
Satu bulan berlalu, hubunganku dan Mas Rio kembali baik-baik saja. Setiap hari mengantar dan menjemputku dan Dewa. Sepintas memang orang melihatnya, kami harmonis. Tidak pernah ada pertengkaran yang berarti yang kami tampilkan. Mas Rio selalu memperlakukanku dengan baik. Bukan hanya denganku saja, namun juga dengan Dewa. Namun, dalam hatiku mulai ada setitik ragu pada Mas Rio walau sejauh ini aku tidak menemukan bukti apapun untuk membuktikan kecurigaanku. Jadilah semua kupendam sendiri dalam-dalam.
Malam minggu, seperti biasa kuhabiskan berkumpul dengan teman-teman kost. Kebetulan Dewa tidur cepat malam ini, kecapekan sepertinya.
"Wih rame nih tumben." Fadli yang baru datang, langsung duduk di kursi sebelahku yang memang masih kosong.
"Tumben kesini Bang?" tanya Santi pada Fadli namun melirikku dengan senyum.
"Iya, bosen aja di kost. Lama kan nggak kumpul disini. Kangen juga."
"Oh kangen..." celetuk Mega.
"Nala apa kabar?" Kali ini Fadli bertanya padaku.
"Baik, Bang. Abang sehat kan?"
"Sehat cuma emang lagi agak sibuk akhir-akhir ini."
Tak lama, Mas Adit tiba-tiba menghampiri dan menepuk pundakku.
"Na..."
"Eh, Mas..." spontan aku berdiri.
"Laper...beli makan yuk." ajak Mas Adit.
"Aku temani ya Bang Adit?"Mega menawarkan diri namun buru-buru ditolak oleh Mas Adit. Kulihat ada raut kekecewaan yang terpancar.
"Sory ya. Ada yang mau kuobrolin sekalian sama Nala soalnya tentang sekolah anak-anak." Mas Adit segera memberi alasan yang menurutku cukup masuk akal.
Kuikuti langkah mas Adit menuju mobilnya yang terparkir di depan kos.
"Mau makan dimana Mas?"
"Mana aja lah. Sate mau nggak?"
"Boleh. Tapi aku pakai daster gini nggak apa-apa?"
"Kamu nyaman nggak?"
"Nyaman sih. Kamu malu ga?"
"Engga lah. Lagian pake jaket juga. Yaudah langsung ke sate ya."
Mas Adit menjalankan mobilnya ke warung sate langganan kami yang tidak jauh dari kostku.
"Na, Ocha kangen kamu sama Dewa."
"Diajak main ke kos lah mas."
"Ingat percakapan dan permintaan anak-anak waktu itu?"
"Ingat." Kebetulan aku langsung paham yang dimaksud.
"Aku sering dengar dia berdoa untuk itu."
__ADS_1
"Mas nggak mau cari pengganti?" tanyaku berhati-hati.
"Nggak semudah itu, Na. Saat ini aku dekat dengan seseorang sih. Tapi entahlah."
"Masih cinta sama dia ya?"
"8 tahun bersama, untuk melupakannya juga nggak bisa semudah itu."
"Semoga segera mendapat yang terbaik untuk kalian ya, Mas." doaku tulus pada lelaki bertattoo di sampingku.
"Makasih, Na. Kamu mau ayam atau kambing? Kita makan di mobil saja ya?" ucap Mas Adit sambil melirik dasterku.
"Ayam saja ah. Pake lontong ya Mas, tapi setengah saja."
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam saat Mas Adit memarkirkan mobilnya di depan kostku kembali.
"Makasih ya mas, traktirannya."
"Makasih juga nemenin ngobrol sambil makan ya, Na."
"Yuk turun, kubikinin kopi."
"Eh Na, mumpung inget. Bossmu sudah beristri ya?"
"Kenapa memangnya, Mas?"
"Beberapa kali lihat dia sama perempuan. Gesturnya sih bukan hanya sekedar teman atau saudara. Kamu nggak pacaran sama dia kan? Kalau pacaran, coba deh cari tahu lagi."
"Iya Mas. Makasih sudah diingatkan."
Dua gelas kopi hitam kusiapkan untukku dan Mas Adit. Otakku terus mencerna ucapan Mas Adit. Sedari awal memang aku merasa ada yang disembunyikan oleh Mas Rio di balik sikap peduli dan penuh kasih sayangnya. Namun sampai saat ini aku masih belum bisa menemukan bukti yang menguatkan kecurigaanku.
"Masih lama ngelamunnya?"
Suara Mas Adit mengejutkanku.
"Eh Mas, ini bentar lagi."
"Mikir apa? Omonganku tadi?"
"Engga kok, Mas."
Mas Adit memicingkan mata, seolah mencari kejujuran dari tatapanku.
"Ini kopinya, Mas. Nitip sekalian ya? Aku mau ke kamar mandi dulu."
Kuserahkan dua gelas kopi hitam yang masih mengepulkan uap panas pada Mas Adit.
Selesai dari toilet, aku kembali bergabung dengan Mas Adit dan beberapa teman.
"Kadang kalian mikir nggak sih, masa depan kita gimana?" Mega yang sedari tadi diam tiba-tiba membuka suara.
"Mikir lah. Aku sih lulus kuliah, cari kerja, jalani hidup sebaik-baiknya, kalau udah mapan, nikah deh." Yusak menjawab dengan optimis.
Sementara yang lainnya hanya diam saling bertukar pandang.
__ADS_1
"Kamu kenapa tiba-tiba nanya gitu?" Bang Fadli akhirnya bertanya pada Mega.
"Capek Bang, hidup kayak gini. Pengen juga kayak perempuan lainnya. Punya suami, anak, ada yang nafkahi dan hidup bahagia. Tapi apa mungkin ada laki-laki baik yang mau menikahi perempuan seperti aku?"
"Lagi jatuh cinta sama siapa kamu? Tiba-tiba ngomong gini. Yakin ada laki-laki baik di dunia ini? Udahlah, pikir aja gimana keluargamu bisa makan, bayar hutang, adik-adikmu sekolah, jadi orang sukses. Aku juga mikir masa depan anakku sama orangtuaku. Kehidupan mereka harus baik-baik saja. Di dunia ini, harus selalu ada yang dikorbankan untuk kebahagiaan orang lain. Biar aku yang berkorban, mereka harus bahagia." Santi berkomentar.
"Masih ada kok laki-laki baik. Mulai hidup yang lebih baik aja dulu. Siapa tau nanti Tuhan kasih laki-laki baik juga untuk kamu." Fadli berbicara dengan suara lirih, seolah tidak yakin dengan apa yang dia ucapkan.
"Mulai hidup lebih baik? Maksudnya, berhenti bekerja seperti ini? Kerja apa yang bisa mencukupi semua kebutuhan orangtua dan adik-adikku? Sementara aku nggak punya keahlian apapun, mana mungkin ada yang mau nerima aku bekerja dengan gaji lumayan?" Mega berkata lirih dengan suara bergetar.
"Udah, jalani aja hidup yang sekarang. Tuhan tau kok, kita gini juga karena tuntutan hidup, bukan untuk foya-foya hidup mewah. Bermimpi itu boleh, tapi jangan pernah berharap mimpi tentang laki-laki baik, setia, tanggung jawab dan menikahi kita akan menjadi nyata." Santi memeluk Mega dari samping.
"Sedalam apa lukamu, sampai tidak percaya ada laki-laki baik?" Fadli menatap tajam pada Santi.
"Kalian, para laki-laki, yang ada di otak kalian hanya sel*ngk*ngan. Nggak lebih. Suka lihat perempuan cantik, dekati kami mengatasnamakan cinta namun setelah bisa menaklukannya di atas r*njang, usai sudah rasa cinta kalian. Ya kan??" Santi menjawab setengah berteriak.
Mas Adit memberiku kode untuk menenangkan Santi dan Mega. Sementara Mas Adit memberi kode pada Fadli dan Yusak juga beberapa teman lain untuk mengabaikan ucapan Santi tadi.
"Yuk ke kamar, sudah larut malam, mulai dingin juga." aku menggamit lengan Santi dan Mega. Untung saja mereka mau mengikuti.
"Maaf ya Mbak, pertanyaanku merusak suasana." cicit Mega.
"Nggak apa-apa kok. Kamu nggak salah. Sekarang kalian istirahat dulu. Tenangkan hati, pikiran dan tubuh kalian dulu. Jangan takut akan masa depan. Serahkan pada Tuhan. Dia bisa mengubah kehidupan kita yang sekelam ini menjadi terang dan penuh sukacita. Tugas kita hanya melakukan yang terbaik, selebihnya urusan Tuhan."
"Mana ada p*lacur yang baik, Na?" ucap Santi skeptis.
"Seburuk apapun seseorang, bahkan p*lacur sekalipun, dia pasti memiliki sisi baik dalam dirinya. Tuhan tidak pernah tidur. Dia pasti memperhatikan baik dan buruk setiap umatNya."
Kupeluk Santi dan Mega menyalurkan kekuatan yang sebenarnya aku sendiri juga membutuhkannya.
Mas Adit mengetuk pelan pintu kamar Mega.
"Na, pulang yuk."
"Ya, Mas. Sebentar."
"Tinggal saja, Mbak. Kami nggak apa-apa kok." Mega meyakinkanku.
"Aku ke kamarku dulu ya? Kalau kalian butuh apapun, atau sekedar pengen cerita, ke kamarku saja."
"Makasih Na." lirih Santi yang kubalas dengan anggukan.
Kusejajarkan langkahku dengan Mas Adit, namun sampai di depan kamarku tak ada satupun dari kami yang membuka pembicaraan.
"Aku pulang dulu ya? Masuk sana. Istirahat."
"Ya, Mas. Makasih."
Mas Adit mengacak rambutku lalu berbalik untuk menuju kendaraannya yang terparkir di depan kost.
Kurebahkan tubuhku di samping Dewa, putraku semata wayang.
Malam semakin larut, namun pikiranku menerawang jauh. Dalam hati, sebenarnya kuakui ucapan Santi tadi ada benarnya karena akupun mengalaminya sendiri.
Kupejamkan mata, mencoba hilangkan segala pikiran yang berlari terlampau jauh dari kenyataan yang ada saat ini. Kucoba tenangkan diri dan ucapkan afirmasi positive, semua akan baik-baik saja. Hingga rasa kantuk menjemputku dalam hening dan membuaiku ke dalam mimpi indah malam ini.
__ADS_1