Janitra

Janitra
Bab 43


__ADS_3

"Kamu lagi dekat sama siapa memangnya?" tanya Mas Adit saat mengembalikan ponselku.


"Kamu nggak tau itu nomor siapa?" bukan menjawab pertanyaannya, aku justru bertanya balik pada Mas Adit.


"Enggak. Aku gatau." jawabnya singkat.


"Kukira itu nomor pacarmu."


"Bukan. Nomor dia bukan itu."


Aku menarik napas lega mendengar jawabannya.


"Ya sudahlah, paling orang salah kirim pesan."


"Kalau penasaran, kenapa nggak kamu temui saja?"


Mas Adit berjalan di sampingku. Anak-anak sudah tampak lelah, kami berencana mengisi perut dengan bekal kroket dan donat yang kubuat. Setelah menemukan tempat yang pas, aku membuka bekal dan memberikannya pada Dewa dan Ocha masing-masing satu lalu kusodorkan juga pada Mas Adit membiarkannya memilih sendiri.


Tak terasa matahari bersinar semakin terik. Anak-anak mulai tampak lelah dan mengantuk.


"Kita pulang ya?" tawarku pada Dewa.


"Iya. Aku ngantuk, Bun." jawabnya sambil menguap.


"Aku juga ngantuk." Ocha juga ikut menguap.


Aku dan Mas Adit mengarahkan kaki menuju mobil.


Seperti biasa, Mas Adit akan mengantarkanku dan Dewa terlebih dahulu, namun sesampainya depan kostku Ocha memelukku erat.


"Aku mau ikut Dewa." rengeknya sambil terus menahanku untuk tidak turun dari mobil.


Aku menatap Mas Adit bingung. Seperti menangkap sinar mataku yang kebingungan menghadapi Ocha, Mas Adit mencoba mengurai pelukan Ocha.


"Besok minggu main bareng lagi. Sekarang kita pulang dulu ya. Dewa juga mau tidur siang dulu."


"Nggak...aku mau tidur siang disini." mata Ocha mulai berkaca-kaca, bibirnya bergetar menahan tangis.


"Ya udah ayo kita cuci kaki, tangan, ganti baju terus bobok sama aku dan Bunda." Dewa menarik tangan Ocha.


Aku dan Mas Adit berpandangan.


"Ya sudah biar tidur siang sama aku ya Mas? Nanti sore tolong dijemput." putusku kemudian yang lalu diiyakan oleh Mas Adit.


Siang itu jadilah kami tidur bertiga, aku di tengah, Ocha berada di sebelah kiri dan Dewa berada di sebelah kananku.


Aku terbangun setelah terlelap entah berapa jam sementara mereka masih terbuai dalam mimpi. Aku berjingkat keluar kamar setelah mengambil ponselku dalam tas. Beberapa pesan masuk, lagi-lagi ada pesan dari nomor itu lagi.


[Masih saja berani mendekati pacarku. Dasar murahan! Apa tidak laku dengan pria lajang?]


[Kau ajak kemana pacarku sampai dia nggak mau angkat teleponku?]


[Besok temui aku di taman kota! Akan kuberi pelajaran biar kamu tahu rasa!]


"Hey ngapain ngelamun disini?" Fadli yang entah datang darimana tiba-tiba sudah berada di depanku.


"Eh, ini habis ngecek pesan masuk."


"Hari minggu, nggak kemana-mana?" Fadli menarik sebuah kursi plastik dan meletakkannya di depanku, jadi posisi kami berhadap-hadapan.


"Sudah tadi ke kebun binatang."

__ADS_1


"Padahal aku rencana mau ajak kamu sama Dewa jalan sore ini."


Aku tersenyum menanggapinya.


"Atau nanti kita makan malam yuk?" sambungnya lagi.


"Aku rencana mau masak untuk makan malam, Mas." tolakku secara halus.


"Oke. Kapan-kapan boleh kan mengajakmu keluar? Sekedar jalan atau makan."


"Lihat besok lah Mas. Kalau pas nggak capek mungkin ya."


"Na, boleh kan kapan-kapan kuajak kamu dan juga Dewa jalan-jalan atau makan di luar?"


Jawabanku rupanya tidak memuaskannya. Fadli memegang tanganku, lalu menatapku tajam. Kuhembuskan nafas sebelum menjawab pertanyaannya.


"Iya, boleh."


"Nah gitu dong."


"Aku sambil masak ya."


"Masak apa?"


"Soto ayam, sama perkedel kentang."


"Wah kesukaanku. Sini kubantu."


Aku berjalan menuju kulkas milik umum yang memang disediakan untuk seluruh penghuni kos ini. Kuambil stok ayam yang kubeli dua hari lalu. Untuk bumbu-bumbu dan kentang kusimpan di bawah meja kompor.


Fadli mengambil pisau dan bawang lalu mulai mengupasnya sementara aku merebus ayam. Walau belum cekatan namun kuhargai usahanya untuk membantuku mengupas.


"Kamu asli mana Nala?" Fadli bertanya untuk mencairkan suasana.


"Asli Padang."


"Wah jauh juga ya."


"Iya, ladang rejekinya disini, siapa tau dapat istri orang sini juga." jawabnya terkekeh.


"Amin. Kamu kerja di cafe mana?"


"Aku nggak di cafe, Nala. Aku kerja di Bank."


"Oh kukira di cafe juga, soalnya mayoritas penghuni kos tengah kan kerja di cafe."


"Aku kan bukan penghuni kos sini."


"Oh, maaf." aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.


"Temanku banyak disini. Jadi aku sering kesini karena kesepian di rumah sendirian. Ohya rumahku di belakang kos ini. Gubug sih lebih tepatnya. Hahaha."


"Aku mau bikin kopi. Kamu mau sekalian?"


"Boleh. Sesekali icip kopi buatan Nala." Fadli menjawab sambil mengedipkan satu matanya.


Kuambil dua cangkir, kutuangkan kopi dan gula sesuai seleraku lalu kujerang dengan air mendidih.


Sambil menunggu kopiku tidak terlalu panas, kulanjutkan menggoreng ayam untuk kusuwir-suwir nantinya. Sementara Fadli menghancurkan kentang yang sudah kugoreng tadi.


"Kopi buatanmu enak. Pas, sesuai seleraku."

__ADS_1


Aku hanya tersenyum karena komentarnya membuatku tertarik ke sebuah masa.


[Flashback ON]


"Mau minum apa Bang?"


"Kopi saja dek. Tapi boleh pesan sesuai seleraku, Dek?"


"Gimana tuh bang?"


Bang Rico mengikutiku ke dapur, menuangkan kopi dan sedikit gula lalu menjerangnya dengan air mendidih.


"Nah ini yang pas. Dihafalkan ya, Dek. Karena ini yang harus selalu kamu sajikan untukku, kelak, ketika kamu sudah menjadi istriku."


Aku mencicipinya sedikit, ternyata aku juga menyukai rasanya. Kopi hitam dengan rasa manis yang samar, dominan pahit - khas dari kopi.


"Enak kan? Ini baru kopi yang nikmat. Tidak banyak gula, krimer apalagi kental manis."


Aku mengangguk menyetujui ucapannya. Kopi ini memang enak. Sejak saat itu, akupun menyukainya. Setiap ada kesempatan, aku selalu menikmati kopi dengan citarasa kesukaan Bang Rico. Terlebih di saat aku down, atau aku merasa sendiri. Entah memang karena kopi membuat moodku membaik, atau kenangan tentang Bang Rico yang membuatku kuat lagi.


[Flashback OFF]


Tepat saat soto, dan perkedel kentang matang, Ocha dan Dewa terbangun dan mencariku.


"Bunda..." lirih Ocha mencariku.


"Ya sayang. Sini, makan yuk. Ada soto dan perkedel kentang."


"Enak nggak?" tanyanya sambil mengerjapkan mata yang masih tampak mengantuk.


"Enak banget masakan Bunda. Ayo kita makan bareng." Dewa menjawab antusias sebelum aku sempat menjawab.


Kuambil dua mangkuk kecil, kuisi nasi, tauge rebus, soun, irisan telur rebus, suwiran ayam lalu kusiram kuah soto dan kuberi perkedel sebagai pelengkapnya.


"Ini, dimakan ya sampai habis."


"Siap Bunda." Ocha mengangkat dua ibu jarinya dengan mata berbinar.


Aku keluar kamar lagi, ternyata Mas Adit sudah sampai.


"Mas, kusiapkan soto ya? Ocha sama Dewa juga lagi makan. Nanti selesai makan baru mau kumandikan."


"Boleh. Ada sambal kan?"


"Ada dong."


Segera kuracik tiga porsi soto untukku, Mas Adit dan Fadli sambil sesekali mencuri dengar percakapan Fadli dan Mas Adit.


***


"Na, Nala..." Sita berteriak memanggilku.


Kuurungkan menyuapkan nasi goreng bekalku hari ini.


"Kenapa? Nggak jadi beli makan?"


"Enggak... Anu, ada yang nyari kamu." ucapnya tergesa.


"Siapa sih?"


Terpaksa aku menutup kembali kotak bekal berisi nasi goreng, telor mata sapi setengah matang dan nugget. Mirip bekal anak sekolah, namun ini salah satu bekal favoritku. Kuikuti Sita ke depan kantor.

__ADS_1


"Hah? Ngapain sih kesini segala?" gumamku sambil menepuk jidat setelah melihat siapa tamu yang mencariku.


Kutarik nafas panjang, kuhembuskan perlahan. Kulakukan berkali-kali sampai aku merasa tenang untuk menemuinya sementara Sita menatapku dengan tatapan yang tak bisa kuartikan.


__ADS_2