
Sejak memasukkan gugatan cerai, ponselku hampir selalu berbunyi. Siapa lagi kalau bukan Danang.
Seperti pagi ini, saat aku bersama Dewa tengah menikmati sepiring bubur gudeg dengan suwiran ayam kampung dan sambel krecek, ponselku berbunyi nyaring. Kuabaikan setelah tahu bahwa Danang yang menelepon. Namun ternyata Danang pantang menyerah. Dia menghubungiku lagi berkali-kali. Akhirnya aku menyerah mengangkatnya, aku berjalan menjauh dari Dewa yang masih menghabiskan buburnya.
"Ada apa lagi, Mas?"
"Pakdhe sudah telepon kamu?"
"Sudah. Kenapa?"
"Kamu kalau sayang Dewa seharusnya mencabut gugatan dan kita bersama-sama membuka usaha dari modal yang dijanjikan Pakdhe."
"Ini poinnya kayaknya di modal dari Pakdhe deh. Ya kan?"
"Wajar kan? Jaman sekarang realistis aja deh. Hidup butuh uang. Nyari modal segitu kan ga mudah, Na."
"Jadiiiiii, sebenarnya kamu nggak mau cerai tuh karena apa? Jujur aja deh."
"Ya aku nyesel udah sia-siakan istri sebaik kamu."
"Masa??? Terus kalau kamu nyesel, apa yang akan kamu lakukan?"
"Yaa, aku pengen kita rujuk, kamu cabut gugatanmu, lalu kita usaha bareng pakai modal yang diberikan Pakdhe."
"Kamu nggak pengen kerja?"
"Aku pengen usaha aja. Jadi kamu mau kan cabut gugatan dan kita rujuk?"
"Enggak. Menurutku kamu maunya rujuk karena mengharapkan modal usaha dari pakdheku. Rasa penyesalanmu itu sebenarnya karena mulai merasakan kehilangan sumber uang. Sudah jelas ya. Bagaimanapun kamu merayu, aku tidak akan mencabut gugatanku." Gegas aku mematikan panggilan sepihak karena kulihat Dewa sudah selesai makan.
Baru saja hendak duduk, ponselku berbunyi lagi. Dengan enggan, kuambilnya dari dalam tas.
Abang...
"Pagi Bang..."
"Pagi Dek... Sibuk nggak hari ini?"
"Mmm, aku kerja Bang.."
"Bisa ketemu nanti siang, Dek?"
"Pas jam makan siang ya, Bang?"
"Boleh. Mau abang jemput dimana Dek?"
"Kita ketemuan aja di rumah makan, Bang."
"Kenapa dek? Malu abang jemput?"
__ADS_1
"Bukan gitu, Bang."
"Ah ya sudahlah terserah adek saja. Kita makan di rumah makan ikan bakar ya."
Tanpa menunggu jawabanku, Bang Rico mematikan panggilannya.
"Huft, sepertinya dia lupa, aku bukan siapa-siapanya lagi." lirihku dalam hati.
Jam makan siang aku langsung menuju ke rumah makan yang dimaksud dengan mengendarai motor kesayanganku. Rupanya Bang Rico sudah sampai sana. Tumben, pikirku.
"Maaf, aku terlambat ya?" tanyaku sembari melirik jam setelah melihat beberapa menu yang sudah tersedia di hadapannya.
"Enggak kok, dek. Abang sengaja memesan sebelum adek datang. Biar nggak membuang waktu banyak."
"Makasih, Bang..."
"Sama-sama."
"Kita makan dulu ya baru nanti ngobrol."
Kami makan dalam diam. Baik aku maupun Bang Rico sama-sama tidak ada yang membuka percakapan. Aku memilih menikmati suapan demi suapan sembari mengamati suasana rumah makan siang ini, karena posisiku strategis untuk mengamati aktivitas di restoran ini.
"Rasanya masih sama ya Dek?" tanya Bang Rico setelah menghabiskan makanannya.
"Iya, Bang." jawabku singkat. "Namun kita yang sudah tidak lagi bersama." lirihku dalam hati.
"Adek sudah resmi cerai?" seperti biasa, selalu to the point, tanpa basa basi.
"Sudah yakin, dek?"
"Aku seperti sedang ditanyai oleh pengacara." ujarku masih dengan tersenyum tipis.
"Maaf. Maksud abang, perceraian itu berat lho dek. Apalagi stigma negative yang akan melekat pada adek."
"Iya. Sudah kupikirkan matang-matang, Bang."
"Dek, abang boleh jujur?" tanyanya sambil menggenggam tanganku.
"Silahkan." jawabku menikmati genggaman tangannya. Ternyata masih ada getaran halus sama seperti dulu.
"Abang masih cinta sama adek."
"..." aku menarik nafas dalam. Entah harus menjawab apa.
"Tapi, kita nggak akan bisa bersama. Karena orangtua abang tidak akan mengijinkan abang menikahi adek. Terkait status adek yang sudah pernah menikah terlebih sudah memiliki anak. Bagi orangtua abang, pernikahan hanya terjadi sekali seumur hidup. Apapun alasannya, perceraian tidak diperbolehkan. Pernikahan kedua setelah perceraian akan dianggap zinah dan tidak diakui."
Dua butir airmata menetes tanpa bisa kutahan. Segera aku menunduk dan menarik tanganku yang sedari tadi masih digenggam oleh Bang Rico. Namun Bang Rico tidak mau melepaskannya, justru digenggamnya lebih erat.
"Maaf, abang nyakitin adek lagi. Membuat adek nangis, lagi."
__ADS_1
"Menangis hal yang wajar dan manusiawi kan Bang? Jangan dianggap berlebihan, toh aku hanya sekedar masa lalumu." Kugigit bibir bawahku setelah berkata demikian.
"Abang harap, kita masih bisa berhubungan baik. Semoga adek bisa mendapat laki-laki yang lebih baik dari abang."
Enggan berbasa-basi lagi, aku berdiri, bermaksud segera pergi dari situ.
"Aku pulang dulu, Bang. Terima kasih undangannya siang ini."
Tepat saat aku selesai pamit, sebuah suara yang sangat familiar terdengar di telingaku.
"Dek..."
Aku memutar tubuhku berbalik ke arah si pemilik suara yang memanggilku. Bang Rico pun langsung berdiri.
"Aa kok disini?"
"Iya, baru tadi pagi sampai kota ini. Adek sama siapa? Makan sama aa yuk."
"Kebetulan Nala sudah makan dengan saya. Ohya perkenalkan, saya Rico, calon suami Nala."
Kulihat a'Ardan melengos, walau tetap menerima uluran tangan Bang Rico untuk menjabatnya.
"Calon suami ya? Bukannya mantan pacar? Baru jadi calon suami kok sudah bikin Nala menangis."
Aku tertunduk mendengar penuturan a' Ardan.
"Ya Tuhan, jangan begini dong skenarionya. Bisa pecah perang kalau begini." aku bermonolog dalam hati.
Entah apalagi yang mereka perdebatkan, aku enggan mendengar. Aku memilih untuk diam dan menunduk. Bukan tidak bisa bersikap, namun aku sudah cukup lelah dengan semua hal yang terjadi dalam hidupku. Bahkan ucapan Bang Rico tadi masih terasa perih menusuk hati.
Bang Rico tiba-tiba merangkul pundakku.
"Ayo sayang kita keluar dari sini."
Setengah memaksa, Bang Rico mengajakku ke arah pintu keluar.
"Dek.." a'Ardan memanggilku.
"Adek pulang dulu ya, a'." Aku menjawab dengan senyum. Berharap kali ini dia dapat mengerti dan berhenti memperkeruh keadaan mentalku.
Lalu kuikuti saja langkahnya karena toh aku juga harus segera kembali ke kantor.
Sesampainya di tempat parkir.
"Aku bawa motor. Terima kasih sudah diantar sampai tempat parkir." kataku sambil terus mempercepat langkah menuju motorku terparkir.
"Kuantar sampai kantor, Dek." Bang Rico menyusul langkahku.
"Nggak usah, Bang. Nanti kalau ada teman kantor yang lihat dan bertanya, aku akan bingung menjawabnya. Masa kujawab, abang adalah mantan pacarku yang katanya sekarang masih mencintaiku namun tetap mundur karena statusku yang janda dengan seorang anak. Begitu bang?"
__ADS_1
Bang Rico tampak terkejut mendengar ucapanku. Namun sebelum Bang Rico menjawab, segera kularikan motorku menjauhinya.
"Selamat tinggal, masa lalu." ucapku lirih sembari melirik Bang Rico melalui spion. Dua bulir airmataku kembali menetes, namun kali ini aku tidak berniat untuk menghapusnya. Bahkan kubiarkan airmataku terus mengalir sepanjang perjalanan. Karena bagiku, terkadang rasa sakit harus dinikmati, agar kelak ketika bahagia datang kita dapat mensyukurinya.