
Sejak kejadian hari itu, aku semakin protektif pada Dewa. Tidak hanya aku, ternyata Dewa juga mengalami trauma. Berkali dia meminta untuk tidak ke sekolahnya lagi.
"Bunda, aku nggak mau sekolah. Nanti ayah ambil aku lagi."
"Iya, hari ini Dewa libur kok, Nak. Memang kenapa kok Dewa nggak mau ketemu ayah lagi?"
"Ayah nyuruh mukul Bunda kalau Bunda nggak kasih makan atau nggak kasih susu." katanya takut-takut.
Aku menarik napas panjang, dadaku terasa sangat sesak mendengarnya. Entah terbuat dari apa hati dan pikiran Danang sampai tega meracuni pikiran anak sekecil Dewa.
Kuraih tubuh Dewa ke dalam pelukanku.
Hari ini aku menbawa Dewa ke kantor dengan izin Pak Rio. Tanpa aku bercerita pada teman-teman kantor, mereka sepertinya sudah dapat menebak apa yang sedang terjadi saat ini.
"Dewa sudah mau pulang?" Pak Rio berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Dewa.
"Sudah Om..."
"Anak pintar. Besok kesini lagi ya, temani Bunda kerja biar Bunda makin semangat."
Aku melirik Pak Rio, dan ternyata Pak Rio juga sedang menatapku.
"Mm.. besok mungkin Dewa saya titipkan di penitipan anak, Pak."
"Full day kemarin?"
"Bukan. Ini rencana saya mau mencarinya, Pak."
"Sekarang?" tanya Pak Rio menegaskan sambil melirik ke jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Aku mengangguk ragu setelah melihat jam di dinding kantor menunjukkan pukul 17.10.
"Bawa kesini saja dulu. Toh Dewa juga tidak merepotkanmu. Saya tidak keberatan ada Dewa. Justru seperti ada semangat baru."
"Terima kasih banyak, Pak." ucapku bersungguh-sungguh.
Pak Rio kembali menatap Dewa.
"Dewa suka ayam goreng nggak?"
"Sukaaaa..." Dewa mengangguk menggemaskan.
"Habis ini kita makan ayam goreng, mau?"
"Mau..mau...mau..." jawab Dewa bersemangat.
Pak Rio berdiri mendekatiku.
"Kita makan malam dulu ya. Pulangnya biar saya antar, kamu tidak bawa kendaraan kan?"
"Tapi, Pak..."
"Tolong jangan tolak, Nala. Jangan kecewakan Dewa. Juga saya."
Aku menghembuskan nafas kasar.
"Baiklah. Sekali ini saja."
"Sekali di hari ini. Esok entah." Pak Rio tersenyum manis.
Aku mengambil tasku, namun saat hendak mengambil tas berisi keperluan Dewa, Pak Rio telah mendahului.
"Biar kubawakan."
"Nanti merepotkan. Biar saya saja."
"Dewa, ayo Om gendong. Kita makan ayam goreng. Horeeee..." Pak Rio menggendong Dewa lalu berputar-putar seperti seorang anak kecil yang senang mendapatkan barang yang diinginkannya. Dewa pun tertawa bahagia dalam gendongan Pak Rio, lalu mengalungkan lengannya di leher Pak Rio.
Aku membuang muka, menahan airmata yang hampir jatuh. Sebuah pemandangan yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Tampak binar bahagia terpancar dari mata Dewa.
"Yuk..." Pak Rio menggandeng tanganku. Aku berusaha melepaskannya namun percuma.
__ADS_1
Aku mendengus kesal.
Pak Dewa membawa kami ke sebuah restoran waralaba ayam goreng terkenal yang didirikan oleh Ray Kroc pada tahun 1955.
"Mbak, pesan paket yang ada mainannya ya. Pesan tiga untuk makan disini, lalu kentang goreng ukuran besar dua juga untuk makan disini. Ohya untuk dibungkus juga paket yang ada mainannya juga ya mbak, dua saja, burger dua, kentang dua juga."
Aku melotot mendengar pesanan sebanyak itu.
"Jangan melotot, kayak kunti. Hahaha."
"Sereman juga aku. Pak, aku makan seporsi saja berdua sama Dewa. Banyak banget itu, Pak."
"Biar Dewa banyak makan. Biar kuat, bisa bela Bunda kalau Bunda dinakalin orang ya.."
Bukan menjawab pertanyaanku, Pak Rio justru berbicara dengan Dewa yang masih dalam gendongannya.
"Iya, nanti kalau bapakku mukul Bunda lagi, aku bisa belain Bunda. Kupukul lagi sampai dia minta maaf ke Bunda." jawab Dewa sambil memperagakan gerakan tangannya seolah memukul.
Tak menyangka mendapat jawaban seperti itu, Pak Rio menatapku dalam, berharap mendapat jawaban dariku.
"Dewa, disana ada tempat bermain. Ada teman-teman juga. Mau main dulu? Nanti kalau makanannya sudah siap, Bunda panggil."
"Mau..." Matanya berbinar, tak sabar turun dari gendongan Pak Rio. Namun Dewa berbalik lagi.
"Bunda, nggak ada Bapak kan? Nanti kalau Bapak datang mau ambil Dewa, Bunda nggak kasih kan?"
"Nggak ada, sayang. Bunda nggak akan biarkan siapapun bawa Dewa dari Bunda." Aku memeluk Dewa erat, meyakinkannya bahwa aku akan selalu menjaganya.
"Dewa percaya Bunda. Makasih Bunda. Lagian ada Om Rio juga kan. Pasti Om Rio belain kita. Ya kan Om?"
Pak Rio yang sedari tadi memperhatikan kami langsung mengangguk. Melihat Pak Rio mengangguk, Dewa kembali ceria dan berlari ke tempat bermain yang disediakan di sudut restoran. Untung sedang sepi pengunjung, jadi kami tidak dijadikan pusat perhatian walau aku yakin tetap ada yang mendengar percakapan tadi.
"Na, udah jadi nih. Mau duduk dimana kita?" Pak Rio membuyarkan lamunanku.
"Sini biar kubawa, Pak."
"Sudah biar aku saja. Kamu jalan di depanku, cari tempat yang nyaman dan bisa mengawasi Dewa."
Aku menurutinya dan memilih tempat tidak jauh dari sudut bermain. Melihat kami, Dewa segera menghampiri.
"Ayok jagoan, cuci tangan sama Om ya."
Tanpa menunggu jawaban, Pak Rio menggendong Dewa mengajak ke tempat cuci tangan.
"Bunda sekarang yang cuci tangan. Aku makan duluan sama Om ya Bun."
"Ya.. bentar ya, Bunda cuci tangan dulu."
Dari kejauhan kuperhatikan, Pak Dewa menyiapkan ayam dan nasi milik Dewa. Jika ada orang yang memperhatikan, pasti akan mengira mereka adalah bapak dan anak.
Dewa tampak asyik menikmati makanan di depannya saat aku kembali ke meja. Sementara Pak Rio sesekali membantunya.
"Biar sama saya, Pak. Bapak makan dulu saja."
"Kamu saja dulu. Saya belum lapar."
"Ya sudah kita makan nanti saja setelah Dewa menyelesaikan makannya."
Pak Rio mengangguk setuju.
Setelah menyelesaikan suapan terakhir dan cuci tangan, Dewa berpamitan untuk kembali bermain.
"Pak, nggak dicari orang rumah?"
"Nggak." jawabnya singkat.
"Pak, kenapa seperti ini?"
"Seperti apa Nala? Mau ganti menu lain? Sebentar saya orderkan. Mau apa?"
"Ish, bukan itu, Pak..."
__ADS_1
"Lha apa dong? Kamu nanya tadi sambil menunduk melihat makananmu. Wajar dong kukira kamu tidak menyukainya."
"Sikap Bapak ke saya dan Dewa terlalu berlebihan, Pak. Saya takut, Dewa berharap macam-macam."
"Saya sayang Dewa sejak pertama saya melihatnya."
"Terima kasih, Pak. Tapi....."
Belum selesai aku berkata, Pak Rio memegang tanganku.
"Sudah, makan saja dulu. Nikmati momen ini. Sesekali biarkan Dewa bahagia."
"Pak, saya masih berstatus istri orang."
"Kapan mau ajukan gugatan? Rencana maju sendiri atau bantuan pengacara?"
"Saya nggak berduit, Pak. Maju sendiri saja."
"Semoga segera selesai, jadi kamu tidak terbebani dengan statusmu kalau saya ajak jalan lagi."
"Pak..."
"Yuk makan. Ini kesukaan saya lho. Diantara semua yang sejenis ini."
Lagi-lagi pak Rio memotong ucapanku.
Diam-diam kuamati Pak Rio yang sedang menikmati sepotong ayam goreng di tangannya. Selama menjadi bawahannya, tidak pernah aku memperhatikannya seperti saat ini. Dengan alis tebal, tatapan mata tajam, hidung mancung, kulit sawo matang, dan tinggi sekitar 180cm. Walau tidak pernah aku tahu status pernikahannya, namun aku yakin Pak Rio sudah ada yang memiliki. Kalaupun saat ini beliau baik padaku dan Dewa, ya hanya sebatas perbuatan baik saja, tidak lebih.
"Sudah belum mengamati saya? Buka mulutmu."
Aku tergagap spontan membuka mulut. Tanpa basa basi Pak Rio memasukkan nasi dan ayam ke dalam mulutku.
"Pak, apa sih."
"Disuruh makan kok malah melamun lihatin saya. Iya, saya tahu saya ganteng. Tapi mengamati saya tidak bisa membuat kamu jadi kenyang. Sekarang makan dulu, sambil mengamati saya juga boleh kok." katanya dengan senyum terkulum.
"Ih GR banget sih." aku bersungut lalu segera memulai makan.
"Na, suka denger musik nggak?" tanyanya di sela-sela makan.
"Suka, Pak."
"Kapan-kapan karaokean yuk."
"Nggak janji Pak.."
"Sama teman-teman kantor kok... Ya?"
"Tetep nggak janji." jawabku tersenyum.
"Ya sudah. Tapi kalau live music mau kan?" tanyanya lagi.
"Pantang mundur sekali pak boss ini. Hahaha."
"Aku sering dengar kamu nyanyi. Pengen aja denger kamu nyanyi lagi."
"Hahaha. Maaf ya pak, sering jadi polusi suara di kantor."
"Aku suka dengernya."
"Makasih, Pak..." jawabku tersipu.
"Lain kali kita ke rumah makan yang ada live musicnya ya?"
"Oke.. lain kali ya. Kapan-kapan."
"Hmm.. kapan-kapan yang entah kapan kan?" tatapannya tampak kecewa mendengar jawabanku.
Tanpa berkata lagi, Pak Rio berlalu untuk mencuci tangannya. Namun tidak kembali ke meja, beliau justru menemani Dewa bermain.
Aku mengamatinya dari kejauhan. Lalu tanpa sadar, sebuah doa kulantunkan dalam hati, "Tuhan, jika masih Kau ijinkan, aku mohon ijinkanku dan Dewa bahagia. Kirimkan seorang laki-laki yang tulus mencintaiku dan Dewa, bisa menerima kami apa adanya dan mau bertanggung jawab penuh atas kehidupan kami. Aku ingin di sisa usiaku, hidup bersama seseorang yang tulus mencintaiku."
__ADS_1
Mohon maaf lama tidak update karena ada suatu hal di real life yang tidak bisa saya tinggalkan.
Terima kasih banyak untuk teman-teman yang setia membaca part demi part juga like, komen dan vote.