Pak Pardi akan segera membawa kasurnya.


Danang lari mencoba merebut Dewa yang masih terlelap dalan gendonganku.


"Jangan bawa Dewa!!"


"Aku akan selalu membawa Dewa kemanapun aku pergi."


Danang tetap berusaha mengambil Dewa. Namun aku selalu menghalanginya sampai sebuah sundutan rokok mengenai dadaku yang sengaja dilakukan oleh Danang. Untungnya aku terlatih merasakan perih di sepanjang hidupku jadi tetap kuabaikan dan berlari keluar rumah membawa Dewa. Danang mengejarku namun segera ditahan oleh teman-teman Pak Pardi. Sementara Pak Pardi mengambil Dewa dari gendonganku untuk ditidurkan sementara di mobilnya.


Ciut juga nyali seorang Danang yang memang seorang pengecut melihat beberapa pria dengan wajah tak bersahabat menghadangnya.


Aku mengambil kesempatan itu untuk segera naik ke mobil dan memangku Dewa.


Aku menatap sekali lagi rumah peninggalan eyang yang beberapa bulan terakhir ini kutempati bersama Danang, dan Dewandaru, anak laki-lakiku semata wayang.


"Berangkat sekarang, Bu?"


Suara Pak Pardi, sopir jasa angkutan barang membuyarkan lamunanku. Aku mengangguk pelan. Karena aku takut jika aku menjawab, bukan kalimat yang keluar namun justru tangisanku yang mengalir.


Kupeluk erat Dewa yang tertidur dalam gendonganku ketika perlahan mobil pickup melaju meninggalkan rumah penuh kenangan itu. Sesekali aku melirik ke spion, memastikan Danang tidak mengikutiku.


"Aman kok Bu.. Saya yakin dia nggak ikutin kita." Ucap Pak Pardi, seolah mengerti kekhawatiranku.


"Iya Pak. Terima kasih ya, Pak."

__ADS_1


Aku kembali memandang jalanan di depanku. Lengang. Sepi. Jarum jam di pergelangan tanganku menunjukkan pukul setengah satu dini hari. Sebenarnya bukan waktu yang tepat untuk pindahan apalagi hanya aku dan Dewa. Ah, aku kan bukan pindahan, tapi melarikan diri. Menyelamatkan masa depan anakku, agar tidak mengikuti jejak ayahnya.


__ADS_2