Janitra

Janitra
Bab 66


__ADS_3

Kurebahkan tubuh di samping a'Ardan. Sebuah kecupan hangat mendarat di bibirku, kubalas dengan lembut. Deru nafasnya terdengar semakin tak beraturan.


Hujan terdengar semakin deras, seolah menjadi alunan pengantar tidur.


***


Aroma kopi dan nasi goreng menyeruak masuk ke penciuman, mengusik tidurku.


"Pagi, dek..."


"Jam berapa ini a'? Aduh aku kesiangan."


"Sesekali bangun siang di hari minggu, nggak apa-apa kan dek?"


"Iya, tapi nggak enak sama Mama."


"Ini Mama udah bikin nasi goreng buat kita. A'a tadi udah sarapan bareng Mama. Yuk bangun, sarapan dulu."


Kuambil segelas air putih yang semalam kusiapkan di nakas, kuteguk hingga tandas lalu kukembalikan lagi gelas itu pada tempatnya semula.


"Aroma kopinya menggoda sekali."


"Sama seperti aroma adek, selalu menggoda." a'Ardan menjentik hidungku.


"Adek ngopi aja a', belum terlalu lapar."


"Kopi buat a'a, adek jus tomat sama nasi goreng."


"Lho, bukan untukku?"


"Bukan, sayang. Nanti agak siang baru boleh ngopi."


Kuambil sepiring nasi goreng yang disodorkan oleh a'Ardan. Lalu menyuapkannya sesuap demi sesuap.


"A'a hari ini mau kumasakin apa?" tanyaku berhati-hati.


"Dek, setelah menikah, adek ikut a'a kan? Nggak menetap di Jogja lagi kan?" Bukan menjawab pertanyaanku, a'Ardan justru memberiku pertanyaan.


"Iyalah a'. Adek ikut kemana a'a tinggal."


"Secepatnya kita menikah ya dek..."


"Iya a'. Lalu hari ini a'a mau kumasakin apa?" kuulangi lagi pertanyaanku.


"Terserah adek sama Mama aja mau masak apa."


"Ya sudah, adek mandi dulu terus mau nemuin Mama ya a'."


"Iya dek... A'a keluar nemenin Mama ngobrol dulu ya. A'a tunggu di luar."


***


"Na, ada yang cari tuh di depan." Sony memberitahu.


"Oke, makasih yaa..."


Segera kuberesi mejaku, toh memang waktunya pulang.


"Sory ya nunggu lama."


"Santai aja..."


"Ngobrol di kontrakan atau cari tempat makan?"


"Mana aja boleh..."


Aku menaiki mobil Mas Adit yang terparkir di halaman kantor.


"Jadi mau kemana?"


"Cari makan aja sekalian yuk."

__ADS_1


"Boleh..."


"Na, aku kemarin ketemu Dewa." ucap Mas Adit setelah kami memesan makan dan minum.


"Gimana kondisinya, Mas?" tanyaku antusias.


"Baik. Dia nanyain kamu."


"Aku kangen..." ujarku menerawang.


"Mau kujemput?"


"Dewa? Bisa?"


"Kata ibu panti, boleh kok aku yang jemput. Pakai surat dari kamu tapi."


"Habis ini kita mampir bikin suratnya dulu boleh, Mas?"


"Iya."


"Makasih ya, Mas. Maaf aku selalu merepotkanmu."


"Engga repot kok. Kayak sama siapa aja."


Jam menunjukkan pukul tujuh malam saat aku sampai di rumah. Kuambil ponselku di dalam tas yang sedari tadi kuabaikan. Beberapa notifikasi panggilan tak terjawab dan pesan tampak di layar utama. Belum membukanya saja aku sudah tahu, siapa yang menghubungiku. Tak perlu menunggu lama, gawaiku kembali berdering. Kali ini segera kuangkat.


"Malam, a..."


"Dimana? Daritadi kemana?"


"Di kontrakan. Tadi pergi sebentar sama teman."


"Temanmu punya nama nggak?"


"Mas Adit."


"Hmm..."


"Maaf tadi nggak bilang dulu."


Kutepuk jidatku perlahan, aku benar-benar lupa saking bahagianya besok akan bertemu dengan Dewa.


"Malam ini adek nginap di kontrakan boleh?"


"Ada siapa di kontrakan?"


"Mulai lagi... Ya sudah adek sebentar lagi pulang ke rumah."


"Terserah."


Lalu panggilan diputuskan sepihak dan aku hanya bisa mengelus dada.


Setengah jam kemudian, aku sudah berada di rumah a'Ardan.


"Ma, maaf kemaleman." ucapku sembari mencium punggung tangan Mama Euis.


"Iya Na, lembur ya. Bebersih dulu, terus kita makan dulu. Mama masak soto ayam."


Segera kuiyakan ajakan Mama Euis karena soto ayam buatannya memang kesukaanku. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, kutemui Mama Euis yang sudah menunggu di ruang makan dengan dua mangkuk soto lengkap dengan perkedel, kerupuk, sate ati dan juga sambal.


"Minum dulu, Na." Mama Euis menyodorkan segelas air putih hangat untukku.


"Makasih, Ma..." kuterima gelas berisi air putih hangat yang disodorkan Mama Euis lalu segera kuminum hingga tandas.


"Ma, besok Nala kerjaan di luar kota. Jadi mungkin beberapa hari ke depan, Nala nggak pulang. Mama nggak apa-apa kan sendiri?"


"Mama nggak apa-apa sayang. Besok pagi Mama siapkan keperluanmu ya."


"Nggak usah Ma, biar Nala aja."


"Nggak apa-apa. Ohya, sudah bilang ke a'a?"

__ADS_1


"Nanti malam Nala bilang a'a, Ma."


"Ya sudah ayo cepat habiskan makannya lalu istirahat. Jangan lupa minum vitamin."


"Makasih Ma."


Tepat pukul sepuluh malam, ponselku berdering menandakan sebuah panggilan masuk. Seperti biasa, setiap malam a'Ardan menghubungiku lalu kami akan berbagi cerita tentang apapun yang kami lalui seharian.


"Malam a'."


"Sampai rumah jam berapa tadi?"


"Sekitar jam delapan kurang, terus makan malam bareng Mama."


"Hmm..."


"A'a sudah makan?"


"Udah. Barusan selesai makan nasi goreng."


"A'a, besok adek nggak nginep dulu ya? Adek di kontrakan dulu ya?"


"Ada apa di kontrakan?"


"Besok Dewa mau kubawa pulang dari Panti."


"Hanya itu? Kenapa nggak ajak Dewa ke rumah saja? Toh Mama juga tahu."


"Belum saatnya, a'. Boleh ya a', adek beberapa hari nggak tidur disini?"


"Sampai kapan?"


"Belum tahu, a'."


"Aku capek, mau istirahat dulu. Besok kuhubungi lagi."


Lagi-lagi panggilan diputus sepihak. Kuhembuskan nafas dengan kasar sebelum kumatikan daya ponselku dan merebahkan tubuhku yang lelah.


***


Sepulang kerja aku bergegas pulang ke kontrakan untuk membersihkan rumah walau sekedarnya saja, karena Mas Adit mengabari bahwa sudah dalam perjalanan menuju kontrakanku.


Benar saja, selesai aku mengganti seprei dan mengepel lantai, mobil Mas Adit memasuki halaman rumah. Tak lama kemudian Mas Adit turun dannggendong Dewa yang tampak bingung.


"Dewa... Ini Bunda."


Dewa terpaku di depan pintu sekian detik sebelum menghambur ke pelukanku.


"Bunda kangeeeeeennn, Nak."


"Dewa juga kangen Bunda..."


Mas Adit membiarkan kami saling melepas rindu.


"Makasih ya Mas." ucapku pada Mas Adit setelah mengurai pelukanku pada Dewa.


"Sama-sama. Aku pulang dulu ya. Kalau ada apa-apa jangan sungkan hubungi aku."


"Terima kasih banyak, Mas."


Kuantarkan Mas Adit sampai mobilnya menghilang di ujung gang.


"Bunda, kita tinggal disini?"


"Iya, yuk masuk. Kamu pasti suka deh tinggal disini."


"Iya Bunda, sepertinya nyaman. Kita disini tinggal berdua saja Bunda?"


"Iya. Kita berdua. Ya sudah ayo kita mandi lalu cari makan malam. Mau makan apa?"


"Ayam goreng krispi, Bun."

__ADS_1


"Wah boleh tuh. Yuk siap-siap dulu."


Semburat lembayung senja tampak indah sore ini. Hidupku kembali lengkap dengan pulangnya Dewa ke pelukanku. Lirih kuberjanji dalam hati, takkan kubiarkan Dewa terpisah lagi dariku. Aku sekarang sudah mendapat pekerjaan tetap dengan gaji yang cukup untuk hidupku berdua bersama Dewa.


__ADS_2