
Setelah mobil Mas Adit tampak menjauh, kulangkahkan kaki ke dalam.
"Jam segini pulang diantar laki-laki. Darimana kamu?"
Kubalikkan tubuhku saat mendengar suara yang dulu akrab di telingaku.
"Iya aku tadi ada sedikit urusan." jawabku lirih.
"Urusan jam segini?" tanyanya seraya memicingkan mata mencari kejujuran pada jawabanku.
Aku melengos dan melanjutkan langkahku untuk masuk ke kos.
"Na, aku mau ngomong sama kamu."
"Masuk saja. Ngobrol di dalam. Kubuatkan teh."
Kami berjalan dalam diam. Kebetulan suasana kos sepi, jadi aku tak perlu berbasa-basi pada teman-teman kos. Sesampainya di depan kamar, kupersilahkan duduk di kursi yang memang tersedia sementara aku memanaskan air dalam panci kecil.
"Mau susu cokelat atau teh?"
Sesuai tebakanku, dia meminta secangkir susu cokelat hangat.
"Jadi, apa yang mau kamu bicarakan?"
"Hubungan kita."
"Hubungan yang mana?"
"Ya hubungan kita ini."
"Sudah berakhir lama, lama sekali malah."
"Aku nggak pernah merasa kita putus. Sesuai janjiku, aku akan menjadikanmu istriku."
"Sudah dong. Aku capek. Capek banget malah. Hubungan kita tuh nggak bisa lagi dipertahankan. Lebih baik jalani hidup masing-masing, cari kebahagiaan masing-masing. Kita masih bisa kok jadi teman. Support satu sama lain. Tapi kalau untuk lebih dari sekedar teman, sepertinya tidak."
"Aku akan buktikan, bahwa hanya aku yang pantas menjadi suamimu kelak."
Aku mengedikkan bahu mendengar ucapannya. Dia meneguk habis susu cokelat hangat kesukaannya lalu lelaki yang kupanggil a'a dan pernah mengisi hatiku itu pergi tanpa berpamitan.
Tring...
Sebuah pesan baru masuk ke gawaiku.
[Mantanmu ya?] Ternyata dari Mas Adit.
[Kok tau?]
[Kamu lupa? CCTV ku banyak disitu. Hahaha.]
Aku tersenyum membaca pesannya.
[Udah pulang kok barusan.]
[Iya aku juga tahu, dia barusan pulang. Kalau masih sayang jangan gengsi. Siapa tau masih bisa diperbaiki sama-sama.]
[Entah Mas. Aku bingung. Udah banyak aku kecewa sama dia.]
[Ya sudah tidur dulu saja. Siapa tahu besok bisa berpikir jernih. Walau ini tentang perasaan, tapi untuk mengambil keputusan, kamu juga butuh pikiran yang jernih kan?]
__ADS_1
[Huum. Aku istirahat dulu, Mas. Makasih ya Mas. Kamu juga istirahat. Met malam.]
Kunonaktifkan ponselku dan kusambungkan pada kabel pengisi daya.
***
Sejak pertemuanku dengan Mas Gibran waktu itu, kesibukanku bertambah. Pagi bekerja di kantor, malam mengisi live music di cafe. Rasa lelah sirna tatkala melihat isi dompet yang mulai menebal. Persetan dengan omongan miring orang, toh aku murni bekerja, mencari uang dengan cara halal.
Siang itu, aku dan Sita baru saja membereskan meja karena kami berencana makan siang bersama di sebuah rumah makan padang langganan kami saat Ghani menghampiri.
"Nala ada yang cariin."
"Siapa?"
"Bapak-bapak. Aku kayaknya pernah lihat tapi dimana ya." Ghani berusaha mengingat-ingat.
Aku ditemani Sita segera menuju lobby kantor.
"Ada apa lagi Pak?"
"Nala, saya serius ingin melamarmu."
"Tanpa mengurangi rasa hormat, saya tidak bisa menerima lamaran Bapak. Saya sedang menikmati kesendirian saya. Lagipula sepertinya kita tidak sefrekuensi deh Pak."
"Tidak perlu sefrekuensi, Nala. Kamu perempuan, istri, jadi wajib menaati semua aturan dan ucapan saya. Jika kamu ikhlas, tidak sefrekuensipun juga kita tetap akan rukun dan kamu akan beroleh surga." ucapnya dengan menggebu.
"Mohon maaf, cari saja perempuan lain, Pak. Karena saya bukan tipe perempuan yang bisa nurut-nurut saja."
Baru saja hendak kutarik tangan Sita untuk segera keluar dari ruangan ini, Pak Rio mendekati kami.
"Pak Jhoni... Bagaimana kabarnya? Wah ada apa nih sampai menyempatkan diri untuk berkunjung ke kantor kami tanpa janji sebelumnya." Pak Rio menyapa Pak Jhoni dengan sangat ramah.
"Urusan pekerjaan? Sepertinya yang menangani proyek dari kantor bapak tu Bu Sita ya bukan Bu Nala?"
"Oh iya. Sudah selesai dan kami puas dengan hasilnya. Namun ini urusan lain kok Pak."
"Bunga untuk Nala?" Pak Rio memicingkan mata melihat bunga yang sedari tadi dipegang oleh Pak Jhoni.
"Oh iya Pak, ini untuk Nala."
"Kalau bukan urusan pekerjaan sebaiknya tidak kesini ya Pak. Lagipula sebentar lagi saya dan Nala akan segera meresmikan hubungan kami." Pak Rio berkata dengan penuh percaya diri.
Kulihat wajah Pak Jhoni memerah, entah menahan malu atau amarah, lalu tanpa berpamitan dia segera pergi dari hadapan kami.
Aku masih terpaku, bingung harus berucap apa pada Pak Rio yang saat ini menatapku dengan tatapan yang tak dapat kuterka artinya.
"Pak, saya dan Nala permisi mau makan dulu."
Untunglah Sita berinisiatif mengajakku pergi.
"Ohya, silahkan." jawab Pak Rio namun dengan tatapan tetap mengarah padaku.
"Saya permisi dulu, Pak." ucapku lirih.
Pak Rio mengangguk sambil tersenyum tipis.
Kutarik nafas lega karena kemungkinan aku akan terbebas dari rayuan Pak Jhoni walau sepertinya, aku harus menghadapi Pak Rio. Setitik harapku, Pak Rio mengatakan hal tadi hanya agar Pak Jhoni tidak lagi mengejarku.
***
__ADS_1
Sejak hari itu, Pak Jhoni tidak lagi menghubungiku. Namun sikap Pak Rio tampak semakin aneh. Beberapa kali kupergoki beliau menatapku. Tak jarang juga Pak Rio sengaja datang lebih awal hanya untuk sarapan bersamaku. Namun bagiku selama sikap Pak Rio tidak berlebihan, aku juga tetap akan bersikap biasa saja. Toh hubunganku hanya sebatas atasan dan bawahan.
"Na, belum sarapan kan? Kubawakan bubur ayam langgananku."
Pak Rio meletakkan dua buah plastik berwarna putih yang masing-masing isinya dua porsi bubur ayam lengkap dengan sate telur puyuh, sate ati ayam dan ekstra kerupuk. Satu plastik lagi berisi dua jeruk hangat.
"Ini baru mau sarapan, Pak. Saya bekal nasi goreng kok."
"Kamu yang masak?"
"Iya Pak. Kebetulan anak saya minta dibuatkan nasi goreng."
"Wah kebetulan juga dong. Saya suka nasi goreng. Sini biar saya makan. Kamu makan bubur yang saya belikan saja."
Tanpa menunggu jawaban, Pak Rio mengambil tempat makanku yang berisi nasi goreng sosis dan irisan telor dadar dan meletakkan bubur ayam dalam kemasan sterofoam di hadapanku.
"Kamu harus coba, ini bubur ayam langgananku." katanya sambil membuka tempat makan dan memasukkan sesendok nasi goreng buatanku ke mulutnya.
"Ya Pak, terima kasih traktirannya."
"Wih nasi goreng buatanmu enak, Nala. Saya nggak keberatan kalau setiap pagi kamu buatkan ini."
"Terima kasih pujiannya, Pak. Tapi apa nggak bosan setiap hari nasi goreng terus?"
"Saya bukan orang yang mudah bosan akan sesuatu yang saya sukai." jawabnya dengan menatapku tajam.
"Buburnya enak ya Pak. Beli dimana sih? Kapan-kapan saya pengen ajak anak saya sarapan bubur ini."
Aku menunduk menghindari tatapannya dan berusaha mengalihkan pembicaraan karena sepertinya tadi bukan sekedar pembahasan tentang nasi goreng semata. Ada makna yang tersirat di balik kalimatnya.
"Kapan-kapan saya ajak kamu dan Dewa sarapan disana. Saya rindu juga dengan Dewa."
Aku mengangguk dan terus melanjutkan suapan demi suapan. Begitupula dengan Pak Rio. Kami berdua menghabiskan sarapan dalam diam.
"Terima kasih nasi gorengnya, Nala." Pak Rio mengulurkan kotak makanku.
"Saya juga terima kasih banyak bubur ayamnya, Pak."
"Itu satu lagi bawa saja. Kasih saja ke Sita kalau dia mau. Saya ke ruangan dulu."
"Baik Pak."
Kutatap punggung pria yang sebenarnya sedikit ada kemiripan dengan seseorang di masa laluku. Kugelengkan kepalaku untuk menepis sekelebat kenangan yang tiba-tiba hadir tanpa kuundang.
"Na, pagi-pagi udah ngelamun." Sita menepuk pundakku.
"Dih siapa yang ngelamun?"
"Liatin Pak Rio ya? Ganteng kan? Kalau dia ngelamar kamu, terima aja Na. Kayaknya baik dan bisa nerima Dewa. Sst... kaya lagi." Sita berbisik.
"Apaan sih. Nih sarapan dulu biar nggak ngelantur omonganmu. Aku sama Pak Rio bagaikan langit dan bumi. Beda kasta jauh."
"Nggak usah bahas kasta. Kalau cinta mah nggak peduli kasta."
"Masih pengen menikmati kesendirian. Nikmat aja nggak ada yang ngelarang, nggak ada nanya lagi dimana, mau kemana aja bebas, mau berteman dengan siapapun bebas."
Sita melirikku tersenyum penuh arti. Kualihkan pandangan ke layar monitor di depanku.
Bagiku saat ini adalah fokus pada kebahagiaan dan masa depan Dewa. Cinta bisa hadir kapanpun dan pada siapapun namun mencari yang cocok dan bisa saling memberi kenyamanan itu sulit.
__ADS_1